hide menu   
FORESTS NEWS
In-depth   /   14 Jun 2022

 

Dari Madu ke Kerajinan Tangan:

Membentuk Mata Pencaharian Berkelanjutan di Sumbawa

Gubernur merayakan pendekatan inovatif

Apa kesamaan antara kelompok penenun keranjang dengan peternak lebah yang baru dilatih dan koperasi yang merancang ekowisata desa serta peraturan untuk mendukungnya?

Mereka adalah bagian dari Proyek Kanoppi di Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia yang berakhir pada Desember 2021. Tim proyek riset berkesempatan untuk mempresentasikan rekomendasi kepada gubernur secara langsung.

Proyek yang baru saja selesai ini dipimpin oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF), yang juga mempresentasikan lokasi di Provinsi Timor Barat dan Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, bertujuan meningkatkan pendapatan petani kecil dengan mengembangkan,  mempromosikan produksi, serta memasarkan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK).

Semuanya ditampilkan dalam video pendek tentang hasil proyek riset.

Terletak di bioregion Wallacea yang unik, Pulau Sumbawa memiliki sekitar 86 persen hutan tropis di Nusa Tenggara Barat, serta ekosistem mangrove yang luas. Ini juga merupakan habitat bagi hampir 2 juta orang dari berbagai etnis dan budaya – termasuk Suku Bajo yang terkenal, yang tinggal di sebuah pulau kecil yang dibuat dari karang di pantai utara.

 

Proyek CIFOR-ICRAF yang juga berlokasi di Timor Barat dan Gunungkidul di Yogyakarta, bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani skala kecil dengan mengembangkan dan mempromosikan produks dan pemasaran hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK).

Semuanya ditampilkan dalam video tentang pencapaian proyek riset hingga saat ini.

 
 

Terletak di bioregion Wallacea yang unik, Pulau Sumbawa memiliki sekitar 86 persen hutan tropis di Nusa Tenggara Barat, serta ekosistem mangrove yang luas. Ini juga merupakan habitat bagi hampir 2 juta orang dari berbagai etnis dan budaya – termasuk Suku Bajo yang terkenal, yang tinggal di sebuah pulau kecil yang dibuat dari karang di pantai utara.

 
 
Woman drying a candlenut. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR
Unique mangrove ecosystem provides a buffer between land and sea, Sumbawa, Indonesia
Photo by Donny Iqbal/CIFOR-ICRAF

Suku Bajo, hidup dari generasi ke generasi di Pulau Bungin di pantai utara Pulau Sumbawa

“Sumbawa merupakan pulau kecil, dan itu membuatnya sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, deforestasi, dan konversi hutan,” kata Ani Adiwinata, Ilmuwan di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF), sekaligus koordinator penelitian tata kelola lanskap pada proyek riset ini.

“Itu juga membuat interkoneksi antara daratan dan bentang laut semakin intensif, dan membutuhkan pendekatan yang terintegrasi secara khusus,” katanya.

Unique mangrove ecosystem provides a buffer between land and sea, Sumbawa, Indonesia
Photo by Donny Iqbal/CIFOR-ICRAF
Ini juga membuat interkoneksi antara daratan dan bentang laut menjadi lebih intensif, membutuhkan pendekatan yang terintegrasi secara khusus
Ani Adiwinata, Ilmuwan CIFOR-ICRAF

Untuk membantu menjaga hutan Sumbawa tetap lestari dan populasi manusia berkembang, sangat penting untuk menciptakan peluang ekonomi yang tidak merusak lingkungan.

Secara historis, kegiatan ekonomi di Sumbawa sebagian besar bersifat ekstraktif, dan sumber daya alamnya yang melimpah telah dijual ke pulau-pulau lain dan diekspor. Artinya, konsumen lokal harus membeli kembali produk tersebut sebagai barang jadi sebagian atau barang jadi dengan biaya tinggi.

