Berita

Biaya peningkatan karbon ekosistem

Upaya mitigasi terarah lebih mampu menjawab berbagai perbedaan bentang alam
Bagikan
0
Sampel tanah gambut di Riau, Indonesia. Penelitian terbaru menemukan tingginya variabilitas biaya peningkatan karbon ekosistem bentang alam dunia, termasuk lahan gambut kaya karbon. Deanna Ramsay/CIFOR

Bacaan terkait

Mempertinggi karbon organik yang disimpan dalam biomassa dan tanah sangat menjanjikan untuk membantu upaya mitigasi perubahan iklim. Namun, terdapat perbedaan yang besar dalam biaya peningkatan karbon ekosistem relatif terhadap skenario standar business-as-usual. Panel Perubahan Iklim Lintas-pemerintahan (IPCC) mengkategorikan biaya mitigasi berbasis lahan sebagai bagian dari kesenjangan pengetahuan.

Dalam dua dekade terakhir sejumlah penelitian mencoba memperkirakan biaya ini, namun hasilnya kontradiktif. Universitas Helsinki, Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Universitas Turku mencoba mempersempit kesenjangan pengetahuan ini dengan melakukan penelitian terkait ekologis hutan. Markku Larjavaara menggunakan pendekatan inovatif sederhana.

Tim melakukan 77 wawancara langsung dengan para pakar lokal mengenai biaya  peningkatan karbon ekosistem di 10 bentang alam dunia—Indonesia, Finlandia, Meksiko, Peru dan Tanzania. “Saya belum pernah melihat ada orang sekadar bertanya pada pakar terbaik mempertanyakan mereka yang tinggal di dalam atau di dekat bentang alam,” kata Larjavaara.

Para pakar lokal yang dipilih dengan saksama, mampu mengombinasikan informasi biokimia dengan pengetahuan mendalam mengenai konteks ekonomi dan sosial-politik dalam pemanfaatan lahan di wilayah mereka—sesuatu yang terkadang “menjadi kendala besar bagi ilmuwan non-lokal,” tulis penelitian ini.

PERBEDAAN KONTRAS

Mengikuti wawancara terstandarisasi, para peneliti menanyakan pandangan para pakar mengenai perubahan pemanfaatan lahan yang dipicu pembayaran hipotetis—subsidi tahunan sebesar 1 dolar AS dan 10 dolar AS untuk menambahkan satu ton karbon ekosistem. Mereka diminta mengasumsikan tata kelola yang baik dan distribusi lokal yang efisien dalam pendanaan karbon.

Untuk memperkirakan peningkatan karbon ekosistem melalui pendanaan itu, peneliti juga menyusun skenario standar (business-as-usual) berdasarkan perubahan pemanfaatan lahan dari 2015 ke 2045 yang telah diterima.

Jadi, apa temuan penelitian ini? Menurut Larjavaara, hasil utamanya adalah “variabilitas tinggi dalam biaya peningkatan karbon ekosistem bentang alam.” Biaya ini dipersepsi 16 hingga 27 kali lebih murah di dua bentang alam Indonesia yang didominasi oleh lahan gambut dibanding rata-rata delapan lahan gambut lain.

Terdapat tiga alasan disparitas ini. Pertama, terdapat variasi besar dalam potensi bentang alam untuk meningkatkan karbon. “Tanah gambut menyimpan sejumlah besar karbon,” yang secara dramatis menurunkan biaya dalam bentang alam tersebut, papar Larjavaara.

Kedua, penelitian menyebut biaya peluang untuk menggantikan pemanfaatan lahan aktual dengan pilihan yang memiliki kerapatan karbon lebih tinggi. Menurut pandangan narasumber, misalnya, bentang alam padat penghuni kurang potensial untuk peningkatan karbon ekologis karena lahan budi daya pertanian intensif sulit dikonversi lagi.

Aspek ketiga, adalah bagaimana tiap pakar memahami asumsi tata kelola pemerintahan yang baik dan efisiensi distribusi pendanaan karbon.

“Bisa dibilang, interpretasinya adalah sebagian besar dana didistribusikan pada pemilik dan pengguna lahan, daripada ditahan oleh pemerintah,” papar Larjavaara. “Akan ada dampak lebih besar pada investasi tertentu, sehingga biaya peningkatan karbon lebih murah.”

Alasan ini juga terjadi sebaliknya.

TATA KELOLA DAN SUBSIDI

Dengan pertimbangan pembayaran 10 dolar AS, kedua bentang alam Indonesia tersebut memiliki rasio efektivitas biaya terendah, diikuti oleh Finlandia Utara. Namun, hasil ini bisa berubah pada asumsi tata kelola nyatanya.

“Finlandia Utara, di mana implementasi proyek karbon tambahan bersifat langsung, memiliki risiko lebih kecil, dan menjadi bentang alam yang berpotensi lebih efektif untuk alokasi pendanaan karbon,” tulis penelitian ini.

Penelitian meminta perhatian diarahkan pada tantangan lain: “subsidi pertanian beberapa ratus kali lebih tinggi dibanding pendanaan REDD+, dan secara salah mendorong pemilik lahan membuat ekosistem terbuka, khususnya di negara kaya.”

Langkah ke depan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan karbon ekosistem berbagai jenis lahan, gurun dan pemanfaatan lahan lain dipilah dari produksi tanaman intensif. Sebuah pilihan yang  menurut penelitian, “akan sangat membantu mitigasi perubahan iklim tanpa menurunkan produksi pangan global secara signifikan.”

MENINGKATKAN PENDANAAN

Dalam banyak kasus, kesimpulan penelitian ini jelas. Dengan tingginya variabilitas biaya peningkatan karbon ekosistem di bentang alam, efektivitas subsidi karbon akan bergantung pada satu aspek—“kemampuan kebijakan untuk menargetkan lokasi global dengan potensi terbesar dapat membuat perbedaan.”

Ini berarti bahwa jika upaya mitigasi berbasis pemanfaatan lahan seperti REDD+ didistribusikan secara merata di berbagai negara berhutan, efektivitas totalnya akan “secara drastis lebih rendah”, dibanding distribusi terarah untuk meminimalkan biaya.

“Dengan tujuan mitigasi yang bersifat global dan keterbatasan dana, seharusnya jelas bahwa kita harus memprioritaskan bentang alam dengan rasio efektivitas biaya rendah,” kata Larjavaara. “Walaupun pada praktiknya, hanya sedikit diskusi mengenai tempat untuk menginvestasikan pendanaan karbon global.”

Para ilmuwan kini mengumpulkan tambahan informasi di Vietnam dan Laos, selain juga mengeksplorasi kaitan antara keragaman hayati dan variasi biaya peningkatan karbon ekosistem di berbagai bentang alam.

Sebagai tambahan, para peneliti juga memantau kebijakan iklim global. “Jika kita bersungguh-sungguh memulai mitigasi perubahan iklim, informasi mengenai biaya  akan sangat berharga untuk mengoptimakan pendanaan.”

 

Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Markku Larjavaara di markku.larjavaara@gmail.com atau Markku Kanninen di markku.kanninen@helsinki.fi.
Riset ini didukung oleh Penelitian ini didukung oleh Badan Pembangunan Norwegia (Norad).
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org