Bagikan
0

Bacaan terkait

Indonesia - Memahami bagaimana ekosistem berfungsi dapat membantu para ilmuwan mengembangkan strategi dalam menjaga bumi menghadapi risiko perubahan iklim.

Ekosistem mangrove telah diakui kemampuannya dalam menyimpan sejumlah besar karbon dan melindungi erosi pesisir akibat gerusan laut. Selain itu, menurut penelitian terbaru, ekosistem mangrove berperan sebagai penyangga dengan menangkap sedimen kaya karbon organik yang datang bersama dengan kenaikan permukaan laut.

Dalam sebuah penelitian terbaru, para ilmuwan menyimpulkan, laju sedimentasi lumpur, di pinggir maupun di dalam ekosistem mangrove di provinsi Sumatera Utara mencapai 3,7 hingga 5,6 mm (seperdelapan hinggi seperempat inci) tiap tahun.

Para ilmuwan membandingkan temuan penelitian tersebut dengan laju peningkatan tahunan permukaan laut global dan regional, masing-masing sebesar 2,6 hingga 4,2 mm.

“Meski dapat menoleransi genangan akibat aktivitas pasang-surut, mangrove bisa mati dan habitatnya rusak jika frekuensi dan durasinya melampaui ambang fisiologisnya,” kata Daniel Murdiyarso, ilmuwan utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), yang melakukan penelitian bersama mahasiswa Institut Pertanian Bogor dan Badan Tenaga Atom Nasional.

“Hasil kami menunjukkan, jika tidak terjadi perubahan dasar permukaan yang tak terduga, sebagian besar ekosistem dapat mengimbangi kenaikan permukaan laut – kecuali mangrove bagian dalam, yang tidak akan selamat dari kenaikan regional – mangrove memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim.” Secara global, laju sedimentasi “pencetakan lahan” mangrove berada di antara 1 dan 10 mm tiap tahun. Sekitar 80 persen sedimen terkumpul dari aktivitas pasang surut yang ditahan oleh kompleksnya sistem perakaran.

“Regenerasi alami seharusnya didorong,” kata Murdiyarso. Ia menambahkan, sedimentasi mangrove dapat terus berperan penting dalam sekuestrasi karbon – bahkan saat permukaan laut naik.

Temuan yang akan dipaparkan pada Blue Carbon Summit di Jakarta, 17-18 Juli mendatang ini menunjukkan, meski berada dalam tingginya tekanan lingkungan di Sumatera Utara terkait produksi tambak udang, perkebunan kelapa sawit pesisir dan tingginya intensitas pelabuh, mangrove mampu bertahan.

Meskipun potensi penting mangrove dalam mitigasi perubahan iklim telah diakui secara luas dalam kebijakan lingkungan hidup internasional yang bertujuan menurunkan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, yang dikenal sebagai inisiatif REDD+, mangrove belum masuk dalam Komitmen Kontribusi Nasional (NDC) Indonesia.

Terdapat kebutuhan untuk mengimplementasikan panduan NDC. Panduan ini merinci rencana aksi tiap negara dalam upaya mengatasi risiko perubahan iklim melalui adaptasi dan mitigasi – yang disusun sebagai bagian Perjanjian Paris PBB 2015 mengenai perubahan iklim.

Perjanjian Paris menetapkan, kenaikan temperatur global harus berada di bawah 2 derajat Celsius pada tingkat pra-industri. Ditargetkan pula upaya untuk membatasi kenaikan temperatur hingga 1,5 derajat Celsius pada tingkat pra-industri untuk dapat mengurangi risiko perubahan iklim.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Prosiding National Academies of Sciences awal tahun ini, menyatakan bahwa pada tingkat laju saat ini, lautan dunia akan lebih tinggi rata-rata 60 cm pada akhir abad.

TERKAIT

Sedimentasi dan akumulasi karbon pada lahan hutan mangrove terdegradasi di Sumatera Utara, Indonesia

Infografis mengenai mangrove, dapat diunduh

Data & Fakta: Kontribusi mangrove pada mitigasi perubahan iklim di Indonesia

Artikel asli ini dari Global Landscapes Forum. Baca artikel sumber.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org