Berita

Tekanan pada hutan akibat pola makan tidak sehat dapat meningkatkan penyebaran virus

Produksi pangan menghancurkan penyangga hijau
Bagikan
0
Sawah padi di Desa Tri Budi Syukur, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung. Foto oleh: Ulet Ifansasti/CIFOR

Bacaan terkait

    Teori seputar asal-usul virus corona SARS-COV2 seringkali merujuk pada gangguan yang terjadi di lingkungan. Akibat campur tangan manusia dalam kerusakan lingkungan, maka terbentuk jalur penyebaran penyakit antar spesies yang belum pernah ada sebelumnya.

    Riset terbaru memberi indikasi COVID-19 hampir pasti ditularkan oleh trenggiling atau kelelawar ke manusia dari sebuah pasar di Wuhan, Cina.

    Ada bukti lain menunjukkan perdagangan satwa liar berisiko menyebarkan patogen dan penyakit menular, dan kebiasaan konsumsi manusia sedikit banyak berpengaruh dalam hal ini.

    “Di seluruh dunia, hubungan antara pemenuhan pangan dan hilangnya keanekaragaman hayati cenderung dikaitkan dengan pola makan yang tidak sehat,” ujar seorang ilmuwan rekanan senior di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dalam artikel terbaru di The Conversation yang merujuk pada produksi makanan pokok seperti beras, gandum, dan jagung.

    Sejak paruh kedua di abad ke-20, intensifikasi pertanian telah menjadi metode yang dominan untuk menghasilkan pangan dalam jumlah banyak. Beberapa tujuannya yaitu meningkatkan hasil tanaman pokok dan produksi daging sapi dalam skala besar.

    Namun, proses transisi ke produksi pangan intensif yang bergantung pada beberapa spesies tanaman dan ternak dinilai gagal dalam mengatasi malnutrisi di seluruh dunia, tulis Terry Sunderland, yang juga profesor di Fakultas Kehutanan, Universitas British Columbia Kanada.

    “Terdapat hampir 800 juta orang tidur dalam keadaan lapar, sepertiganya mengalami kekurangan gizi, dan 2 miliar orang menderita defisiensi mikronutrien yang berdampak pada masalah kesehatan seperti stunting (bertumbuh pendek) dan wasting (bertubuh kurus),” tulisnya.

    Sunderland menambahkan intensifikasi pertanian dengan dampak deforestasi dan degradasi bentang alam dapat menimbulkan penyebaran berbagai penyakit zoonotik mematikan seperti SARS, MERS, H1N1, Chikungunya, Zika, dan Ebola.

    “Sektor pertanian bertanggung jawab atas 30 persen emisi gas rumah kaca, erosi tanah, penggunaan air yang berlebihan, hilangnya spesies penyerbuk penting, polusi kimia, serta dampak lain-lain,” katanya.

    “Saat ini, sekitar 70 persen kawasan hutan global hanya berjarak beberapa kilometer dari tepi hutan. . . dan merusak fungsi penyangga kehidupan yang disediakan oleh ekosistem hutan.”

    “Kegiatan peternakan dalam skala besar dengan tipe genetik serupa di sepanjang perbatasan hutan dapat menjadi jalur bagi patogen untuk bermutasi dan menular ke manusia. Hilangnya eksosistem hutan dan perubahan bentang alam membuat jarak manusia dan satwa liar semakin dekat, meningkatkan risiko penyebaran penyakit,” tutup Sunderland.

    (Visited 1 times, 1 visits today)
    Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Terry Sunderland di t.sunderland@cgiar.org.
    Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
    Kebijakan Hak Cipta:
    Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org