Bagikan
0

Bacaan terkait

Istilah ‘karbon biru’ menyita perhatian dalam berbagai perundingan iklim global dan lingkaran kebijakan nasional. Apa artinya karbon biru, dan apa yang seharusnya kita lakukan?

Penelitian tengah dilakukan untuk mengungkap luasan karbon biru global, dan bagaimana melindungi ekosistem yang menyimpannya, agar dapat berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim.

Dalam rangka merayakan Hari Air Dunia pada 22 Maret, kami menelisik perkembangan ilmu pengetahuan karbon biru, dan apa saran yang diberikan terkait pengelolaan hutan, air, masyarakat dan perubahan iklim.

Apa itu karbon biru?

‘Karbon biru’ merujuk pada karbon yang diserap dan disimpan di dalam laut dan ekosistem pesisir. Disebut ‘biru’ karena terbentuk di bawah air.

Dalam hal ini termasuk pula karbon pesisir yang tersimpan dalam lahan basah pasang surut, seperti hutan pasang surut, mangrove, semak pasang surut dan padang lamun, di dalam tanah, biomassa hidup dan biomassa mati dalam kolam karbon. Hutan mangrove merupakan ekosistem kaya-karbon yang mampu menyimpan tiga kali lebih banyak karbon per hektar dibanding hutan terestrial.

Bila dilindungi dan direstorasi, dan materi organik terkunci dalam tanahnya, mangrove dan lahan basah sebagi ‘penyerap karbon’ yang efektif, menawarkan potensi besar dalam mitigasi perubahan iklim.

   Setelah dianggap 'lahan terlantar', mangrove semakin dihargai karena potensi mereka sebagai penyerap karbon biru. Foto CIFOR/Mokhamad Edliadi

Mengapa karbon biru penting?

Mengingat ekosistem karbon biru merupakan penyerap karbon yang efektif, mereka dapat berperan besar dalam mencapai target perubahan iklim nasional dan global.

Tegakkan hutan basah pesisir menyimpan karbon biru dalam jumlah besar. Sebaliknya, menggunduli lahan basah berarti melepas simpanan itu ke atmosfer. Oleh karena itu, manajemen ekosistem karbon biru yang baik menjadi penting agar berbagai negara dapat  melangkah maju dalam memenuhi komitmen kontribusi nasional Perjanjian Paris, yang merupakan salah satu tujuan iklim. Berbagai langkah dijalankan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 14, yaitu untuk “melindungi dan secara berkelanjutan memanfaatkan secara berkelanjutan samudera, laut dan sumber daya perairan.

Hingga saat ini, di banyak tempat, lahan basah dipandang sebagai ‘lahan sampah’, menunggu untuk dibersihkan untuk pembangunan. Namun, dengan makin jelasnya nilai ekosistem berbasis air ini bagi mitigasi iklim – belum lagi nilainya sebagai poin penting dalam negosiasi internasional, dan potensi nilai finansial – kebijakan berubah ke arah konservasi dan bahkan melakukan perluasan.

Hal ini memberi dampak lanjutan pada nilai-nilai yang belum terukur dengan baik dalam ekosistem ini, seperti kapasitas menyediakan habitat bagi spesies terancam di lahan dan air, meningkatkan kualitas air, dan melindungi area pesisir dari tsunami, badai dan erosi.

Di mana karbon biru dapat ditemukan?

Karbon biru tersimpan dalam kolam karbon laut terbuka, serta ekosistem lahan basah pesisir seperti mangrove. Saat ini, sedang diteliti distribusi dan luas pasti eksosistem karbon biru di dunia, khususnya di wilayah tropis.

Berbagi temuan baru yang bermunculan dari AsiaAfrika and Amerika Latin, menerangi sejumlah wilayah stok karbon lahan basah yang sebelumnya tak terpantau.

