Berita

Makanan berkualitas dari hutan

Penelitian menunjukkan bahwa pangan dan hutan bergandengan tangan
Bagikan
0
Tanaman padi di Gunung Simpang, Jawa Barat, Indonesia. Foto : Yayan Indriatmoko/CIFOR

Bacaan terkait

Resep dokoum, sejenis kroket yang terbuat dari tumbuhan liar, menggunakan daun segar Crataeva religiosa, garam, potash dan air. Daun dan potash direbus dalam air mendidih selama 20 menit, kemudian ditiriskan, direbus lagi dan dibentuk seperti bola untuk dimakan dengan mentega shea.

Menu saus lain dibuat dari daun kering pohon asli Afrika baobab, mentega shea, fermentasi sorgum dan cabai. Sorgum dan cabe direndam air, bahan lain ditambahkan dan dimasak hingga sausnya kental dan siap dimakan.

Para ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan para mitranya, mengumpulkan resep tradisional berbahan baku dedaunan hutan dari 10 desa di wilayah Dagara, Burkina Faso, mengungkap beragamnya makanan yang tersedia di hutan.

Para ilmuwan yang meneliti topik ini sejak 2013, mencoba meningkatkan kesadaran mengenai pengetahuan ekologi masyarakat lokal. Upaya yang dilakukan meliputi pendokumentasian beragam pangan yang ada dalam menu tradisional dan tingkat ketergantungan masyarakat pada hutan dan tanaman – dengan tujuan memperbaharui apresiasi terhadap pangan alam, meningkatkan produksi pangan berkelanjutan, mengkomunikasikan nilai hutan bagi keamanan pangan lokal, dan terutama meningkatkan kualitas nutrisi.

Di Ethiopia, para peneliti mengumpulkan 218 spesies tanaman, dan di Burkina Faso 494 spesimen, merinci nama lokal dan nama ilmiah, deskripsi tanaman, habitat dan informasi pemanfaatannya. Di Zambia, peneliti menemukan, ulat dari hutan merupakan sumber mikronutrisi utama bagi masyarakat selama masa paceklik.

KAYA BUKAN BERARTI SEHAT

Salah satu temuan utama penelitian adalah bahwa peningkatan penghasilan masyarakat desa tidak lantas beriring dengan peningkatan nutrisi diet. Misalnya, di satu wilayah yang terkena deforestasi lebih berat, tanaman seperti beras dan padi ditanam dengan mengorbankan pohon buah, sayuran dan perburuan. Asupan kalori meningkat, namun kualitas keseluruhan diet menurun seiring  peningkatan daya beli makanan olahan, seperti mi instan di Indonesia.

Para peneliti menemukan banyak pangan hutan memberi nutrisi penting dalam diet masyarakat seperti zinc dan Vitamin A. Misalnya, kama, sayuran hijau dari hutan Benishangul-Gumz, Ethiopia, menyediakan kadar besi dan potasium tinggi, dan merupakan sayuran sehari-hari di wilayah penelitian. Di barat daya Burkina Faso, daun baobab paling dikenal, masyarakat memanfaatkan berbagai jenis daun dari pohon tersebut dalam diet mereka. Beberapa jenis daun mengandung mineral dan vitamin dalam kadar tinggi. Lebih jauh lagi, dalam beberapa lokasi penelitian, masyarakat memperoleh pangan berbasis daging dari hutan.

Di Afrika, para peneliti menemukan bahwa diet anak-anak yang tinggal dekat hutan lebih baik dibanding anak-anak yang tinggal di bentang alam kurang berhutan. Menganalisis asupan pangan 93.000 anak di benua tersebut, para peneliti memeriksa keragaman pangan, konsumsi buah dan sayuran serta konsumsi produk daging dan hewan. Mereka menemukan bahwa keluarga berpenghasilan rendah di wilayah desa berhutan seringkali membudidaya pangan mereka sendiri atau mendapatkan buah dan kacang dari hutan sekitar yang menyokong kualitas diet lebih tinggi dibanding keluarga yang tidak memiliki lahan budidaya atau mencari makanan.

Para peneliti mendapat hasil serupa di Indonesia – di mana defisiensi mikronutrisi menjadi masalah serius – setelah memeriksa diet anak-anak. Ditemukan bahwa anak yang tingggal di bentang alam dominan pohon di beberapa provinsi, lebih sehat dibanding anak di wilayah yang sama, namun tanpa pohon.

Penelitian ini mengeksaminasi seberapa sering anak-anak mengkonsumi makanan kaya-mikronutrisi berdasarkan data survei demografi kesehatan. Hasil paling mengejutkan adalah temuan di Kalimantan Barat, diet lebih sehat terdapat pada anak-anak yang tinggal dekat perladangan berpindah dan bentang alam agroforestri.

Ketika deforestasi memburuk, diet masyarakat – dan pepohonan – menjadi korban.

Salah satu penelitian CIFOR di selatan Kamerun menyatakan bahwa konversi lahan menjadi sawit mengancam keamanan pangan lokal. Sementara petani sawit menyambut konversi menjadi tanaman lebih produktif tersebut, masyarakat lain tidak mampu memetik manfaat dan dengan keterbatasan penghasilan, akses pangan makin sulit.

Para ilmuwan melanjutkan upaya mengungkap lebih dalam konsekuensi tersembunyi pada diet. Dengan melakukan penelitian di berbagai bentang alam seperti hutan miombo di Zambia dan daratan sawit Borneo, mereka dapat lebih jauh memahami hubungan manusia dengan hutan, dan makanan yang mereka temukan di dalamnya.

(Visited 136 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Amy Ickowitz di a.ickowitz@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org