hide menu   
FORESTS NEWS
Liputan Khusus   /   26 Juli 2024

Penduduk desa di Sumatra Selatan memilih kaya dari restorasi mangrove

Proyek SMART membantu membangun bidang usaha lokal yang layak sekaligus melindungi dan memulihkan hutan mangrove

Pada tahun 2022, Abdullah—Ketua Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Sungsang IV di Sumatra Selatan, Indonesia—didekati oleh seorang pengusaha dari desa tetangga dengan tawaran kontroversial.

Pengusaha tersebut menjanjikan uang yang besar—dan bahkan sebuah mobil!—sebagai imbalan atas sebidang lahan hutan mangrove di desa tersebut, yang rencananya akan ia jual kepada beberapa calon pembeli lahan.

Namun Abdullah menolaknya. Sebab, kelompoknya telah diberi mandat untuk melindungi dan memantau kawasan hutan desa seluas 553 hektare itu untuk jangka waktu 35 tahun. Ketika dia kemudian mengetahui bahwa pengusaha tersebut kini sedang menjalani hukuman penjara karena kasus penipuan, dia merasa semakin yakin bahwa keputusannya yang lalu itu sudah benar.

LDPHD merupakan kolaborator utama proyek Sungsang Mangrove Restoration and Ecotourism (SMART), sebuah usaha berbasis riset aksi partisipatif (PAR) yang dilaksanakan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF) bekerja sama dengan Universitas Sriwijaya dan Forum Daerah Aliran Sungai Sumatra Selatan, pada tahun 2021-2025.
Pada 2023, LDPHD menandatangani perjanjian kerja sama dengan sebuah perusahaan swasta untuk pengembangan perhutanan sosial di kawasan hutan lindung itu. Tahun ini, mereka juga mulai bekerja sama dengan sebuah perusahaan swasta lain dalam program ‘adopsi pohon’. Program ini merupakan upaya untuk melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan yang beragam dalam inisiatif restorasi—dan membantu memastikan keberlanjutan upaya pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan pemantauan mangrove setelah proyek SMART berakhir.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa hal terpenting adalah merawat mangrove, bukan sekadar menanamnya,” kata Beni Okarda, peneliti senior di CIFOR-ICRAF. “Pohon mangrove barulah dapat tumbuh mandiri setelah berusia tiga tahun; untuk sampai umur itu, mereka perlu dipantau dan dirawat.”
Hingga Juni 2024, proyek SMART telah menanam kembali 48.353 bibit mangrove lokal di lahan seluas 15,8 hektare di empat arena aksi, yang merupakan kawasan terdegradasi di Desa Sungsang IV dan Marga Sungsang. Proyek ini berfokus pada eksplorasi bagaimana upaya pemulihan mangrove di Sungsang dapat meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat setempat. “Itulah sebabnya kami menciptakan berbagai model bisnis yang diharapkan bisa menghasilkan pendapatan untuk masyarakat,” kata Agus Andrianto, peneliti lainnya di CIFOR-ICRAF.
Untuk itu, di Marga Sungsang, proyek ini memfasilitasi usaha wanamina kepiting (crab silvofishery) berbasis masyarakat, dengan menggunakan sistem akuakultur tradisional yang menggabungkan kegiatan budi daya kepiting dengan penanaman mangrove di dua kolam seluas 0,319 hektare. Panen pertama mereka diproyeksikan menghasilkan sekitar 240 kilogram kepiting. Sementara itu, di Sungsang IV, proyek SMART mendukung kelompok masyarakat setempat untuk memulai usaha pembibitan mangrove, yang kini telah menjual bibit-bibit itu ke perusahaan dan lembaga yang terlibat dalam restorasi.
“Alhamdulillah, masyarakat sudah menyadari bahwa tanpa harus membuka hutan mangrove, mereka bisa mendapatkan manfaat dari hutan itu,” kata Kepala Desa Sungsang IV, Romi Adi Candra. Dampak positif lainnya adalah meningkatnya pariwisata, dengan 1.300 pengunjung dalam setahun datang ke kawasan ekowisata mangrove desa, yang juga meningkatkan pendapatan lokal dari sektor penjualan makanan, penginapan di rumah penduduk, dan transportasi.
Kunjungan Temasek Foundation ke Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Warga desa menunjukkan kepada anggota Temasek Foundation cara mengukur pohon mangrove. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Budidaya udang berbasis masyarakat di Desa Banyuasin Marga Sungsang. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Mat Hasan, seorang guru dan kreatif, memperlihatkan sabun yang dibuatnya dari mangrove. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Kepiting dalam jaring di Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Pembibitan mangrove di Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Lela, seorang pengusaha lokal, di Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Produksi pempek di Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Foto udara Desa Sungsang IV di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Lokasi pembibitan mangrove, program SMART di Desa Sungsang IV Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Seekor monyet di lokasi mangrove dekat Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Seekor kepiting di lumpur mangrove dekat Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Foto udara Desa Sungsang IV di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Lokasi pembibitan mangrove, program SMART di Desa Sungsang IV Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Seekor monyet di lokasi mangrove dekat Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF
Seekor kepiting di lumpur mangrove dekat Desa Sungsang IV, Banyuasin, Sumatra Selatan. Foto oleh Ricky Martin/CIFOR-ICRAF

Bagi Abdullah, proyek restorasi mangrove ini sangat penting karena ia melihat wilayah daratan Sungsang semakin terkikis oleh abrasi dan penebangan mangrove membuat desanya semakin rentan terhadap banjir rob. “Rumah kakek saya yang dulunya tidak pernah banjir, kini sering banjir,” katanya. “Saya jadi memikirkan keselamatan keluarga saya.”

Manfaat jangka panjang dari pemulihan dan perlindungan hutan mangrove merupakan landasan proyek ini, kata Sonya Dyah Kusumadewi, peneliti lainnya di CIFOR-ICRAF. “Perlindungan pesisir, mitigasi perubahan iklim, dan pengurangan risiko bencana, semuanya penting bagi masyarakat pesisir kita,” tegasnya.

Ucapan Terima Kasih

Seluruh kegiatan proyek SMART didanai sepenuhnya oleh Temasek Foundation, sebuah organisasi nirlaba asal Singapura.

Copyright policy:
We want you to share Forests News content, which is licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). This means you are free to redistribute our material for non-commercial purposes. All we ask is that you give Forests News appropriate credit and link to the original Forests News content, indicate if changes were made, and distribute your contributions under the same Creative Commons license. You must notify Forests News if you repost, reprint or reuse our materials by contacting forestsnews@cifor-icraf.org.