Bagikan
0

Bacaan terkait

Bayangkan, Anda menjadi rimbawan yang memimpin proyek restorasi. Lokasinya terpencar, dan berbeda—hutan hujan, padang rumput kering, dan daerah aliran sungai gunung. Kita perlu melibatkan para pemangku kepentingan, penduduk, peternak, pengelola sumber daya air lokal, dan pejabat pusat. Dari mana mulainya?

Peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) percaya telah membantu memberi solusi dengan meluncurkan sebuah perangkat diagnostik khusus bagi praktisi restorasi bentang alam hutan. Perangkat ini ditujukan untuk mereka yang siap mengadopsi gaya pemantauan proyek, namun merasa terbebani oleh besarannya.

Proyek restorasi bentang alam hutan di AS, Brasil, dan seluruh Afrika menemukan bahwa pemantauan kolaboratif, yang juga disebut pemantauan partisipatoris, berperan penting dalam restorasi hutan. Cara ini lebih dari sekadar bertanya pada penduduk saat mengumpulkan data. Pemantauan melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan proyek restorasi, kemudian berbagi dan belajar dari orang lain yang terlibat di setiap tingkatan.

Tantangan Bonn, sebuah upaya dunia untuk merestorasi 150 juta hektare lahan terdeforestasi dan terdegradasi pada 2020, dan 350 juta hektare pada 2030, juga mengakui keberhasilan perencanaan restorasi berlandaskan pemantauan kolaboratif.

Dikembangkan oleh peneliti CIFOR, Kristen Evans dan Manuel Guariguata, perangkat diagnostik ini membantu praktisi mengetahui kondisi yang diperlukan agar pemantauan kolaboratif berhasil.

Jika Bonn Challenge mengarah, seperti yang diharapkan, ke ekspansi besar investasi dalam restorasi bentang alam hutan, maka harus ada banyak masyarakat yang akan mendapat manfaat dari alat diagnostik ini

Jeffrey Sayer

“Masih menjadi tantangan dalam mengajak pejabat pemerintah, organisasi masyarakat, dan lembaga donor untuk mengakui pentingnya melibatkan masyarakat terdampak langsung aktivitas restorasi ini,” kata Jeffrey Sayer, profesor Kehutanan dan Konservasi Universitas British Columbia, dan pakar restorasi bentang alam.

“Seperti arahan Tantangan Bonn, dan harapannya, terdapat ekspansi besar dalam restorasi bentang alam, maka harus ada banyak orang yang merasakan manfaat dari perangkat diagnostik ini,” kata Sayer.

Perangkat diagnostik ini telah diperiksa oleh para ahli dunia dan siap dicoba di lapangan. Perangkat ini menggabungkan pemantauan kolaboratif sejak awal, langkah penting yang sering kali hanya diperkenalkan di paruh atau akhir proyek.

Diawali dengan pemantauan

Menurut Evans, meski para profesional mengakui pentingnya pemantauan, tahap ini tidak lantas berada “di depan dan di tengah” perencanaan awal. “Orang ingin proyek berjalan dan mendapat hasil,” katanya. Ia menambahkan, semangat ini mendorong praktisi memulai aktivitas tanpa memutuskan bagaimana memantau kemajuan.

“Mengembangkan rencana pemantauan berarti memeriksa ulang perencanaan – jika kita tidak tahu bagaimana memantau langkah mencapai tujuan, mungkin tujuannya perlu diperiksa lagi,” tambah Evan. “Jika kita simpan rencana pemantauan hingga setelah kita memulai aktivitas implementasi, kita kehilangan potensi sinergi antara pemantauan dan aktivitas.”

Alat ini dapat diadaptasi untuk mengukur kebutuhan kapasitas di tingkat nasional atau sub-nasional termasuk merancang dan mengimplementasikan intervensi restorasi bentang alam hutan

Manuel Guariguata

Perangkat diagnostik ini juga memandu para praktisi merancang rencana yang dapat menjejak kemajuan di beragam lokasi dan beragam tingkat—memberi apa yang diperlukan masyarakat lokal dan apa yang diprioritaskan pemangku kepentingan nasional, sambil menjawab apa yang diinginkan pemangku kepentingan global.

“Menerapkan perangkat diagnostik ini juga memberitahukan dimensi kunci proses pemantauan kolaboratif yang diperlukan untuk memperkuat implementasi restorasi bentang alam hutan. Dengan kata lain, menyediakan mekanisme peningkatan,” kata Guariguata.

“Sudah ada beberapa upaya global, seperti Tantangan Bonn, untuk memantau apa yang terjadi pada restorasi bentang alam hutan dan komitmen global terkait. Posisinya berada di level puncak dan sering bergantung pada data penginderaan jarak jauh dan laporan umum,” kata Evans. “Maka di beberapa lokasi pemantauan kolaboratif dilakukan, kita bisa memperoleh data dan pembelajaran yang besar. Namun dua tingkat ini tidak benar-benar saling berbicara.”

