Wawancara

T&J: Ini yang akan disampaikan ilmuwan CIFOR-ICRAF pada forum penanaman pohon

Manuel Guariguata, Ramni Jamnadass, Susan Chomba dan Cora Van Oosten mengulas topik presentasinya untuk forum digital GLF mengenai inisiatif penanaman pohon
Bagikan
0
Seorang wanita memegang bibit pohon yang akan ditanam di area reforestasi di Tigray, Ethiopia. Foto oleh: Mokhamad Edliadi/CIFOR

Bacaan terkait

Menanam pohon sering disebut sebagai panasea berbagai penyakit lingkungan seperti perubahan iklim dan kehilangan keanekaragaman hayati. Namun, penyederhanaan pendekatan semata menanam pohon malah dapat menimbulkan kerugian daripada kebaikan jika upaya ini tidak didukung oleh praktik berbasis-bukti.

Pada acara Forum Bentang Alam Global bertema penanaman pohon pada 29 September, para ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Pusat Penelitian Wanatani Dunia (ICRAF) yang baru digabungkan, akan menyoroti isu kontemporer di seputar inisiatif global penanaman pohon.

Beberapa topik berbeda akan dibahas, termasuk keberadaan hutan restorasi, miskonsepsi umum menanam pohon, strategi manajemen partisipatoris dan konservasi sumber genetik pohon.

Tema inti pada tiap presentasi, adalah kebutuhan dialog yang lebih bernuansa dan kontekstual mengenai manfaat menanam jutaan, miliaran atau bahkan triliunan pohon.

“Tentu saja, menanam pohon adalah gagasan yang baik ketika pertimbangan seksama diberikan pada konteks ekologi dan sosial untuk menjamin agar menanam pohon benar-benar bermanfaat,” kata Ramni Jamnadass, salah seorang pimpinan unit Produktivitas dan Keberagaman ICRAF, pembicara pada forum tanam pohon GLF. “Inisiatif menanam pohon akan berhasil ketika pohon yang tepat ditanam di sesuai yang tepat untuk tujuan yang benar.”

Melalui pendekatan berbasis-bukti, para ilmuwan CIFOR-ICRAF membantu menjaga agar investasi penanaman pohon saat ini akan memberi manfaat jangka panjang bagi manusia, lingkungan dan bumi.

Bersama Kabar Hutan bergabung Jamnadass dan para mitranya: Manuel Guariguata, ilmuwan utama CIFOR; Susan Chomba, ilmuwan dan manajer proyek di ICRAF; dan Cora van Oosten, pimpinan senior proyek bentang alam, restorasi dan tata kelola senior Universitas dan Lembaga Penelitian Wageningen, Belanda.

Para pembicara ini mengulas topik presentasi pada forum digital GLF mengenai menanam pohon, dan mengulas nilai dari menanam pohon yang dilakukan secara ‘benar’.

T: Topik apa yang akan Anda paparkan pada forum digital GLF?

Manuel Guariguata: Saya akan berbicara mengenai keberadaan hutan restorasi – jangka waktu hutan restorasi bertumbuh sebelum ditebang atau terdegradasi kembali – dan bagaimana kita agar bisa bertahan lebih lama. Dalam presentasi, saya akan mengangkat faktor-faktor kunci yang menyokong persistensi hutan di masa lalu dan mendiskusikan bagaimana kita bisa belajar dari keberhasilan itu agar bisa meminimalisir kegagalan di wilayah lain.

Susan Chomba: Saat berbicara, saya akan menegaskan bahwa pelibatan dengan pemangku kepentingan berbeda, khususnya masyarakat lokal jadi sangat penting bagi keberhasilan tanam pohon. Semua penanam pohon seharusnya berupaya memahami bagaimana tujuan, kebutuhan dan dampak inisiatif menanam pohon berubah mengikuti perbedaan kondisi ekologis dan para pemangku kepentingannya. Di negara berkembang, misalnya, tidak mungkin melepas penanaman pohon di tengah kemiskinan dan kebutuhan pengentasannya. Melalui kesamaan kepentingan dalam  menanam pohon, kita seharusnya mampu menemukan konvergensi antara berbagai tujuan perubahan iklim, keanekaragaman hayati dan penghidupan.

Ramni Jamnadass: Saya akan memaparkan mantra menanam pohon CIFOR-ICRAF: “pilih pohon yang tepat untuk tempat yang sesuai dan tujuan yang benar”. Mantra ini berimplikasi pada tiga aspek keberhasilan menanam pohon:

