Berita

Deforestasi Picu Risiko Demam Berdarah di Afrika dan Asia

Rentang distribusi sejumlah penyakit makin luas
Bagikan
0
Aedes albopictus: nyamuk harimau Asia. Foto ini digunakan di bawah lisensi Creative Commons. Foto oleh: Ian Jacobs/Flickr

Bacaan terkait

Saat dunia masih berperang melawan COVID-19, para ilmuwan menyuarakan peringatan atas meningkatnya penyakit zoonotik lain. Salah satunya adalah demam berdarah (dengue), infeksi virus dari nyamuk yang ditemukan di wilayah iklim tropis dan sub-tropis dunia terutama di area urban dan semi-urban.

Meningkatnya deforestasi dan perubahan iklim memperkuat kondisi yang bisa mendorong Afrika dan Asia memasuki pandemi baru, kata para ilmuwan, yang mendesak asesmen dan prediksi sejauh mana penyebaran penyakit ini di seluruh dunia.

Sekelompok peneliti dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Universitas Malaga Spanyol meyakini, semakin banyak wilayah yang sebelumnya berisiko rendah, kini semakin rentan, antara lain akibat cepatnya kehilangan tutupan hutan yang mendorong meluasnya vektor virus dengue.

“Di Afrika dan Asia, kemunculan kembali dengue silvatik berpotensi tinggi dalam siklus transmisi manusia akibat deforestasi, perubahan iklim, dan ekspansi geografis vektor,” kata Alisa Aliaga-Samanez, ketua penulis makalah yang dipublikasikan di Plos.org. “Meski eksistensi siklus dengue silvatik belum tampak di area Neotropik, banyak alasan kita memperkirakan terbukanya peluang ini.”

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dua wilayah ini menanggung beban terberat dari penyakit ini.

Afrika merupakan salah satu wilayah yang mengalami kehilangan hutan tertinggi. Sebanyak 9 persen tutupan hutan hilang antara 1995 dan 2005 di sub-sahara Afrika, dengan rata-rata kehilangan, menurut CIFOR dan Pusat Penelitian Wanatani Dunia (ICRAF) mencapai 40.000 kilometer persegi.

Prevalensi penyakit ini terjadi di sejumlah eko-region tropis, termasuk hutan, savana, mangrove, padang rumput dataran tinggi dan daratan kering, selain area dataran rendah dan pada suhu tertinggi pada bulan-bulan dingin.

Pada awal abad 21, meningkatnya kondisi pendorong terjadi di luar wilayah tropis, di padang rumput temperatur sedang, dan di wilayah dengan temperatur tinggi maksimum tahunan, dan pada irreguralitas pluviometrik tinggi namun dengan rentang temperatur rendah dan hujan.

“Laju kegawatdaruratan penyakit ini meningkat secara global, dan banyak penyakit yang telah lama ada menunjukkan perluasan rentang distribusi,” kata Julia Fa, ilmuwan mitra CIFOR-ICRAF, yang juga menjadi penulis makalah ini. “Fenomena ini terjadi pada dengue, pandemi global dengan vektor nyamuk yang saat ini menunjukkan peningkatan jumlah wilayah di seluruh dunia.”

Para peneliti menyatakan peran potensial primata dan vektor silvatik dapat meningkatkan risiko transmisi penyakit di hutan tropis.

Dengan karakteristik baru, transmisi dengue bisa mempengaruhi banyak wilayah di Asia, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, Oseania, dan menurut riset, juga terjadi di wilayah dengan sedikit kasus, termasuk beberapa kota di Eropa dan Jepang.

“Oleh karena itu, lingkup geografis penyebaran ini perlu ditelaah dan diprediksi,” kata Aliaga-Samanez. “Banyak alasan untuk menyatakan bahwa transmisi dengue dari primata non-manusia dalam siklus hutan tropis masih diabaikan.”

Dengue merupakan penyakit akibat virus yang disebabkan oleh virus dengue, satu dari empat kelompok serotip Flaviviridae. Patogen ini pada dasarnya ditransmisikan oleh nyamuk betina genus Aedes pada manusia. Pada banyak kasus, patogen ini menyebabkan sakit ringan, meski juga diketahui menyebabkan gejala seperti flu, dan sesekali menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal.

WHO melaporkan, kasus tahunan dengue mengalami peningkatan. Salah satu pemodelan, mengestimasikan 390 juta infeksi virus dengue per tahun, dengan 96 juta manifes klinis (dengan penyakit parah). Kajian prevalensi lain, mengestimasikan 3,9 miliar orang berisiko terinfeksi virus dengue.

Jumlah kasus dengue yang dilaporkan pada WHO meningkat delapan kali lipat selama dua dekade terakhir. Dari 505.430 kasus pada 2000, menjadi lebih dari 2,4 juta pada 2010, dan 5,2 juta pada 2019. “Laporan jumlah kematian antara 2000 dan 2015 meningkat dari 960 menjadi 4032,” tulis WHO dalam laporan terbarunya.

Para ilmuwan percaya, estimasi ini bersifat konservatif karena banyak kasus yang tidak terlaporkan.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org