“Selama ini kita belum bisa merasakan kemakmuran, karena kita sudah puas dengan hanya menjual produk mentah, kemudian membeli kembali dalam bentuk produk setengah jadi dan barang jadi dengan harga mahal,” jelas Gubernur Zulkieflimansyah. “Saatnya memulai langkah awal dari perjalanan panjang untuk membuat perbedaan,” katanya dalam pertemuan penyambutan Tim Kanoppi.

 

Ternak merupakan aset berharga bagi masyarakat

Kopi organik asli Sumbawa di Desa Punik penting bagi perekonomian lokal

 

Di situlah Kanoppi berkontribusi. Proyek riset yang sangat diapresiasi oleh gubernur, menurut Adiwinata, menggunakan penelitian aksi partisipatif untuk memengaruhi proses kebijakan dan menerjemahkan strategi berbasis lanskap ke dalam praktik.

Dengan menggunakan pendekatan agroforestri komplementer, tujuan utamanya adalah mengembangkan model bisnis inklusif berbasis masyarakat yang kuat sebagai penggerak ekonomi regional.

Selama ini, kita belum bisa merasakan kemakmuran, karena kita sudah puas hanya dengan menjual produk mentah, kemudian membeli kembali dalam bentuk produk setengah jadi dan barang jadi dengan harga yang mahal.
Zulkieflimansyah, Gubernur Nusa Tenggara Barat

Rumput ketak (Lygodium circinnatum):
Dari rumput hingga menjadi bahan baku yang bernilai ekonomis untuk membuat kerajinan tangan

“Kanoppi telah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pemahaman mereka dari rumput ketak hingga bernilai ekonomis untuk industri kerajinan di Lombok,” kata Wayan Widhiana, Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu.

Rumput ketak (Lygodium circinnatum)
di Desa Batudulang, Sumbawa

Oleh karena itu, Kanoppi memfasilitasi perjalanan kelompok wanita lokal untuk mengunjungi Pulau Lombok dan belajar keterampilan menganyam keranjang, dan kemudian menerapkannya di desa mereka di mana rumput ketak bisa ditemukan.

“Kanoppi ingin para wanita maju sehingga kami sebagai ibu rumah tangga dapat memiliki penghasilan tambahan,” kata Fitri Rayana, yang mengepalai Kelompok Kerajinan Tangan Rumput Ketak. “Kami sangat termotivasi untuk memanfaatkan rumput ketak untuk menghasilkan banyak kerajinan tangan yang berbeda, dibandingkan dengan apa yang kami lihat saat ini, di mana banyak produk menggunakan plastik sebagai bahan baku utama.” Fitri Rayana, Kepala Kelompok Pengrajin Ketak.

Kanoppi ingin para wanita maju agar para ibu rumah tangga bisa memiliki penghasilan tambahan. Kami sangat termotivasi dalam memanfaatkan rumput ketak untuk menghasilkan banyak kerajinan yang berbeda, dibandingkan dengan apa yang kita lihat saat ini di mana banyak produk menggunakan plastik sebagai bahan baku utama.
Fitri Rayana, Ketua Kelompok Pengrajin Rumput Ketak
 
Anggota Kelompok Pengrajin Ketak menggunakan keterampilan menenun keranjang setelah lokakarya di Lombok

Dipimpin oleh Tim Peneliti ICRAF, Kanoppi juga mendukung petani kecil dalam mempraktikkan agroforestri, termasuk menggabungkan pohon buah-buahan dan tanaman obat seperti jahe dan kunyit.

Peternakan lebah juga berpotensi dengan pengembalian bernilai tinggi, yang memanfaatkan populasi lebah trigona asli yang tidak menyengat (Trigona sp.), dan menawarkan manfaat yang jelas untuk pemeliharaan dan perluasan keanekaragaman hayati lokal.

Untuk itu, “Kanoppi telah memfasilitasi pengembangan Pusat Pembelajaran Trigona, di mana calon peternak lebah dapat mempelajari teknik budi daya lebah, dan trik-trik dari perdagangan serta manajemen bisnisnya.” kata Muktasam Abdurrahman dari Universitas Mataram, yang berkolaborasi dengan Syafrudin Syafii, Koordinator Lapangan untuk Tim Kebijakan Kanoppi.