  • Pohon yang tepat: memilih pohon yang tepat berarti memilih genotipe spesies bibit yang paling cocok untuk lokasi proyek dan keseluruhan keanekaraman hayati di wilayah. Aspek ketepatan pohon juga mempertimbangkan kualitas dan sumber bibit. Apakah bibitnya sehat? Dari sumber bibit yang sudah diadaptasikah? Cukup tahukah kita mengenai bibit untuk mejamin keberhasilan perkecambahan, propagasi dan manajemen? Apakah bibit sudah didomestikasi atau liar? Berapa minimal populasi untuk menjaga produktivitas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut baru sebagian yang perlu kita pertimbangkan sebelum menanam bibit di tanah.
  • Tempat yang sesuai: penelitan CIFOR-ICRAF dan banyak organisasi lain  mencatat ragam lokasi yang cocok untuk menanam pohon. Pohon dapat diintegrasikan dengan tanaman pertanian, ditanam di sekitar lahan dan ditumbuhkan di area komunal atau pinggir jalan. “Tempat yang sesuai”omo juga mengingatkan kita untuk menimbang tanah, tabel air, tingkat presitipasi, iklim saat ini dan masa datang serta ketinggian.
  • Tujuan yang benar: spesies berbeda memberi fungsi dan jasa ekosistem berbeda. Pohon dapat dibudidayakan untuk pangan dan nutrisi, kayu dan sumber penghasilan lain, peningkatan kesuburan tanah, sekuetrasi karbon, keanekaragaman hayati dan lain sebagainya. Terdapat juga preferensi sosial dan gender dalam penanaman pohon. CIFOR-ICRAF memiliki banyak perangkat spesifik-kontekstual, proses dan metodologi untuk membantu berbagai pertimbangan terebut. Aspek ‘tujuan’ juga mempertimbangkan isu global: akankah restorasi hutan dapat membantu mitigasi perubahan iklim? Akankah penanaman pohon dapat menorong keamanan pangan atau peningkatan penghasilan? Akhirnya, ketika kita berbicara soal ‘tujuan’, penting untuk disadari bahwa tidak semua area terbuka perlu dipenuhi pohon. Padang rumput alami tidak seharusnya digantikan pepohonan. Lahan pertanian hanya dapat diisi dengan persentase tertentu tutupan pohon (yang berbeda sesuai jenis tanaman) agar unsur kemanfaatannya tertutupi oleh oleh perebutan nutrisi, kelembaban dan cahaya.

Cora van Oosten: Tanpa mengesampingkan urgensi menanam pohon, saya akan mengangkat pertanyaan soal inklusivitas dan legitimasi proses mendasar pengambilan keputusan: bagaimana proses pengambilan keputusan terkait jenis pohon dan lokasi penanaman dilakukan? Apa konteks institusional keputusan dibuat? Siapa saja pihak yang terlibat dalam proses ini, dan kepentingan mana yang dibawa? Apakah keputusan juga mempertimbangkan kebijakan dan tren pasar? Apakah mengarah pada keberlanjutan jangka panjang?

Q: Apa pandangan pribadi Anda mengenai penanaman pohon (Saat mana ini menjadi bagus)?

Manuel: Saya pikir menanam itu baik jika sesuai dengan prakondisi yang ditelaah secara berhati-hati; yaitu ketika “faktor keberhasilan” diidentifikasi untuk memaksimalkan peluang. Sebaliknya, hal ini tidak lantas menjadi baik ketika aspirasi lokal diabaikan dan ketika tidak cukup pertimbangan mengenai spesies tanaman dan tujuannya.

Susan: Pandangan pribadi saya, menanam pohon itu baik jika dilakukan dengan benar! Kita telah kehilangan sejumlah besar tutupan pohon dan konsekuensi buruk seperti menurunnya produktivitas pertanian, kehilangan keanekaragaman hayati serta efek buruk bagi perubahan iklim. Melakukan dengan ‘benar’ berarti memahami beragam tujuan yang ingin kita capai melalui pohon. Kita perlu mempertimbangkan spesies pohon terbaik untuk memenuhi tujuan tersebut, aktor lokal untuk kerja bersama yang maksimal, dan bagaimana kita dapat menjamin pendanaan agar inisiatif ini sejalan dengan nilai-nilai kita.

Ramni: Tentu saja menanam pohon itu  baik saat mempertimbangkan konteks ekologi dan sosial untuk menjamin penanaman pohon benar-benar bermanfaat. Inisiatif menanam pohon berhasil ketika pohon yang tepat ditanam di tempat yang sesuai untuk tujuan yang benar (sebagaimana dipaparkan di atas). Saat tujuannya adalah restorasi vegetasi yang telah terdegradasi, akan sangat berguna untuk mengidentifikasi vegetasi asli – apakah hutan, savana atau padang rumput tua? Apapun jenis vegetasi aslinya, langkah lanjutannya adalah menjaga agar restorasi mencakup sebanyak mungkin spesies dari sumber yang cocok untuk lokasi restorasi seraya mempertimbangkan perubahan iklim; apa yang biasanya alami mungkin tidak lagi di masa datang. Ketika merestorasi vegetasi natural, penting untuk melibatkan masyarakat desa sekitar dan memasukkan rekomendasi mereka dalam pilihan spesies dan manajemen lokasi restorasi di masa datang. Saat tujuan utama menanam pohon adalah untuk mengembangkan bentang alam wanatani, pada titik awal seharunya dijamin bahwa spesies atau kegunaan kultivar/varietasnya akan meningkatkan penghidupan dan pemasukan– dari awal menanam pohon sudah ditujukan untuk meningkatkan rantai nilai dari pemanfaatan sumber bibit terbaik spesies target (mis. dipilih atau dibibitkan untuk kebutuhan pasar tertentu, sumber teradaptasi iklim yang akan menghasilkan produk kualitas tinggi – buah, kayu, pakan ternak, dll.) untuk jaringan produksi dan distribusi bibit dan pembibitan serta jaring produksi dan penjualan tinggi dari pohon. Ketika faktor sosial dan ekologis menjadi bagian pertimbangan, akan dengan cepat menjadi jelas apakah menanam pohon itu baik, dan saat mana jadi tidak baik.

