Bagikan
0

Bacaan terkait

Indonesia - Peran lahan gambut sangat signifikan dalam memerangi perubahan iklim. Menempati posisi tinggi dalam daftar aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan melindungi lahan gambut adalah mengurangi emisi gas rumah kaca melalui dekomposisi gambut. Manajemen air adalah kunci upaya ini.

“Lahan gambut memainkan  peran penting dalam merawat keragaman hayati, mengurangi emisi gas rumah kaca, menyediakan penghidupan sosio-ekonomi bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem ini, melindungi daratan dari bencana alam, dan sebagai simpanan karbon,” kata Agus Justianto, wakil dari Pemerintah Indonesia dan anggota ex-officio Dewan Penyantun CIFOR.

“Namun di balik tingginya nilai tersebut, lahan gambut merupakan ekosistem paling rentan terancam oleh aktivitas antropogenik.”

Pada 13 Mei 2019, Pusat Penelitian Lahan Gambut Tropis Internasional (ITPC) dan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) menggelar Forum Bentang Alam Global (GLF) di Kyoto, Jepang. Dalam kegiatan tersebut didiskusikan berbagai tekanan atas lahan gambut tropis. GLF Kyoto 2019, merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dunia tahun ini, termasuk pertemuan tahunan GLF di Bonn Juni lalu. GLF fokus pada bentang alam berkelanjutan sebagai bagian kritis solusi iklim.

Justianto menjelaskan bahwa tujuan sesi ini adalah “berbagi pengetahuan dan pengalaman baru di seputar implementasi konservasi dan restorasi lahan gambut. “Pembicara sesi ini antara lain perwakilan dari sektor swasta, komunitas penelitian dan pemerintah. Mereka mendiskusikan kemajuan dan tantangan restorasi lahan gambut terdegradasi; teknologi untuk asesmen emisi GRK lahan gambut; hidrologi gambut, risiko kebakaran dan provisi jasa ekosistem.

Salah satu dari lima usulan resolusi dari Indonesia dan didukung oleh negara anggota dan pemangku kepentingan lain pada sesi keempat Sidang Umum Lingkungan Hidup Program Lingkungan Perserikatan Bangsa Bangsa yang digelar di Nairobi, 11-15 Maret 2019, adalah adopsi resolusi penting mengenai lahan gambut: ‘konservasi dan manajemen berkelanjutan lahan gambut’.

“Resolusi ini menyeru negara anggota dan pemangku kepentingan lain untuk memberi penekanan lebih dalam melakukan konservasi, manajemen berkelanjutan dan restorasi lahan gambut di seluruh dunia untuk mendukung praktik manajemen lahan gambut berkelanjutan,” kata Justianto.

ITPC didirikan bersama oleh Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, dan Republik Indonesia pada 2018. Pusat penelitian ini berfungsi sebagai pusat keunggulan bagi penelitian lahan gambut tropis dalam rangka mendukung pengembangan kebijakan dan melakukan peningkatan kapasitas, penelitian dan asistensi teknis. Saat ini, Indonesia menjadi tuan rumah ITPC.

Lahan Gambut Harus Tetap Basah

Ilmuwan CIFOR, Kristell Hergoualc’h menjelaskan, “Dalam kondisi alami, lahan gambut berada dalam kondisi banjir sepanjang tahun, sehingga kondisi anaerobik ini menghambat dekomposisi. Hasilnya, sebagian besar lahan gambut merupakan serapan CO2, namun mereka juga sumber besar metana dan sebagian kecil nitrogen oksida.”

   Panelis sesi lahan gambut di GLF Kyoto sepakat menjaga agar lahan gambut tetap berair menjadi penting dalam mencegah kebakaran dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Global Landscapes Forum

“Intervensi manusia untuk pertanian atau kehutanan memodifikasi keseimbangan gas rumah kaca, dan sering mengakibatkan peningkatan signifikan emisi CO2 dan perubahan aliran metana dan nitrogen oksida yang akan bergantung pada aktivitas dan praktik yang dilakukan,” katanya.

Pengeringan tanah gambut untuk pertanian dan peternakan, secara bertahap mendorong dekomposisi gambut dan melepas sejumlah besar emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Oleh karena itu, menjaga agar lahan gambut tetap berair menjadi penting dalam mencegah kebakaran dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Secara umum, total emisi gas rumah kaca akan lebih tinggi ketika pengeringan makin dalam,” kata Hergoualc’h. “Meningkatkan tinggi air di lahan hutan tanaman bisa menurunkan emisi gas rumah kaca, namun upaya ini hanya akan memperlambat proses dekomposisi gambut. Di sisi lain, meningkatkan tinggi air bisa menjadi cara efektif mengurangi risiko kebakaran.”

Paludikultur: Budi Daya Gambut Tanpa Pengeringan

Budi daya lahan gambut berkelanjutan dengan tetap menjaga agar tetap basah dikenal sebagai paludikultur. Pejabat kehutanan lahan gambut FAO, Maria Nuutinen menyatakan bahwa kata kuncinya adalah “basah”. “Produk paludikultur perlu tetap basah, ini berarti menaikan tinggi air hingga 30 cm, ini titik manisnya di mana di banyak kasus emisi GRK teroptimalkan,” katanya.

