Berita

Bagaimana Cara Memantau Lahan Gambut Secara Holistik… dan Praktis

Para peneliti berbicara mengenai kriteria dan indikator standar untuk memantau proses restorasi lahan gambut
Bagikan
0
Purun (Lepironia articulata), sejenis rumput yang termasuk dalam suku teki-tekian (Cyperaceae) yang sering digunakan sebagai bahan anyaman. Foto oleh: Rifky/CIFOR

Bacaan terkait

Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa proses restorasi lahan gambut berjalan dengan baik? Apakah dengan mengukur permukaan air; bertanya kepada penduduk lokal mengenai mata pencaharian mereka; mengkaji proses pembuatan keputusan dan dinamika gender; atau melihat statistik frekuensi kebakaran lahan gambut? Kemungkinan besar: kita harus melakukan semua aktivitas itu dan mungkin kegiatan lainnya.

Melestarikan dan memulihkan lahan gambut merupakan salah satu upaya penting untuk memitigasi perubahan iklim, menjaga kesehatan ekosistem, dan mendukung pembangunan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Namun, tuntutan ekonomi menyebabkan lahan gambut dikeringkan dan diubah fungsinya untuk kegiatan lain (seperti perkebunan, pertanian, atau peternakan). Lahan gambut yang terdegradasi ini dapat dijadikan target restorasi untuk mengurangi hilangnya karbon dan jasa ekologi penting lainnya yang disediakan oleh lahan gambut alami. Tetapi, untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, restorasi jangka panjang yang efektif perlu dipantau secara benar untuk menyesuaikan desain, strategi, pemilihan lokasi, serta pendekatan pengelolaan sesuai dengan konteks lokal, sambil mengubah cara untuk menyesuaikan dengan kebutuhan.

Di Indonesia, negara yang merupakan rumah dari hampir seperempat lahan gambut tropis dunia, para peneliti di Center for International Forestry Research dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) telah mengembangkan serangkaian kriteria dan indikator (K&I) standar untuk membantu menilai proses dan hasil dari restorasi lahan gambut. Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Pusat Studi Risiko Bencana Universitas Riau, organisasi konservasi, dan pengembangan PT Rimba Makmur Utama yang didukung juga dengan melakukan konsultasi dengan ahli gambut nasional dan internasional tahun lalu.

Pada 7 Juli 2022, CIFOR-ICRAF – bekerja sama dengan UN Environment Program (UNEP), Global Peatlands Initiative (GPI), dan International Tropical Peatland Center (ITPC) menyelenggarakan lokakarya nasional secara virtual untuk menyampaikan draft K&I standar yang telah dikembangkan sebagai alat praktis untuk membantu pembuat keputusan, praktisi, dan masyarakat sipil. “Restorasi lahan gambut melibatkan banyak dimensi, karena proses ini tidak dilakukan di atas selembar kertas kosong: lokasi yang perlu direstorasi merupakan lanskap sosial dan ekologis yang dinamis yang memiliki berbagai kepentingan dan praktik masa lalu yang perlu diperbaiki,” jelas Ilmuwan BRGM, Myrna Safitri, berbicara mengenai kompleksitas tugas yang perlu dilakukan.

“Oleh karena itu, untuk menilai kesuksesan restorasi, diperlukan pemahaman akan keadaan bentang alam saat ini dan sejarah dari terbentuknya lanskap tersebut. Pengembangan K&I untuk menentukan keberhasilan restorasi lahan basah bukanlah instrumen hitam-putih: perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.”

Untuk membantu proses kontekstualisasi tersebut, diskusi panel secara kritis menganalisis kekuatan, kelemahan, dan peluang penggunaan K&I untuk memantau lahan gambut dalam empat aspek utama: biofisik, sosial, ekonomi, dan tata kelola. Berbicara tentang aspek ekonomi, Guru Besar Universitas Tanjung Pura dan Ilmuwan Tanah, Gusti Anshari melihat bahwa “restorasi lahan gambut tidak hanya tentang menjaga ekosistem tetap hidup, tetapi juga menyediakan produk ekonomi dan komoditas serta jasa lingkungan bagi masyarakat” Ia mengungkapkan bahwa “tidak mungkin bagi orang-orang yang terpinggirkan di lahan terdegradasi untuk mengembangkan lahan gambut berkelanjutan: mereka membutuhkan lebih banyak dukungan. Proyek lahan gambut bergantung pada semua pemangku kepentingan.”

Ilmuwan Utama CIFOR-ICRAF, Michael Brady setuju akan pentingnya pertimbangan ekonomi semacam ini, ia juga menyoroti kebutuhan untuk memverifikasi kriteria prioritas melalui pengujian lapangan serta menyediakan pengelolaan, pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan – serta untuk memperhitungkan biaya-biaya ini ketika melakukan perencanaan dan penganggaran. Ilmuwan Senior, CIFOR-ICRAF Herry Purnomo berbicara tentang perlunya tata kelola di semua tingkat lanskap lahan gambut yang ditandai dengan akuntabilitas, serta peraturan yang jelas dan mudah diterapkan.

   Potret Kawasan Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Sebokor. Foto oleh: Faizal Abdul Aziz/CIFOR

Berbicara mengenai  unsur-unsur biofisik restorasi gambut, para peserta lokakarya menyampaikan pendapat mereka mengenai kemajuan menuju target hidrologis, revegetasi dan pengurangan kejadian kebakaran, melalui polling Slido. Mereka juga memilih prioritas utama sosial, ekonomi, dan tata kelola untuk penilaian dampak.

