Berita

Hutan, peternakan dan pangan

Ditemukan bukti baru kontribusi hutan pada keragaman diet.
Bagikan
0
Bahkan di daerah dengan ketahanan pangan tinggi, kekurangan vitamin dan mineral masih mempengaruhi pertumbuhan anak-anak di Ethiopia Selatan. Mokhamad Edliadi/CIFOR

Bacaan terkait

Africa - Amina*, ibu muda beranak empat, tinggal di desa terpencil di Oromia, Ethiopia bagian Selatan.

Pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, iklim sedang, tanahnya subur, dan tidak seperti banyak daerah di negara itu, cukup ruang bagi masyarakat membudidayakan tanaman untuk keluarga dan sebagai penghasilan.

“Dari sudut pandang pertanian, kita bisa katakan wilayah ini diberkahi,” kata agronomis, Frédéric Baudron, salah seorang ilmuwan terkemuka yang terlibat dalam penelitian terbaru mengenai hutan dan keragaman diet yang dilakukan Pusat Penelitian Peningkatan Jagung dan Gandum Internasional (CIMMYT) dan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Namun, setiap kali Amina menyapih anak, sekitar usia dua tahun, rambut anak berubah kuning dan rontok – tanda-tanda malnutrisi akut. “Agak mengejutkan melihatnya,” kata Baudron. “Rasanya seperti, wow, di tempat ini seharusnya tidak ada masalah seperti ini.”

Apa yang terjadi? Keamanan pangan di sana tinggi. Sebagian besar orang mendapatkan seluruh kalori yang diperlukan dari gandum dan jagung yang tumbuh dengan mudah dan berlimpah di wilayah ini. Namun, malah banyak yang menderita “kelaparan tersembunyi”, defisiensi vitamin dan mineral yang diperkirakan mempengaruhi sekitar dua miliar orang di dunia.

Penelitian mengkaitkan keragaman diet – mengkonsumsi serangkaian makanan dan kelompok makanan – untuk mendapatkan vitamin dan mineral yang diperlukan. Dan studi kasus terbaru menghubungkan kedekatan masyarakat pada hutan dengan tingginya keragaman diet, terutama melalui pengumpulan makanan dari hutan, dan menjual produk hutan untuk membeli pangan lainnya.

Penelitian terbaru  CIMMYT dan CIFOR memetakan jalan lain yang tidak secara langsung, bahwa hutan membantu manusia mengkonsumsi diet lebih bervariasi – melalui alur nutrisi “dari hutan, masuk ke tanah, diserap tanaman, dan kemudian dikonsumsi manusia,” papar Baudron.

JEJARING GIZI

Para peneliti membandingkan keragamanan diet di tiga klasifikasi zona, dekat, sedang dan jauh dari hutan negara Munesa, Ethiopia. Menurut Baudron, hutan mereprentasikan surga keragaman hayati yang langka di negara padat populasi itu, dengan air terjun yang indah, pohon-pohon besar menjulang, monyet Colobus dan burung endemik.

Penduduk tidak mengambil makanan di hutan ini, dan dilarang menjual produk hutan sebagai pencaharian. Namun, penelitian menunjukkan dengan jelas bahwa keragaman diet yang paling tinggi di zona terdekat hutan – meski terjauh dari pasar, yang menurut pandangan konvensional, seharusnya menjadi akses produk pangan yang lebih variatif.

Bagaimana ini bisa terjadi? Baudron mengatakan bahwa hutan “bertindak sebagai tempat akumulasi nutrisi, dan kemudian ternak menjadi vektor nutrisi dari hutan ke lahan pertanian melalui pupuk,” meningkatkan kesuburan lahan dan memungkinkan produksi beragam tanaman, termasuk yang padat nutrisi.

Sebagaimana dijelaskan, hutan memberi suplai pakan untuk ternak, memungkinkan masyarakat hidup dengan ternak lebih banyak dan memproduksi lebih banyak pupuk; ketersediaan kayu bakar juga berarti mereka tidak perlu membakar limbah ternak sebagai bahan bakar.

Jadi, masyarakat yang tinggal lebih dekat dengan hutan lebih memiliki persediaan pupuk kaya nutrisi untuk pertanian, dan cenderung menggunakannya di kebun rumah, tempat mereka menanam beragam tanaman, hingga menciptakan “titik panas keragaman diet nyata,” kata Baudron. Mereka juga memiliki akses pada produk hewan yang lebih variatif, seperti susu, telur dan daging dari lebih banyak hewan yang mampu mereka pelihara.

TIMBAL BALIK ATAU SINERGI? AGRIKULTUR DAN KERAGAMAN HAYATI

Dalam gambaran lebih besar, penelitian ini menegaskan “keterbatasan pendekatan konvensional intensifikasi pertanian, dan menyeru untuk diversifikasi,” kata Baudron. Sebagai seorang agronomis, ia menegaskan, “Saya dilatih berpikir bahwa meningkatkan produksi pangan akan selalu mengarah pada menurunnya keragaman hayati, dan bahwa keragaman hayati tidak berkontribusi pada pertanian… tetapi nyatanya.”

Selama 16 tahun mengeksplorasi interaksi antara keragaman hayati, hutan dan agrikultur, Baudron seringkali terbentur fakta bahwa “bentang alam yang telah berubah demi produksi pangan tidak selalu paling produktif.”

Dan penelitian hutan di Munesa memberi jawaban itu: petani yang tinggal terjauh dari hutan menggunakan teknik pertanian lebih intensif. Sementara, katanya, bentang alam yang lebih dekat dengan hutan memproduksi jagung dan gandum yang setara, dan beragamnya pilihan pangan, produksi kayu lebih banyak dan lebih banyak pangan bagi manusia yang tinggal di sana.

Contoh ini juga mengungkap kegagalan pasar dalam menghadirkan keragaman diet di banyak daerah di negara berkembang. “Di lokasi terpencil seperti ini, pasar tidak berjalan baik, dan keragaman produksi sangat penting,” kata Baudron.

“Jadi saya pikir ini bukti kuat melawan beberapa pernyataan beberapa tahun lalu bahwa pasar menjadi solusi kurang gizi-dan-malnutrisi – Saya pikir di banyak tempat hal ini naif.

Sebaliknya, ia menyatakan, kita perlu mulai pencari pendekatan alternatif atas intensifikasi; alternatif dari model konvensional yang terfokus menanam tanaman pokok, masukan eksternal, dan simplifikasi ekstrem bentang alam.

“Saya pikir, jagung, gandum dan beras akan tetap sangat penting sebagai asupan kalori, namun kita juga perlu memikirkan keragaman diet dan kebutuhan lain. Pendekatan yang melihat bentang alam secara keseluruhan sangat logis – untuk diet, untuk pemasukan, untuk keragaman hayati, dan untuk pertanian itu sendiri.

Menjaga dan merestorasi tutupan hutan, katanya, adalah bagian penting. “Kita dilatih untuk menimbang timbal balik, bukannya sinergi. Dan ternyata ada sinergi yang sangat nyata antara keragaman hayati dan pertanian, yang saya pikir cenderung kita lupakan.”

Dan cerita seperti Amina lah yang memotivasi Bourdan, dan kita semua, dan agar selalu diingat.

(Visited 120 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Frédéric Baudron di f.baudron@cgiar.org atau Terry Sunderland di t.sunderland@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Riset ini didukung oleh United Kingdom Department for International Development (DFID), United States Agency for International Development (USAID) dan CRP WHEAT (www.wheat.org).
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org