Bagikan
0

Memahami implikasi karbon akibat deforestasi, penanaman pohon, dan perubahan praktik pertanian dapat membantu pengambil kebijakan dan perencana pemanfaatan lahan membuat keputusan yang mendukung mitigasi perubahan iklim. Mengukur densitas karbon secara akurat di lapangan cukup sulit dan menyita waktu, khususnya pada bentang alam dengan pemanfaaan lahan yang beragam dan berubah-ubah.

Oleh karena itu, ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Universitas Helsinki dan Simosol, menciptakan sebuah alat untuk melakukan estimasi jumlah karbon terhadap waktu dalam kompleksitas dan dinamika bentang alam. Markku Larjavaara dari Universitas Helsinki memimpin proses desain alat dan memaparkannya dalam sebuah makalah. Melalui wawancara dengan Kabar Hutan, Larjavaara menjelaskan potensi, keterbatasan dan kemanfaatan alat ini.

Apa itu CarboScen?

Nama CarboScen berasal dari ‘karbon’ dan ‘skenario’. ‘Karbon’ tidak merujuk pada karbon dioksida, tetapi karbon ekosistem, yang disimpan dalam biomassa dan tanah. ‘Skenario’ merujuk pada skenario pemanfaatan lahan masa depan.

Alat ini relatif mudah untuk dipahami dengan cepat. Awalnya kami mengembangkan alat ini untuk keperluan lokakarya partisipatoris, ketika orang berpikir mengenai apa akan yang terjadi pada bentang alam mereka. Mereka ingin tahu bagaimana perubahan pemanfaatan lahan di masa depan, dan menghitung implikasi karbon atas perubahan itu. Di sini lah, CarboScen membantu kita melakukannya.

CarboScen juga optimal untuk penghitungan cepat estimasi potensi proyek konservasi karbon, misalnya dalam kerangka REDD+. Memang terdapat beberapa model simulasi karbon, namun semua itu sangat berbeda – dengan pendekatan kami yang baru.

Masalah apa yang dirancang bisa diselesaikan?

Penting untuk mengetahui seberapa banyak karbon dalam ekosistem, karena jika tidak di tanah dan pohon, karbon akan ada di atmosfer, dan ini  berkontribusi pada perubahan iklim – karbon harus berada di suatu tempat.

Jika terdapat sepetak hutan tua dalam kondisi stabil, akan mudah menentukan berapa banyak karbon di sana. Jika kita tahu densitas karbon – berapa banyak karbon per hektare – kita tinggal mengkalikannya dengan luas wilayahnya. Ini relatif mudah, kita bisa melakukannya dengan telepon pintar sambil berdiri di hutan.

CarboScen diciptakan untuk kondisi ketika pemanfaatan lahan berubah.

Pengoperasiannya relatif mudah, Anda dapat melakukannya selagi di hutan dengan ponsel Anda.

Markku Larjavaara, Ketua Desain CarboScen

Dalam situasi tersebut, ada dua hal yang mempersulit penghitungan jumlah karbon. Pertama, pemanfaatan lahan tidak mendadak berubah: setiap tahun ada berubah sebagian demi sebagian. Jadi, jika kita melihat pada sepuluh pemanfaatan lahan dalam periode 50 tahun, akan sulit dengan cepat menjelaskan bagaimana perubahan itu mempengaruhi keseluruhan bentang alam.

Kerumitan lain, bahkan ketika pemanfaatan lahan berubah cepat, perubahan densitas karbon mungkin terjadi lebih lambat. Ketika lahan pertanian dihutankan, misalnya, perlu lebih dari satu abad agar pohon mendekati ukuran maksimalnya. Menghitung densitas karbonnya tidak bisa di luar kepala. Kita perlu lebih dari sekedar kalkulator sederhana dalam telepon pintar – kita harus duduk dan menggunakan CarboScen.

Apa keterbatasan alat ini?