“Akibatnya, potensi agar pelaksana lokal, wilayah dan negara bisa saling belajar hilang,” kata Evans.

Pelajaran dari Brasil

Evans mengutip proyek restorasi di Brasil sebgai contoh rencana pemantauan kolaboratif yang berhasil melibatkan pemangku kepentingan lokal pada tingkat lokal dan nasional, namun terkendala dalam memantau proyek secara lokal, nasional dan global.  Pakta Restorasi Hutan Altantik adalah proyek besar merestorasi 15 juta hektare hutan mangrove, tropis dan subtropis berdaun lebar pada 2050. Sekitar 260 organisasi masyarakat, perusahaan swasta, lembaga penelitian, dan pemerintah mendukung proyek ini, hingga sangat berpotensi untuk pemantauan kolaboratif.

“Mereka mengembangkan protokol pemantauan yang merinci sejumlah hal yang diperlukan untuk memantau,” kata Evans. Akhirnya, protok merinci 19 kriteria 41 indikator dan 74 metrik yang harus diukur secara rutin.

“Akhirnya tidak berjalan karena terlalu padat,” kata Evan. “Terlalu banyak yang dipantau. Dan pembelajarannya, lebih baik memantau beberapa hal saja dengan baik. Kemudian jika ingin memperluas skala laporan ke tingkat nasional dan internasional, pilih saja mungkin lima indikator yang digunakan setiap orang.”

Proyek ini juga gagal memasukan dan menetapkan titik picu dalam rencana pemantauan. Titik picu adalah nilai target yang perlu dicapai pada waktu tertentu, dan jika tidak tercapai, perlu dilakukan tindakan tambahan. Misalnya, jika persentase tanaman asli tidak tercapai pada periode waktu tertentu, proyek ini perlu menanam  lebih banyak bibit untuk mencapai target itu.

Perangkat diagnostik CIFOR dapat membantu pimpinan proyek restorasi belajar dari contoh Brasil dengan mengembangkan rencana monitoring yang memungkinkan kelompok lokal di lapangan, badan nasional dan organisasi internasional yang mendukung proyek berbagai informasi terbaru agar setiap level dapat mendukung satu sama lain.

“Perangkat diagnostik ini dipersiapkan untuk membantu masyarakat menyusun pemantauan,” kata Evan. “Perangkat ini membantu menciptakan sistem pemantauan di mana orang dapat berbagi informasi satu sama lain dan menciptakan komunitas pembelajaran secara daring atau dalam pertemuan lokal.”

“Perangkat ini juga mendefinisikan elemen yang harus ada di tingkat sub-nasional dan nasional dalam mengaitkan dan memperluas skala pemantauan kolaboratif,” kata Evans.

“Selain juga bisa menjadi kerangka kerja penilaian,” tambah Guariguata. “Misalnya, perangkat ini bisa diadaptasi untuk mengukur kapasitas yang diperlukan di tingkat nasional dan subnasional dalam merancang dan mengimplementasikan intervensi restorasi bentang alam.”

Saya harap multipihak mulai melihat bahwa pemantauan adalah pusat dari segala jenis restorasi bentang alam hutan, dan bahwa pemantauan kolaboratif sangat penting

Kristen Evans

Peta jalan menuju kolaborasi dan restorasi

Perangkat diagnostik Evans dan Guariguata ini berisi matrik inti dari 42 faktor keberhasilan dan saran untuk melakukan asesmen. Para peneliti menurunkan faktor keberhasilan ini dari lebih 80 sumber terpublikasi mengenai pemantauan partisipatoris dan kolaboratif. Faktor ini kemudian dievaluasi oleh kelompok beranggotakan 20 pakar global dan diperingkat menurut kemanfaatan, relevansi dan urgensi.

Perangkat ini ditujukan untuk profesional atau tim lintas-disiplin yang berpengalaman dalam metode partisipasi, restorasi hutan, dan pemantauan manajemen sumber daya alam.

“Saya berharap masyarakat mulai melihat bahwa pemantauan menjadi inti dari restorasi bentang alam apa pun jenis hutan, dan bahwa khususnya pemantauan kolaboratif menjadi dasarnya,” kata Evans. “Perangkat diagnostik ini akan mempermudah praktisi melibatkan masyaarakat lokal dan gagasan-gagasannya. Kami tidak hanya melempar sesuatu yang menambah beban pekerjaan para praktisi.”

“Kami telah berbicara dengan banyak praktisi restorasi bentang alam hutan dan mereka yang telah mulai menggunakan pemantauan kolaboratif merasa tidak ada pilihan lain saat ini, kata Evans. “Namun perlu terobosan untuk mewujudkannya. Kami berharap perangkat ini akan membantu.”

Bacaan lebih lanjut

Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna

Pemantauan partisipatif kunci keberhasilan restorasi

Restorasi bentang alam: Pembelajaran dari Amerika Latin

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Topik :   Restorasi

Lebih lanjut Restorasi

Lihat semua