Para peserta kemudian juga memperhatikan bidang praktis: setelah memutuskan apa yang akan diukur, proses penerapannya memiliki tantangannya sendiri. Dengan demikian, panel mengeksplorasi ‘mur dan baut’ dari pengembangan dan pengujian lapangan proses K&I konsultatif. Tiga anggota CIFOR-ICRAF dalam panel – Anna Sinaga, Meli Sasmito, dan Siti Chaakimah – mengatakan bahwa mengakses dan menganalisis informasi mengenai elemen biofisik restorasi lahan gambut relatif mudah, tetapi aspek sosial dan ekonomi seringkali lebih rumit dan sulit untuk dipecahkan. Hal ini menyebabkan K&I mungkin memerlukan berbagai revisi,  termasuk adaptasi spesifik sesuai lokasi untuk memperhitungkan konteks lokal. Aspek tata kelola juga memerlukan perumusan dan verifikasi kontekstual yang lebih kompleks oleh orang-orang dengan keahlian khusus di bidang ini.

Di sisi lain skala implementasi, proses pelembagaan K&I juga dapat menimbulkan tantangan tersendiri. Panel ahli yang menampilkan Ilmuwan BGRM, Budi Wardhana dan Agus Yasin bersama Josi Khatarina dari United States Agency for International Development (USAID) Bidang Kegiatan Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan Lintas Wilayah membahas peluang, tantangan, pengembangan kapasitas, dan dukungan kelembagaan yang ada untuk melakukan praktik ini secara luas dan secara efektif.

Terlepas dari tantangan tersebut, momentum seputar restorasi lahan gambut saat ini sedang bermunculan di seluruh dunia, seperti yang diakui Maria Nuutinen – titik fokus Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Inisiatif Lahan Gambut Global (Global Peatland Initiative, GPI). “Saya sangat senang melihat bahwa tampaknya ada pemahaman yang sangat luas tentang status restorasi dan apa yang sebenarnya dibutuhkan,” katanya.

Informasi merupakan bagian dari ‘apa yang dibutuhkan’ pada skala global dan inisiatif K&I akan membantu mencapai tujuan ini, kata profesor Scotland’s Rural College, Mark Reed. Beliau juga merangkum beberapa pekerjaan GPI “menuju standarisasi bagaimana kami mengumpulkan dan dapat mensintesis orang dan data di seluruh dunia sehingga kami dapat memberikan bukti yang lebih baik untuk kebijakan dan praktik dalam upaya melindungi habitat yang luar biasa ini.”

   Peneliti mengukur diameter pohon di hutan rawa gambut tropis di Kalimantan Tengah, Indonesia. Survei diameter pohon merupakan salah satu langkah pemantauan karbon hutan. Foto oleh: Sigit Deni Sasmito/CIFOR
   Pengukuran perubahan elevasi permukaan gambut dengan menggunakan metode Rod Surface Elevation Table (rSET). Foto oleh: Sigit Deni Sasmito/CIFOR

International Tropical Peatlands Center (ITPC) juga memainkan peran penting, terutama dalam hal “mengkoordinasikan ilmuwan interdisipliner — nasional, regional, dan lokal — untuk menanggapi penguatan kriteria dan indikator untuk mendukung pencapaian global restorasi ekosistem lahan gambut khususnya referensi untuk lahan gambut tropis,” kata Koordinator ITPC, Haruni Krisnawati.

Ketika berbagai peserta, pembawa acara serta topik bersatu dalam acara tersebut, kolaborasi lintas tingkat, lokasi, dan disiplin ilmu telah dan akan menjadi fitur utama dalam mengembangkan K&I yang efektif dan berhasil memberlakukan restorasi. “Untuk mencapai dampak nyata, semua aliran informasi, data, dan bukti yang berbeda ini harus disatukan,” kata Ilmuwan CIFOR-ICRAF, Rupesh Bhomia. “Agenda ini adalah langkah lain untuk bersatu, mengidentifikasi alat, sumber daya, dan kapasitas apa yang kita miliki, mengidentifikasi kesenjangan, dan kemudian mencoba mengatasinya. Itu hanya akan terjadi dengan upaya bersama, dengan kemajuan yang kita buat bersama sebagai sebuah tim. Kita mungkin mewakili organisasi, aliran pemerintahan, atau praktisi yang berbeda, tetapi karena kita memiliki komitmen untuk  tujuan yang sama, kita akan maju ke depan.”

“Sambil mengedepankan bukti ilmiah, sudah waktunya untuk memiliki alat penilaian yang kuat dan praktis,” kata Daniel Murdiyarso, Ilmuwan Utama di CIFOR, yang memiliki gagasan untuk menyelenggarakan series empat webinar pada 2021, dengan virtual Lokakarya Nasional sebagai puncak acara. Ia menambahkan pada akhir acara, mengingat dukungan dari berbagai lembaga donor, termasuk United States Agency for International Development (USAID), International Climate and Forest Initiative Norwegia (NICFI) dan Agency For Development Cooperation (NORAD), dan Inisiatif Iklim Internasional (IKI), “ini adalah inisiatif yang didorong oleh permintaan, dan kita sadar akan hal ini”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org