“Ada tiga produk dari Budidaya Lebah Trigona yaitu madu, propolis, dan serbuk sari,” kata Juraidin, Kepala Pusat Pembelajaran Trigona, serta Kelompok Komunitas Hutan Batu Padewa.

“Produk utama ini adalah dasar untuk rencana kerja dalam koperasi kami, dan akan menjadi kegiatan bisnis utama di bawah program kehutanan sosial. Kami akan mengatur generasi muda yang lulus dari sekolah menengah dan universitas untuk mengelola bisnis ini.”

 

Juraidin, Ketua Trigona Learning Centre, mendemonstrasikan teknik beternak lebah di Desa Pelat

Madu hutan dari lebah Apis dorsata bees di area hutan Sumbawa

Dari semua usaha ini, kerja sama merupakan aspek yang sangat penting untuk keberhasilan proyek ini, dan akan berlanjut di masa depan.

“Dalam mengelola kelimpahan sumber daya alam dan potensinya, kolaborasi sangat penting untuk Sumbawa, terutama antara pemerintah, sektor bisnis, dan inisiatif lain seperti Kanoppi,” kata Junaidi, Kepala Perencanaan Regional Sumbawa.

“Rekomendasi yang diusulkan oleh Kanoppi sangat penting sebagai input bagi kami, sehingga kami dapat fokus pada pengelolaan dan pengembangan komoditas yang diprioritaskan untuk meningkatkan daya saing – hal tersebut dapat memupuk percepatan pembangunan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

“Selalu menarik ketika kita berbicara tentang keberlanjutan, karena ada peluang yang belum dijelajahi dengan dampak di bawah sektor yang berbeda, dan ada lima pemimpin sub-regional,” sebagaimana diingatkan oleh gubernur sebagai tantangan utama dalam mengadopsi pendekatan Kanoppi di Pulau Sumbawa.

Dalam mengelola sumber daya alam yang melimpah dan potensinya, kerja sama sangat penting bagi Sumbawa, khususnya antara pemerintah, dunia usaha, dan inisiatif seperti Kanoppi
Junaidi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Sumbawa

Seperti yang dibahas, Tambora Geopark bisa menjadi katalis berbasis lansekap utama, sehingga lima pemimpin sub-regional di Pulau Sumbawa dapat terlibat dalam mengatasi masalah yang jauh lebih besar dari manajemen sumber daya alam di bawah pendekatan terpadu.

“Strategi ini akan efektif sebagai jalur potensial untuk meningkatkan peningkatan batas proyek Kanoppi untuk mencapai dampak jangka panjang yang diharapkan,” kata Adiwinata.

Mount Tambora: the iconic ecotourism destination in Sumbawa Island
Photo by Donny Iqbal/CIFOR-ICRAF

Kegiatan untuk proyek ini diimplementasikan oleh CIFOR tentang Penelitian Tata Kelola Lanskap, ICRAF, dan Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Produk Hutan Non-Kayu tentang Praktik Silvikultur dan Layanan Penyuluhan, dan Universitas Mataram untuk rantai nilai produk kayu dan bukan kayu.

Pengembangan cerita: Monica Evans dan Ani Adiwinata | Pengedit: Julie Mollins dan Ani Adiwinata | Produksi video: Faizal Abdul Aziz, Malvin Adinoegroho, Aris Sanjaya, Aditya Budiman dan Ryu Affandi | Desain web: Gusdiyanto | Koordinasi publikasi: Budhy Kristanty

(Visited 1 times, 1 visits today)
For more information on this topic, please contact Ani Adiwinata at a.nawir@cgiar.org.
Copyright policy:
We want you to share Forests News content, which is licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). This means you are free to redistribute our material for non-commercial purposes. All we ask is that you give Forests News appropriate credit and link to the original Forests News content, indicate if changes were made, and distribute your contributions under the same Creative Commons license. You must notify Forests News if you repost, reprint or reuse our materials by contacting forestsnews@cgiar.org.