Analisis

Inilah alasan mengapa “alam liar” penting

Para ilmuwan menyerukan konsensus definisi lebih dari sekadar konservasi .
Perhatian pada alam liar dan ekosistem utuh yang tersisa, terserak pada beragam sudut pandang. Kate Evans/CIFOR

Bacaan terkait

Menurut artikel yang ditulis peneliti James Watson dan rekan-rekannya yang dipublikaskan jurnal Nature, sebanyak lima negara memiliki 70 persen ekosistem alami di dunia.

Dalam tulisan berjudul “Lindungi alam liar terakhir,” para penulis menyerukan ditingkatkannya aktivitas konservasi di sejumlah lokasi untuk melindungi bumi dari kehilangan keragaman hayati dan proyeksi konsekuensi buruk akibat perubahan iklim. Mereka mengangkat argumen penting untuk konservasi.

Sebuah peta mengungkap sejumlah kawasan di Australia, Brasil, Kanada, Rusia dan Amerika Serikat. Kawasan ini menyimpan sebagian besar sisa alam liar dunia.

Kawasan-kawasan tersebut, menurut penulis, masih menyimpan beragam spesies pada keberlimpahan yang hampir alami. Kawasan itu merupakan cagar keragaman hayati yang menyediakan resiliensi dan adaptabilitas bagi banyak tumbuhan dan satwa. Selain itu, kawasan ini juga penting bagi simpanan karbon dan penyuplai air bersih bagi sejumlah masyarakat hilir.

Para penulis juga menyatakan, “Sejauh ini, kontribusi keutuhan ekosistem ini belum menjadi target eksplisit dalam kerangka kebijakan internasional manapun,” seraya mengutip Konvensi Keragaman Hayati PBB (CBD) dan Perjanjian Paris sebagai contoh.

Seberapa meyakinkan argumen tersebut, akan bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan “keutuhan” dan “kealamian”. Ini jauh dari sederhana.

Para penulis Nature membahas pemanfaatan delapan indikator “tekanan manusia” untuk mengidentifikasi dan memetakan wilayah dengan sedikit aktivitas atau dampak manusia serta “area terdampak lebih dari 10.000 km2.” Mereka juga menyusun peta “ekosistem laut utuh” menggunakan data dari perikanan, industri perkapalan, limbah pupuk dan 16 indikator tambahan.

Sebelumnya, para ilmuwan lain membuat perbandingan tinjauan menggunakan kritera tersendiri. Potapov dan rekan-rekannya (Sci. Adv. 2017; 3: e1600821), misalnya menggunakan dua kriteria “perubahan ekosistem dan fragmentasi bentang alam” untuk mengidentifikasi bentang alam hutan utuh dengan area minimum 500 km2.

Kita bergembira melihat berbagai lembaga konservasi menggunakan pendekatan yang transparan dan obyektif dalam memprioritaskan perhatian dan menginformasi pengambil kebijakan. Namun, ada sisi lemah pada setiap lembaga yang mengembangkan dan mengangkat definisi yang berbeda-beda. Kita ingin ada upaya lebih besar dalam membangun konsensus lebih luas (dan lebih koheren) untuk konservasi. Tak selarasnya pendekatan berisiko mengarah pada distraksi dan konflik.

Perhatian pada alam liar dan ekosistem utuh yang tersisa, terserak pada beragam sudut pandang. Sebagian menekankan pada komunitas dan spesies terancam, sementara yang lain lebih menyoroti manfaat ekonomi, keindahan atau lainnya. Pertimbangan atas-ke-bawah ini tidak cukup sebagai basis aksi. Argumen moral dan praktis mendorong agar setiap tujuan harus mencerminkan dan menghormati pandangan dan perhatian masyarakat yang lahan dan airnya menjadi bagian satu definisi atau definisi lain.

Menetapkan, apalagi mengukur, atau menimbang kealamian dan nilainya menjadi tantangan. Tidak ada tempat di dunia ini yang terlepas dari dampak manusia. Bisa dari spesies yang dimasukkan dari tempat lain, plastik, polutan, kepunahan Pleistosen, bencana nuklir, perubahan iklim, atau penyebab eksternal lain. Akibatnya, menentukan kriteria mana yang akan digunakan dalam merencanakan ekosistem alami untuk konservasi, menetapkan garis pemisah—yang lebih cenderung berupa pemetaan bernuansa nilai-nilai penghubung—masih diperdebatkan.

Mendefinisikan “ekosistem utuh” bergantung pada tujuan dan pilihan. Sebagian besar orang memiliki ikatan perasaan personal mengenai alam liar. Kita juga menduga sebagian besar ilmuwan akan memilih kriteria, pengukuran dan ambang berbeda dalam mendefinisikan. Setiap metode yang tidak memasukkan kawasan alam penting tidak akan mendapat penerimaan yang luas dan aksi kebijakan yang efektif.

Misalnya, pada Pegunungan Foja di Papua yang memiliki biota endemik (lihat Nature 439, 774; 2006) atau Cuvette Centrale di Basin Kongo, dua wilayah tropis yang memiliki lahan gambut luas (lihat Nature 542, 86-90; 2017). Kedua wilayah yang membentang ribuan kilometer persegi, kurang tereksporasi dan masih berupa hutan tropis tak tersentuh. Namun kedua kawasan itu tak ada dalam peta Watson. Bahayanya adalah, bahwa sebagian pengambil kebijakan yang melihat peta itu mengartikan banyak banyak alam liar berharga, termasuk Foja dan basin Kongo menjadi tidak penting, dan mengijinkan eksploitasi.

Definisi terlalu sederhana menjadi problematik dalam konteks ini. Apakah beralasan bahwa sebuah kawasan seluas 9.999 km2 tidak dihitung sementara yang 10.001 kmtermasuk? Prioritas seperti itu melebihkan simplifikasi atas substansi. Pemikiran semua-atau-tidak sama sekali, kita duga menjadi pertimbangan dalam mendorong konservasi dalam habitat antropogenik (lihat Biotropica 42, 566–568; 2010).

Konservasi merupakan tujuan sosial. Definisi yang tak koheren menjadi basus yang buruk dalam membangun konsensus dan mendorong aksi. Jika konsep alami dan keutuhan alam dimaksudkan menjaga relevansi, kita membutuhkan pendekatan inklusif. Banyak orang mungkin mendukung alam liar yang luas, namun banyak juga yang memberi tekanan demi keuntungan orang kaya.

Sudah ada kesepakatan umum, bahwa target global diperlukan untuk melindungi kawasan alami, menjaga keragaman hayati, mengatasi perubahan iklim dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Namun, meski masih ada ruang untuk modifikasi dan penyempurnaan, kerangka yang telah ada memungkinkan kita untuk mengidentifikasi prioritas konservasi global. Menetapkan beragam target paralel malah memperkeruh dan mempersulit upaya ini.

Contohnya, Aichi Biodiversity Targets memberikan kerangka bagi Konvensi Keragaman Hayati (CBD). Aichi ditandatangi oleh 150 negara pada 1992, dalam rangka melindungi tumbuhan dan satwa, menjaga keamanan pangan dan mencegah perubahan iklim.

Para konservasionis dapat melangkah lebih ketika mereka bekerja bersama.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Douglas Sheil di d.sheil@cgiar.org atau Paolo Cerutti di p.cerutti@cgiar.org atau Christopher Martius di c.martius@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Topik :   Restorasi

Lebih lanjut Restorasi

Lihat semua