Berita

Peta Baru Aliran Karbon, Informasi Segar untuk Beraksi

Jembatani kesenjangan informasi stok karbon global
Bagikan
0
Potret udara Desa Nalma, Nepal. Foto oleh: Mokhamad Edliadi/CIFOR

Bacaan terkait

Hutan menjadi krusial bagi upaya global mencegah ancaman perubahan iklim. Sejalan dengan upaya komunitas global menyusun prioritas langkah menghadapi bencana, memetakan hutan mana yang menyerap dan kehilangan karbon – serta alasannya – merupakan bagian penting teka-teki.

Namun, hingga kini, data perolehan dan kehilangan karbon di hutan global terpecah dan beragam, yang berimplikasi serius pada pengambilan keputusan pemanfaatan lahan – skala lokal hingga internasional. “Saya pikir banyak kebijakan yang diambil dalam Perjanjian Paris [mengenai perubahan iklim] berdasarkan pada kumpulan data yang kurang lengkap, karena berasal dari inventarisasi gas rumah kaca nasional yang sering tidak lengkap,” kata Rosa Roman-Cuesta, mitra peneliti CIFOR dan peneliti tamu di Universitas Wageningen dalam sebuah wawancara. “Banyak negara tidak melaporkan seluruh aktivitas hutan dan kolam karbonnya. Ini mengarah pada inkonsistensi antara laporan negara dan pemodelan global dan observasi atmosferik – Tugas kita sebagai ilmuwan membantu menjembatani kesenjangan ini menuju pelepasan global UNFCC pada 2023.”

Roman-Cuesta dan tim ilmuwan dari CIFOR, NASA GoddardNlab Propulsi NASA Jet Propulsion LabKonsorsium BerkelanjutanUniversitas Maryland, Universitas & Riset Wageningen (WUR), Pusat Penelitian Iklim Wodwell dan Institut Sumber Daya Dunia (WRI), berharap bisa mengatasi kesenjangan ini dengan sebuah terobosan peta aliran karbon hutan global, yang baru saja dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change dan tersedia untuk publik dalam situs web Global Forest Watch. “Kita kini punya mata di mana pun untuk memonitor perubahan tutupan hutan dan stok karbon secara global,” kata Sassan Saatchi, ilmuwan utama Siklus Karbon dan Ekosistem di Lab Propulsi Jet NASA, salah satu penulis riset ini dalam sebuah rilis pers.

Tim menerapkan kombinasi pengukuran lapangan dan observasi satelit untuk pertama kalinya mendapatkan himpunan data estimasi aliran karbon hutan selama 2000 hingga 2019. Data ini memasukkan total kolam karbon yang terdapat di tiap hutan, termasuk biomassa atas dan bawah permukaan, puing, dan karbon tanah. “Makalah ini, dengan segala kekurangan yang mungkin ada, menawarkan data yang dapat diperbandingkan, lengkap dan konsisten di seluruh bioma hutan di bumi, dan hal ini memberi wawasan baru yang berharga lokasi titik penting untuk aksi hutan global,” kata Roman-Cuesta.

“Hal ini merupakan sesuatu yang bagi kami di komunitas pengindraan hutan jarak jauh menjadi tujuan selama bertahun-tahun, dan selalu menghadapi tantangan saintifik dan komputasi hingga saat ini,” kata Martion Herold, salah satu penulis, guru besar ilmu informasi-kebumian dan inderaja di WUR. “Ini peta paling terbarukan dan terperinci dari peta yang ada – hingga menjadi kontribusi global yang penting dalam memberi informasi lebih baik mengenai siklus karbon hutan, dan terkait fungsi hutan dan interaksinya dengan iklim.”

Para peneliti menemukan bahwa hutan global menyerap karbon dua kali lebih besar dibandingkan yang dilepas tiap tahun. Pelepasan karbon disebabkan, terutama oleh deforestasi dan degradasi. “Hutan bertindak seperti jalan raya dua jalur dalam sistem iklim,” kata Nancy Harris, salah satu penulis, Direktur Penelitian WRI dalam rilis pers. “Tegakan hutan menyerap karbon, menebang hutan melepas karbon ke atmosfer. Pandangan detail kedua peristiwa – emisi dan serapan karbon hutan – melengkapi transparansi pemantauan kebijakan iklim terkait hutan.

Misalnya, fakta bahwa 27 persen serapan bersih karbon hutan global berada di antara kawasan lindung menegaskan urgensi prioritas konservasi, kata Herold. Sementara, temuan bahwa hutan tropis di Asia Tenggara, secara kolektif menjadi sumber karbon – akibat penebangan untuk perkebunan, kebakaran, dan pengeringan lahan gambut – menggarisbawahi perlunya perhatian internasional terkait degradasi di wilayah ini, tulis penelitian ini.

