Analisis

Bermain dengan api

Saat Indonesia menghadapi musim kemarau panjang akibat El Nino, kebakaran yang terjadi akan lebih parah lagi.
Bagikan
0

Bacaan terkait

Indonesia - Bencana banjir dan kebakaran hutan yang baru-baru ini terjadi di New Orleans banyak memiliki kesamaan. Betapapun para pakar telah berkali-kali mengatakan bahwa Pemerintah perlu melakukan tindakan tegas sebelum bencana itu datang, namun tidak seorangpun mau mempedulikannya sampai mereka sendiri tengelam dalam air kotor atau tercekik kabut asap tebal.

Bencana kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia pada tahun 1977/78 telah menghanguskan kawasan yang lebih luas dari negara Inggris; menyebabkan beribu-ribu kematian, kerusakan yang bernilai jutan dollar, menghasilkan karbon dalam jumlah yang besar ke udara. Kejadian ini kemudian diikuti oleh munculnya berbagai kegiatan dan proyek rehabilitasi secara tiba-tiba. Akan tetapi, ketika kebakaran telah lewat, para donor dan pembuat kebijakan segera kehilangan daya tariknya untuk membantu kawasan tersebut. Sementara itu, tidak satupun yang dapat menyelesaikan akar permasalahannya. Para analis berpendapat apabila suatu saat Indonesia menghadapi musim kemarau yang panjang akibat El Nino, kebakaran yang terjadi akan lebih parah lagi.

Untuk mencegah kebakaran, pertama kali anda perlu mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Kebakaran, Manusia, dan Peri: Kaitan antara Ilmu Sosial dan Penginderaan Jauh untuk Memahami Akar Penyebab dan Akibat Kebakaran di Indonesia (’Fire, People, and Pixels: Linking Social Science and Remote Sensing to Understanding Underlying Causes and Impacts of Fires in Indonesia’), adalah tulisan yang dibuat oleh Ronna Dennis dan kawan-kawan. Artikel ini menyajikan pandangan mereka yang sangat bagus. Artikel mengenai ekologi manusia ini ditulis berdasarkan kajian mendalam atas penyebab kebakaran di delapan lokasi di Sumatra Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Dalam tulisannya, mereka mengkombinasikan penafsiran potret udara, data hot spot, wawancara dengan perusahaan, masyarakat desa, dan para petugas pemerintah untuk dapat mengerti penggunaan api pada setiap lokasi kejadian.

Para penulis menyimpulkan bahwa penyebab kebakaran sangat bervariasi antara satu tempat dengan tempat lainnya. Baik perusahaan perkebunan yang besar maupun para petani kecil menggunakan api untuk membersihkan lahannya. Api juga digunakan sebagai senjata mereka dalam perselisihan hak atas lahan diantara mereka. Perusahaan membersihkan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan HTI. Petani kecil membersihkan lahannya untuk tanaman tahunan, kopi, dan karet. Masyarakat pedesaan membakar bagian bawah lahan untuk mempermudah kegiatan mereka dalam menangkap ikan dan berburu. Api yang terjadi secara tiba-tiba sulit dikontrol dan membakar wilayah lain yang sesunguhnya tidak mereka inginkan.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kebakaran. Berbagai instansi pemerintah menggunakan lahan yang sama untuk keperluan yang berbeda dan gagal untuk mengakui hak-hak penduduk setempat. Masyarakat hanya mendapatkan insentif yang kecil untuk meyakinkan bahwa api yang mereka buat bisa dikontrol dan tidak membakar wilayah lain yang tidak mereka inginkan. Pembakaran mungkin merupakan cara termudah untuk membersihkan lahan, dan perusahaan yang berminat untuk mengunakan cara lain tidak memperoleh dukungan yang cukup. Penebangan menyebabkan banyak serasah yang mudah terbakar dan membuat lahan hutan menjadi kering dan rentan terhadap bahaya kebakaran. Pembuangan air di hutan rawa gambut untuk kegiatan penanaman juga membuat lahan mudah terbakar. Pemerintah tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk membuat aturan kebakaran atau mengajari masyarakat untuk mengelola api.

Masalah-masalah tersebut memerlukan perubahan yang besar dalam kepemilikan lahan yang diwujudkan dalam kebijakan pertanian dan kehutanan, serta pendekatan yang dapat diterapkan untuk setiap wilayah. Itulah sebabnya jauh lebih mudah bagi para pembuat kebijakan dan para donor untuk mundur dan tidak melakukan apa-apa. Semua ini akan membuat segala sesuatunya menjadi baik sendiri (sampai hal tersebut tidak terjadi).

(Visited 72 times, 1 visits today)
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org

Bacaan lebih lanjut

Untuk memperoleh tulisan ini dalam bentuk salinan elektronik dalam format ’word’ atau pdf secara cuma-cuma, anda dapat mengajukannya kepada Rosita Go, dengan alamat: Rgo@cgiar.org.

Mohon diberitahukan file apa yang anda inginkan. File pdf berisi lebih kurang satu MB, dan file ’word’ lebih sedikit isinya, namun tidak memuat peta dan gambar. Anda dapat pula membeli versi cetakan dalam bentuk salinan elektronik melalui Springer press, dengan alamat situs: http://dx.doi.org/10.1007/s10745-005-5156-z.

Bila anda ingin menyampaikan komentar, saran, ataupun hal lainnya, mohon dialamatkan kepada: Ronna Dennis, dengan alamat: rdennis@hn.ozemail.com.au atau Judith Mayer, dengan alamat: jmayer@humboldt1.com

Referensi lengkap untuk artikel ini adalah: Dennis, R.A., J. Mayer, G. Applegate, U. Chokkalingam, C.J.P. Colfer, I. Kurniawan, H. Lachowski, P. Maus, R.P. Permana, Y. Ruchiat, F. Stolle, Suyanto, T.P. Tomich. 2005. ’Fire, People, and Pixels: Linking Social Science and Remote Sensing to Understanding Underlying Causes and Impacts of Fires in Indonesia’, Human Ecology, 33 (4): 465-504.