Perlu kita ingat, semua model adalah simplifikasi – menyederhanakan realitas. Jadi hasil dari CarboScen akan menjadi salah, maksudnya – ini hanyalah estimasi. Namun, semua statistikawan menyatakan : “Semua model itu salah, tetapi bisa berguna.” Jadi mari kita berharap ini berguna.

Alat ini merupakan salah satu pendekatan tambahan – alat bantu tambahan di kotak alat – dan bisa jadi alat pertama yang dipilih orang. CarboScen mungkin tidak cukup punya presisi penghitungan densitas karbon resmi untuk menentukan kompensasi finansial dalam skema REDD+ misalnya, namun dapat digunakan untuk mereka yang ingin mendapatkan kompensasi, dan secara cepat memeriksa apakah ada potensinya, dan apakah skema ini cukup bisa diterima.

CarboScen memberi anda estimasi kerja yang cukup akurat. Namun penelitian lebih dalam perlu dilakukan, jika dimaksudkan untuk kompensasi finansial.

Dalam situasi apa, alat ini paling diperlukan?

Saya percaya, ini sangat berguna dalam banyak situasi, baik untuk mendapatkan angka realistis, dan juga untuk lebih memahami dinamika karbon. Terutama sekali, ini berguna dalam bentang alam yang memiliki beragam pemanfaatan lahan, dan perubahan densitas karbon perlahan setelah terjadi perubahan pemanfaatan lahan, misalnya, di dalam tanah atau karena pohon tumbuh perlahan.

Ilmuwan terapan yang bekerja dengan para pengambil kebijakan bisa menggunakan alat ini untuk memeriksa implikasi karbon akibat deforestasi dan pembangunan perkebunan sawit atau kayu atau teh ada bentang alam tertentu. Mereka bisa membandingkan beberapa skenario dan meliat bagaimana densitas karbon bermain seiring waktu.

Alat ini juga dapat digunakan untuk mengajarkan karbon ekosistem pada mahasiswa atau pengambil kebijakan. Bagi siapa pun yang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai densitas karbon dan seberapa cepat perubahannya ketika terjadi pergeseran pemanfaatan lahan – dua variabel yang diatur dalam CarboScen – alat ini menjadi landasan yang bermanfaat dalam memahami dinamika karbon pada perubahan bentang alam. Ini salah satu tujuan memiliki model dalam ilmu pengetahuan: memberi pelajaran mengenai realitas.

Karbon bisa dipandang sebagai sebuah fluks atau aliran, ketika karbon bergerak dari satu kolam ke kolam lain. Ini merupakan pendekatan alamiah ketika berpikir mengenai bahan bakar fosil – minyak dipompa dari Teluk Persia dan berakhir di mobil kita. Ketika dibakar, karbon mengalir dari kolam bahan bakar fosil ke atmosfer, dan berkontribusi pada perubahan iklim.

Salah satu tujuan memiliki rancangan model dalam ilmu: mengajarkan kita tentang realitas.

Markku Larjavaara, Ketua Desain CarboScen

Namun hal ini menimbulkan kebingungan ketika berpikir mengenai karbon ekosistem. Dalam konteks ini, berbicara mengenai emisi jadi lebih sulit ketika karbon disimpan dalam batang pohon, dan tidak secara langsung teremisikan ke atmosfer, jadi memahami proses ini lebih menantang.

Saya lebih suka berpikir sesuatu yang konkret, sesuatu yang lebih mudah dipahami: stok atau reservoir simpanan karbon dalam pohon dan tanah. CarbonScen berlandaskan pendekatan itu: menemukan seberapa banyak karbon dalam kolam tertentu pada titik waktu tertentu.

Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Markku Larjavaara di markku.larjavaara@gmail.com atau Markku Kanninen di m.kanninen@cgiar.org.
Riset ini didukung oleh Norad, USAID, German Federal Ministry for the Environment, Nature Conservation, Building and Nuclear Safety
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cifor-icraf.org