Wawancara

Peran vital hutan bagi keamanan pangan global

Penjelasan ilmuwan CIFOR mengenai hubungan hutan dan keamanan pangan global pada Forum EAT di Jakarta
Bagikan
0
Padi di Desa Tri Budi Syukur, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, Indonesia. Penelitian menemukan bahwa petani yang bekerja dalam bentang alam kompleks dan beragam fungsi lebih memiliki akses nutrisi dibanding di wilayah tanaman monokultur. Ulet Ifansasti/CIFOR

Bacaan terkait

Di dunia, kelaparan terus meningkat. Menurut laporan PBB terbaru, setiap hari 815 juta orang kelaparan. Dengan penduduk dunia yang diproyeksikan mencapai hampir 10 miliar orang pada 2050, produktivitas pertanian global harus meningkat  1,75 persen per  tahun untuk memenuhi kebutuhan pangan global.

Hutan, pohon dan agroforestri berperan penting dalam keamanan pangan dan nutrisi, meski masih belum secara umum tercermin dalam pembangunan nasional dan strategi keamanan pangan. Hutan alam, yang menyangga jasa ekosistem penting, keragaman hayati dan penghidupan masyarakat adat dan masyarakat lainnya, akan menjadi penting dalam mencapai keamanan pangan global.

Di sela acara Forum Pangan Asia-Pasifik EAT di Jakarta, Indonesia, Kabar Hutan berbincang dengan ilmuwan Terry Sunderland dan Amy Ickowitz dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mengenai dampak hutan pada keamanan pangan.

Bagaimana peran hutan dalam keamanan pangan didiskusikan dalam Forum EAT?

Sunderland: Hutan tidak disebut sama sekali pada sesi pleno hari pertama. Namun, acara paralel kita, dinamai “forum kompetensi” dibuka oleh Duta Besar Norwegia, Vegard Kaale. Dalam sambutannya, ia mengakui bahwa pertanian dan kehutanan merupakan dua sisi mata uang. Menyenangkan mendengar pengakuan pentingnya hutan dan pertanian, dan bagaimana keduanya berinteraksi.

Dubes Kaale menjelaskan bahwa Norwegia tertarik mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia dan, khususnya, dalam transformasi sistem pangan yang terfokus pada pembersihan lahan untuk tanaman komersial menuju diet beragam dan berkelanjutan. Minat ini penting, karena pendekatan sistem dapat memberi hasil lebih baik bagi hutan.

Kita perlu mengubah sistem pangan global, membuatnya lebih berkelanjutan, lebih ramah lingkungan, terfokus pada nutrisi dan mendorong keragaman diet.

Terry Sunderland, ilmuwan CIFOR

Pesan utama Forum tersebut adalah bahwa kita semuanya bekerja sama. Agrikulturalis perlu berbicara pada rimbawan, dan rimbawan perlu berbicara pada ahli gizi. Pada dasarnya, semua orang berminat pada sistem pangan berkelanjutan yang tidak mendegradasi lingkungan sehingga perlu berbicara satu sama lain. Semua yang kita lakukan di CIFOR terkait hutan dan keamanan pangan selama lima hingga enam tahun terakhir telah terkerangkai di acara ini, ada oleh-oleh pesan yaitu: Kita perlu mengubah sistem pangan global, membuatnya lebih berkelanjutan, lebih ramah lingkungan, terfokus pada nutrisi dan mendorong keragaman diet.

Bagaimana keterkaitan Forum EAT dengan penelitian Anda?

Ickowitz: Forum ini mencakup aspek luas beberapa isu yang kami teliti, seperti dampak perubahan pemanfaatan lahan pada diet petani. Forum ini menghadirkan beberapa aspek berbeda yang saling terkait dengan sistem pangan dan lingkungan. Dalam “forum kompetensi” yang  saya hadiri, sebagian besar diskusi menyoal dampak sawit pada lingkungan, serta peran penjual dan perusahaan dalam membuat konsumsi lebih berkelanjutan di Asia Tenggara.

Penelitian terbaru saya mendalami dampak produksi sawit pada diet petani. Ini sedikit berbeda. Belum banyak penelitian dilakukan untuk memeriksa implikasi nutrisi bagi petani. Tim kami membawakan ini, satu keping  dari bidak teka-teki.

Apa peran petani untuk keamanan pangan?

Sunderland: Kami mengadvokasi bahwa  keragaman diet tidak akan datang dari pertanian besar monokultur. Namun, justru hadir dari sistem tanaman bervariasi milik petani kecil. Salah satu perbincangan di Forum membahas isu keragaman tanaman dan nutrisi – ada fakta bahwa lebih banyak vitamin dihasilkan petani kecil dari bentang alam bervariasi. Kami mengakui pentingnya mosaik bentang alam, petani yang bukan mengelola 10, 20 hektare lahan, tetapi satu, dua hektare dalam bentang alam yang sangat kompleks, dan seringkali dengan beragam bentuk pemanfaatan lahan.