Detail granular yang terdapat dalam peta memberikan peluang penting bagi pengembangan kebijakan dan pengambil keputusan untuk secara bijak memilih lokasi dan cara menangani hutan. “Banyak negara [saat ini] tidak memiliki tingkat detail seperti itu,” kata Herold. “Kini, mereka dapat memanfaatkan informasi ini untuk bertidak lebih terarah, dan bertanya: jika kita ingin mengurangi deforestasi, ke mana seharusnya kita menuju? Di mana titik penting emisi kita? Di mana kita perlu turun untuk aksi terkait iklim?”

Peta tidak hanya menggambarkan kejadian lepasnya karbon, tetapi juga penyebabnya: terdisagregasi atas kontribusinya terhadap produksi komoditas, pergeseran budi daya, penebangan atau kebakaran. Informasi tambahan ini akan membantu pengambil keputusan menentukan intervensi yang dibutuhkan, kata Roman-Cuesta: misalnya, solusi berbasis alam untuk pengendalian kebakaran akan cocok di wilayah dengan emisi yang muncul dari kebakaran, sementara emisi dari deforestasi bisa ditangani denagn menghindari konversi hutan dan regenerasi alami atau praktik reforestasi bersubsidi.

Ketika berbagai negara dan organisasi dunia bersiap untuk memperluas tutupan hutan, sejalan dengan berbagai inisiatif seperti Dekade Restorasi PBB dan Tantangan Bonn, penelitian ini bisa membantu mereka memutuskan alokasi lahan untuk perkebunan, agroforestri, regenerasi alam atau regenerasi terbantu, dengan potensi mitigasi karbon relatif masing-masing dan potensi terhadap kontribusi berbagai negara pada komitmen kontribusi nasional (NDC) Perjanjian Paris.

“Banyak negara menyatakan, ‘kita benar-benar tahu bagaimana melakukan penghitungan untuk NDC, karena kami tidak yakin berapa banyak karbon yang dilepas atau diserap hutan kami’,” kata Roman-Cuesta. “Nah, sekarang kita punya jawaban lebih baik. Dan pengetahuan itu akan berkontribusi pada mitigasi dan adaptasi [perubahan iklim], karena jumlah hektare yang dimasukkan dalam kategori tertentu akan berdampak pada keaneragaman hayati, air, dan jasa kunci lain.”

Terdapat pula implikasi tidak langsung terhadap pencegahan pandemi zoonotik. Dengan resolusi 30m, peta serapan dan emisi hutan membantu menavigasi bentang alam, yang cenderung terdegradasi, rusak atau terfragmentasi, dan “di area tersebut, peluang kontak satwa-manusia meningkat,” kata Roman-Cuesta. “dan berarti kita memperbesar peluang munculnya penyakit zoonotik. Zoonotik malaria adalah contoh di Asia.”

Aksesibilitas peta juga mendorong transparansi, kata Herold. “Masyarakat bisa melihat hutan di ‘halaman belakang’nya sendiri – begitu pula setiap orang – dan mengumpulkan situasi karbon hutan. Peta ini juga sangat detail secara lokal: kita mendapat tingkat detail yang sama jika kita melihat Basin Congo atau lokasi Amazon Brasil atau di Belanda.

Hal ini berarti warga yang peduli, organisasi lingkungan non-pemerintah, jurnalis, investor, dan pemangku kepentingan lain dalam mengakses data yang sama dengan pemerintah dan organisasi internasional, serta dapat digunakan untuk bertanya dan menyeru pemimpin global dan perusahaan swasta untuk bertanggung jawab.

“Kami berharap dengan tersedianya informasi yang terbuka, semua pemangku kepentingan yang perlu terlibat dalam melakukan perubahan transformasional dalam menangani perubahan iklim dan deforestasi, membantu restorasi dan solusi berbasis alam, dan seterusnya. Semua akan memiliki pemahaman yang sama,” kata Herold. “Jika kita memiliki tingkat informasi yang sama, masyarakat akan merasa nyaman untuk bergerak maju. Dan juga memiliki kepercayaan jika sesuai tidak tepat arah, disertai kesepakatan tertentu, dan disertai catatan dari jenis data yang kini secara reguler terperbarui dalam membantu menjejak aksi terkait hutan dalam tingkat detail spasial dan temporal yang tinggi.”

Kini dengan peta daring, para ilmuwan berharap bisa memperbarui secara reguler – setiap tahun, atau lebih sering lagi jika mungkin, kata Herold. “Jika kita meningkatkan level detail temporal sekarang, kita akan membuatnya lebih bisa diturunkan menjadi aksi, karena kita bisa benar-benar menjejak apa yang terjadi lebih cepat.”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Rosa Roman-Cuesta di rosa.roman@wur.nl.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org