Berita

Pemantauan partisipatif kunci keberhasilan restorasi

Untuk mencapai tujuan restorasi global jangka panjang, keterlibatan masyarakat lokal membutuhkan lebih banyak dukungan
Bagikan
0
Masyarakat saling mengajarkan cara menggunakan perangkat GPS di Pando, Bolivia. Foto CIFOR / Kristen Evans

Bacaan terkait

150 Juta hektar lahan mengalami degradasi – lahan seluas wilayah Alaska.

Perhatian terhadap kondisi ini membuat pemerintah di seluruh dunia berjanji melakukan restorasi mulai tahun 2020 dalam kesepakatan Tantangan Bonn. Dan andai kelestarian hutan dapat bertahan lebih dari satu atau dua tahun, maka sepatutnya masyarakat lokal terlibat memantau hutan secara berkelanjutan, pendapat para ilmuwan.

“Bila restorasi tidak berpengaruh bagi penduduk setempat, maka kegagalan dapat terjadi,” kata Kristen Evans dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). “Mungkin ada banyak penanaman pohon dilakukan, namun sekaligus juga banyak pohon mati.”

Dalam makalah terbaru, Evans dan rekan peneliti menelaah suatu kasus menghubungkan rencana global dengan prioritas lokal dan pelibatan masyarakat dalam menetapkan tujuan proyek restorasi hutan, mengukur kemajuan proyek, berbagi dan belajar dari hasil-hasil proyek dengan para pengambil keputusan di berbagai tingkatan. Proses ini disebut pemantauan partisipatif.

Target saat ini untuk restorasi bentang alam hutan sebagian besar bersifat atas ke bawah, ujar Manuel Guarigata peneliti utama CIFOR sekaligus rekan penulis riset. Kenyataannya kegiatan restorasi dimulai di daerah-daerah.

“Rencana-rencana yang digerakkan pemerintah ini diimplementasikan dalam banyak kasus oleh masyarakat lokal. Bahkan jika hanya skema penanaman pohon yang sederhana, masyarakat akan menjadi penanggung jawab. Jika itu menguntungkan masyarakat, mereka akan menyuburkan pohon dan menyiraminya  – sebaliknya  jika mereka tidak memiliki minat, mereka tidak akan melakukan apa-apa. ”

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa penduduk setempat dapat mengumpulkan data akurat tentang perubahan tutupan hutan (dan alasan di baliknya) serta dampak sosial ekonomi untuk sekitar sepertiga dari biaya perekrutan profesional.

Pemantauan partisipatif juga dapat memberikan informasi waktu nyata yang penting tentang apakah suatu proyek berjalan atau tidak – dan bahkan lebih penting lagi, mengapa.

“Jika Anda hanya mengukur dari luar angkasa, tidak ada yang bisa mengetahui mengapa kegiatan penanaman pohon tidak berjalan,” kata Guariguata.

Jika itu menguntungkan mereka, mereka akan menyuburkan pohon, mereka akan menyirami mereka dan jika mereka tidak memiliki minat, mereka tidak akan melakukannya

Manuel Guariguata, Peneliti Utama CIFOR
   Community members help monitor the growth of a seedling in Guarayos, Bolivia. CIFOR Photo/Kristen Evans
   In Pando, Bolivia, community members learned how to use participatory mapping to monitor Brazil nut stands. CIFOR Photo/Kristen Evans

MARI BEKERJA BERSAMA

Cerita tentang pemantauan partisipatif sering berfokus pada teknologi inovatif yang memungkinkan komunitas hutan mengumpulkan data – GPS, gawai dan media sosial.

Tetapi kekuatan nyata dari teknik ini terletak pada sesuatu yang tampak sederhana, Evans mengatakan: manusia berkumpul dan saling berkomunikasi, melakukan dan belajar dari satu sama lain.

“Kami menyebutnya pembelajaran sosial, dan itu hanya terjadi ketika Anda mengumpulkan sekelompok orang,” kata Evans. “Ini membantu memecahkan hambatan, dan orang-orang lebih mungkin memahami sudut pandang masing-masing.”

Salah satu dari beberapa inisiatif restorasi yang telah menerapkan pemantauan partisipatif di beberapa situs adalah Program Pemulihan Bentang Alam Hutan Kolaboratif Dinas Kehutanan AS.

Program ini mengumpulkan para pengiat konservasi dan penebang kayu bersama-sama mengumpulkan data, kata Evans.

“Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berbicara, yang melihat diri mereka di sisi yang berlawanan dari begitu banyak masalah – tetapi ketika mereka benar-benar bekerja bersama dan memecahkan masalah, banyak konflik menghilang.”

“Pria cenderung mendominasi rapat. Tetapi ketika Anda mengumpulkan semua orang di hutan dan mengukur pohon, wanita sering mendapatkan kedudukan yang sama – tidak hanya dalam melakukan pekerjaan, tetapi berpartisipasi dalam diskusi dan memberikan pendapat mereka. Dan hasil akhirnya didapatkan keputusan jauh lebih beragam untuk diekspresikan.”

TETAP TERMOTIVASI

Pelajaran utama dari literasi ini adalah bahwa pemantauan partisipatif perlu diprioritaskan dan didanai dengan baik sejak awal, kata Evans – bukan sekedar diperlakukan sebagai bahan renungan.

“Pembelajaran sosial membutuhkan waktu, logistik, dan uang, karena Anda harus mengumpulkan orang-orang. Anda harus mengatur hal-hal ini, atau itu tidak akan terjadi. ”

Hal ini juga merupakan komitmen berkelanjutan.

“Orang-orang tidak terus memantau sendiri,” kata Evans. “Dibutuhkan insentif motivasi dari luar – itulah kenyataannya, dan itu harus dianggarkan.”

Tidak ada sistem pemantauan satu ukuran untuk semua yang dapat diterapkan di seluruh wilayah. Para pemimpin proyek perlu menyusun strategi bersama masyarakat dari awal – tetapi pada saat yang sama, diperlukan konsistensi. Memiliki terlalu banyak indikator kesuksesan dapat menjadi berat.

Jadi, apa yang berhasil?

“Pertahankan sasaran yang sederhana, libatkan masyarakat agar diketahui di tingkat lokal pertanyaan apa yang benar-benar penting bagi mereka, menghargai waktu mereka, dan memotivasi pihak-pihak lain untuk terlibat dengan mendengarkan apa yang penting bagi mereka,” kata Evans.

“Pemilihan indikator dapat dilakukan sesudahnya,” kata Guariguata.

Penting juga untuk memproses data yang dikumpulkan sesegera mungkin sehingga setiap kesalahan dapat diidentifikasi dan ditangani dengan cepat.

Orang-orang tidak terus memantau sendiri. Dibutuhkan insentif motivasi dari luar - itulah kenyataannya, dan itu harus dianggarkan

Kristen Evans, Peneliti CIFOR

SEKARANG WAKTUNYA

Dengan lusinan negara berkomitmen untuk memulihkan jutaan hektar lahan hutan terdegradasi dalam beberapa tahun ke depan, dana untuk pemantauan partisipatif perlu tersedia segera, kata Evans.

Ia mendukung pengaturan kurang lebih 20 lokasi percontohan dalam inisiatif pemulihan bentang alam hutan di seluruh dunia.

“Kita hanya perlu mulai melakukannya dalam skala kecil, di mana kita bisa membuat kesalahan dan belajar. Sudah cukup berdiskusi – saatnya keluar dan bekerja.”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Manuel Guariguata di m.guariguata@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org