Cora: Menanam pohon adalah baik jika keputusan menanam diambil oleh mereka yang tinggal atau memiliki bentang alam. Kita perlu mempertimbangkan kepemilikan lahan, perlindungan tanah, keamanan pangan, penghidupan dan lainnya. Jika menanam pohon dikendalikan pihak luar tanpa berkonsultasi dengan pemilik lahan, potensi gagal meningkat.

Saya akan berhenti mendorong menanam pohon sebagai solusi berbagai masalah global yang kita hadapi. Sebaliknya, saya akan mulai berinvestasi pada banyak inisiatif masyarakat lokal yang selalu mencoba meningkatkan atau merestorasi bentang alam mereka; kepentingan mereka seharusnya dikedepankan. Tentu saja, masyarakat lokal tidak selalu sepakat satu sama lain, tetapi pendekatan bentang alam terintegrasi untuk pemerintah lokal membantu menfasilitasi kesepakatan dan aksi bersama. Memperkuat organisasi lokal dengan cara ini akan mengarah pada solusi lebih baik dan lebih cepat yang bisa mnenjadi inti proses kebijakan yang lebih terintegrasi menuju restorasi.

Q: Dari perbincangan ini, bagian mana yang paling menarik?

Manuel: Saya paling tertarik pada melangkah melampaui komitmen tanam pohon untuk menuju penyempurnaan fase perencanaan dan implementasi, keduanya esensial agar inisiatif ini berhasil.

Susan: Saya paling tertarik untuk mengurai mitos tanam pohon, karena hal ini menjaga kita tidak melakukan tindakan yang lebihjauh merusak masyarakat dan bumi, kemudian menyadari masalah ini setelah kerusakan terjadi.

Ramni: Semua hal dalam perbincangan ini menarik bagi saya.

Cora: Saya paling tertarik membahas implementasi lokal. Saya gembira dengan minat global menanam pohon – sejalan dengan meningginya isu lingkungan dalam agenda politik global – meski saya khawatir bahwa menghadapi masalah degradasi lahan, kehilangan keragaman hayati dan perubahan iklim dengan solusi menanam pohon semata akan mengarah pada kegagalan besar dan kehilangan momentum politik jangka panjang.

Q: Apa yang Anda harapkan bisa dibawa pulang dari forum tanam pohon ini?

Manuel: Semoga, peserta pulang dengan pemahaman lebih baik mengenai kesenjangan yang perlu diatasi dalam konteks agenda restorasi global. Secara khusus, saya berharap mereka akan memahami berbagai isu yang perlu dipertimbangkan untuk menjamin hutan restorasi terjaga dalam ruang dan waktu. Menanam pohon hanya awal perjalanan panjang.

Susan: Saya ingin audiens memahami bahwa ini baik, dan faktanya sangat diharapkan, untuk menanam pohon. Meskipun begitu, kita perlu berinvestasi pada lebih banyak penelitian untuk mengenali jenis pohon dan lokasi penanaman. Kita juga perlu memahami bagaimana pohon mempengaruhi ekologi lokal dan efek bagi masyarakat dan penghidupan. Memahami dinamikan tersebut bisa tercapai dengan sempurna melalui kemitraan dengan lembaga riset.

Ramni: Pertama, saya ingin masyarakat memberi perhatian pada konsep menyeluruh menanam pohon yang tepat di tempat yang sesuai untuk tujuan yang benar. Kedua, saya ingin audiens mengetahui fakta dan menerima ada kendala penyempitan ‘akses pada kualitas material penanaman.” Keberhasilan penanaman terkendala oleh kualitas sumber yang ada. Ketiga, dan mungkin lebih penting lagi, saya berharap bisa menyampaikan kebutuhan untuk berinvestasi pada sumber daya genetik pohon untuk melakukan konservasi. Kita perlu mengembangkan protokol terbaik untuk menyebarkan spesies pohon bernilai tinggi dan melakukan pembnihan dan menyempurnakannya agar kualitas mater penanaman tersedia untuk konteks tertentu. Kita juga perlu menjamin sistem pengiriman bibit pohon. Manfaat menanam pohon sangat bisa ditingkatkan dengan meningkatkan sumber dan pengiriman bibit.

Cora: Saya berharap melalui dialog ini masyarakat tidak terdemotivasi saat menyadari bahwa semata menanam pohon tidak cukup untuk menyelamatkan bumi. Sebaliknya, saya berharap audiens akan terdorong untuk secara kreatif memikirkan cara-cara baru mengatasi masalah lingkungan dengan menempatkan penghuni dan penduduk lokal sebagai inti dari solusi.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org