Nuutinen menyatakan bahwa paludikultur juga perlu berkelanjutan. “Sistem paludikultur memanfaatkan spesies lahan basah yang dapat mengembalikan keragaman hayati dan mengurangi emisi gas rumah kaca.”

Ia menyatakan, sistem yang saat ini diterapkan di zona suhu sedang, memicu sejumlah inovasi untuk mengatasi tantangan yang muncul.

Menurut Nuutien, lahan gambut juga penting bagi produksi pangan, namun “tidak semua spesies secara alami dapat digunakan dalam paludikultur cocok untuk produksi pangan.”

Ia menyatakan, selain menghasilkan buah-buahan, beri, kacang dan madu, potensi lahan gambut untuk produksi ikan berkelanjutan merupakan “salah satu area penting yang terabaikan. … Ini sudah dipraktikkan di beberapa kawasan di Indonesia. Hal serupa diterapkan di Kongo, ikan sangat bernilai tinggi.”

“Keamanan air merupakan bagian keamanan pangan, dan penanaman spesies rakus air di lahan gambut sangat merusak bentang alam,” kata Nuutinen.

Profesor Mitsuru Osaki dari Universitas Hokkaido, yang telah melakukan penelitian ekstensif di lahan gambut Indonesia, mengembangkan sistem transfer data semi real-time untuk memantau tinggi air permukaan. Sistem tersebut, SESAME, akronim dari “Sensory data transmission service assisted by Midori Enginering Lab’ atau layanan transmisi data sensor oleh Lab Rekayasa Midori, memonitor nyaris secara real-time menggunakan jaringan telepon seluler.

Total emisi gas rumah kaca akan lebih tinggi ketika pengeringan di lahan gambut makin dalam

Kristell Hergoualc’h, ilmuwan CIFOR

“Telah lama kami meneliti lahan gambut di Indonesia, dan bekerja sama dengan banyak institusi di Indonesia. Kami fokus pada seluruh parameter pemantauan lahan gambut, dan kami menyimpulkan bahwa air merupakan elemen terpenting dalam lahan gambut,” kata Osaki.

Upaya Restorasi Gambut

Kebakaran besar gambut dan asap di Indonesia telah berulang hampir selama dua dekade. “Kebakaran merupakan metode termurah untuk membersihkan lahan dan juga secara sementara meningkatkan kesuburan tanah serta mengendalikan hama dan gulma. Namun, pembersihan lahan dengan api yang biasa dipraktikkan di Indonesia sangat mengancam iklim, katrns melepas sejumlah besar CO2 dan metana ke atmosfer,” kata Hergoualc’h.

“Kebakaran tunggal di sekitar 10 cm gambut, sama dengan 100 tahun akumulasi gambut. … Api sangat merusak lingkungan, dan juga membawa risiko merugikan bagi kesehatan masyarakat dan ekonomi,” lanjutnya.

Sebagai penduduk asli kawasan kaya gambut di Riau, Indonesia, Haris Gunawan, Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut Indonesia, mengaku sempat mengalami secara langsung bencana asap dalam 17 tahun terakhir.

Bertugas melakukan restorasi sekitar dua juta hektare lahan gambut di Indonesia, Gunawan percaya bahwa “unit hidrologis gambut sangat penting dalam menyangga lahan gambut, karena 80% lahan gambut mengandung air.”

Meskipun begitu, ia menyatakan bahwa “sejatinya restorasi tidak mungkin mengembalikan lahan gambut pada kondisi aslinya, … namun penting untuk memulai restorasi gambut dengan merestorasi unit hidrologi gambut.”

Restrorasi Ekosistem Riau (RER) merupakan salah satu proyek restorasi ekosistem swasta yang bekerja untuk melakukan restorasi dan konservasi kawasan hutan gambut di Tanjung Kampar, provinsi Riau, Indonesia.

   Sistem transfer data semi real-time untuk memantau tinggi air permukaan lahan gambut. Ricky Martin/CIFOR
   Pengecekan kanal rutin oleh Komunitas Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Rifky/CIFOR

“Total kawasan yang kami kelola sekitar 150.000 ha, ini dua kali luas Singapura,” kata Nyowan Iswarayoga, Direktur urusan luar RER. Ia menambahkan, “lebih dari 50% tutupan hutan di kawasan yang kami kelola masih tutupan hutan yang medium dan baik dengan spesies alami hutan Riau.”

Perusahaannya mengelola lahan dengan pendekatan bentang alam holistik, melibatkan masyarakat lokal, dan sejauh ini telah melangkah maju. “Kami telah menutup sekitar 38% total panjang kanal di lahan kami, ini lebih dari 65 km kanal,” kata Iswarayoga.

“Sejak 2015 relatif telah bebas kebakaran,” katanya, “restorasi mungkin dilakukan dengan model yang tepat.”

Sumber artikel dari berita ITPC dengan judul “Finding the balance: Curbing emissions and maximising food production in peatlands.”

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Topik :   Lahan Gambut

Lebih lanjut Lahan Gambut

Lihat semua