Di Indonesia, kita tidak bisa hanya membicarakan kehutanan dan pertanian – perikanan juga memiliki peran penting dan tak terpisahkan. Stok perikanan darat dan laut sangat penting untuk diet dan kita  perlu lebih memahami bagaimana interaksinya dengan diet dan keragaman nutrisi. Kita juga perlu mengetahui apa tuntutan masa depan untuk perikanan, dan bagaimana ini berperan dalam keamanan pangan lebih luas.

Mengapa petani kecil lebih perlu perhatian dan dukungan?

Sunderland: Petani kecil yang menanam beragam spesies di lahan kecil perlu didukung. Kelompok masyarakat ini cenderung lebih  resilien terhadap guncangan iklim maupun ekonomi. Kami tidak lantas mendorong untuk kembali ke sistem pertanian lama, namun mendukung mereka yang masih berada di posisi itu.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan, antara 60 hingga 80% makanan di wilayah tropis dikembangkan oleh petani kecil. Mereka adalah orang yang menyediakan makanan di meja kita. Kita harus menghargai apa yang mereka lakukan. Dan bahwa menanam beragam tanaman di bentang alam kaya melindungi mereka dari guncangan ekonomi dan lingkungan. Mereka lah yang perlu menjadi fokus perhatian pembangunan.

Ickowitz: Dan seringkali itu berarti akan mengkonversi lahan mereka dari sistem kaya yang disebut Terry untuk menanam sawit. Seringkali ini adalah hasil kebijakan pemerintah dan kebijakan pemanfaatan lahan, atau akibat ketidakjelasan pengaturan tenurial. Meskipun seringkali ini karena keputusan petani untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi, yang dipersepsi akan diperoleh dari tanaman komersial.

Saya pikir kita perlu pendidikan lebih baik mengenai diet sehat bagi petani, keunggulan diet tradisional atas diet ‘modern’

Amy Ickowitz, ilmuwan CIFOR

Di tempat kami bekerja, petani tidak selalu mendapat informasi lengkap. Jika sudah, itu pilihan mereka. Saya pikir kita perlu pendidikan lebih baik mengenai diet sehat bagi petani, keunggulan diet tradisional atas diet ‘modern’. Pengetahuan adalah bagian dari upaya ini, sekaligus mengangkat sistem pangan tradisional, mengakui dan membuat dunia luar menghormati dan mengapresiasi makanan tradisional.

Sunderland: [Ilmuwan CIFOR] Linda Yuliani bekerja di Kalimantan Barat, dan ia meneliti apa penyebab petani menjual lahannya untuk sawit dan petani yang tidak. Ia mengukur dampak keputusan petani dan menemukan bahwa petani yang mengincar keuntungan jangka pendek dengan mengkonversi lahan menjadi sawit, atau menjual lahan mereka pada pemegang konsesi sawit, biasanya menyesali keputusannya.

Karena meski dalam jangka pendek mereka mendapat uang, secara jangka panjang mereka kehilangan akses atas lahan dan akses atas sumber daya, dan hanya sedikit sekali yang kemudian bisa dilakukan. Memang mengejutkan bagaimana kita menghabiskan tumpukan uang. Orang membuat keputusan karena ingin masuk dunia modern, dan berpindah dari hutan ke perkebunan dianggap kemajuan. Ini persepsi umum. Namun, pembangunan tidak menjangkau semua orang, ada isu keadilan dalam distribusi manfaat.

Apa pendapat Anda melihat partisipasi tingkat tinggi dalam Forum EAT?

Ickowitz: Saya tidak menyangka partisipasi tingkat tinggi dari berbagai kementerian di Indonesia. Dan semuanya perempuan! Ini luar biasa. Menteri Keuangan memberi inspirasi, dan Wakil Presiden juga mendorong untuk saling keterkaitan. Adanya kesadaran di tingkat tertinggi pemerintahan mengenai keterkaitan antar isu ini merupakan langkah awal yang penting. Saya pikir, Forum EAT di sini telah meningkatkan kesadaran di berbagai level mengenai isu diet sehat dan keberlanjutan di Indonesia.

Akankah acara ini merealisasikan solusi yang Anda usulkan dalam penelitian?

Sunderland: Tergantung pada apa yang akan terjadi kemudian. Saya lihat pidato [Wakil Presiden] Jusuf Kalla dimuat di media, mengenai bagaimana seharusnya keamanan pangan di Indonesia. Ini awal yang bagus. Membuat politisi mengakui keterbatasan sistem pangan saat ini juga menggembirakan. Semuanya tidak akan berubah dalam semalam, namun acara di Jakarta telah meningkatkan kesadaran. Penjangkauan di media sosial juga mengagumkan. Masyarakat mendengar – dan berbicara.

(Visited 120 times, 11 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Terry Sunderland di t.sunderland@cgiar.org atau Amy Ickowitz di a.ickowitz@cgiar.org.
Riset ini didukung oleh Bantuan dari pemerintah Inggris dan United States Agency for International Development (USAID)
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org