Inisiatif global tengah berlangsung untuk memetakan lahan basah dunia, termasuk ekosistem karbon biru seperti mangrove. Ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) bermitra dengan Departemen Kehutanan Amerika Serikan menjadi bagian dari Program Adaptasi dan Mitigasi Lahan Basah Lestari (Sustainable Wetlands Adaptation and Mitigation Program/SWAMP), memimpin upaya berbagi data dalam menyusun peta interaktif dalam jaringan internet.

Peta Lahan Basah Global merupakan sebuah alat untuk memetakan lahan basah, histosol dan stok karbon di seluruh dunia. Peta ini menggunakan kombinasi topografi global, data cuaca, citra satelit dan data penelitian lapangan yang terus diperbaiki oleh pengguna terdaftar.

Dengan menampilan data stok karbon secara spasial, peta ini dirancang untuk antara lain membantu mengidentifikasi area prioritas konservasi dan restorasi.

Bagaimana karbon biru dikelola?

Seperti jenis hutan lain, hutan berbasis air tempat karbon biru tersimpan bergantung pada tata kelola skala bentang alam terkait upaya menjaga nilai-nilai keragaman hayati, jasa lingkungan, pembangunan ekonomi, kesejahteraan manusia, dan lainnya.

Meski aspek biofisik ekosistem karbon biru telah menarik perhatian, detail tata kelola dan manajemennya relatif belum tereksplorasi.

Di Tanzania dan Indonesia, negara yang memiliki area hutan mangrove terbesar dunia, penelitian terbaru sebagai bagian dari program Global Comparative Study on Forest Tenure Reform (GCS-Tenure) yang dipimpin CIFOR menemukan, seperti di hutan terestrial, hutan mangrove sangat diuntungkan dari devolusi tenurial dan hak kelola untuk masyarakat lokal.

Ketika masyarakat lokal mendapatkan kepemilikan ekosistem karbon biru dan terlibat dalam pengelolaannya, mereka mendapat posisi lebih baik untuk melindungi ekosistem tersebut, seraya juga mendapat manfaat dari barang dan jasa yang dihasilkan.

Kedua penelitian ini menjadi alasan untuk memperluas dan memperkuat hak tenurial masyarakat lokal atas mangrove sebagai langkah pertama menuju manajemen berkelanjutan, konservasi dan mitigasi perubahan iklim.

   Pohon mangrove terlihat di pulau Osi, Kabupaten Seram Barat, Provinsi Maluku, Indonesia pada 25 Agustus 2017. Foto CIFOR/Ulet Ifansasti

Apa langkah berikutnya?

Sejalan dengan penelitian yang terus mengangkat urgensi karbon biru, proses kebijakan nasional dan global mulai memberi perhatian.

Pada 2015, sebuah Kemitraan Internasional untuk Karbon Biru (International Partnership for Blue Carbon/IPBC) didirikan pada Global Landscapes Forum di Paris, bersamaan dengan COP21. Pada 2016, ekosistem lautan dan pesisir ditambahkan pada agenda perundingan iklim global untuk pertama kalinya pada COP22. Pada 2017, konservasi dan restorasi lahan basah diakui sebagai kunci strategi berbasis alam dalam aksi iklim pada COP23.

Pada tingkat regional dan nasional, karbon biru juga mendapat momentum. Pekan ini tengah dilakukan pembicaraan di Perth, Australia pada Konferensi Karbon Biru Samudera India IORA, dan diikuti Pertemuan Tingkat Tinggi Karbon Biru pada Juli di Jakarta.

Anggota IPBC akan bergabung membahas mangrove dan karbon biru di Yogyakarta, Indonesia, beberapa pekan mendatang sebagai bagian dari Pertemuan Tingkat Tinggi Hutan Hujan Asia-Pasifik.

Dan sebagaimana ditunjukkan penelitian, sebagian besar upaya penting akan terjadi di tingkat tapak – kebijakan yang mendukung hak masyarakat lokal untuk mengelola dan memetik manfaat dari ekosistem lahan basah lah yang membuat perbedaan.

Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Daniel Murdiyarso di d.murdiyarso@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org