Analisis

Menanam pohon: Dikerjakan atau tidak?

Bukan sebuah jalan pintas solusi iklim
Karung pasir ditempatkan di sepanjang pantai untuk menahan abrasi dan memberi ruang tumbuh bagi mangrove di Pulau Dua, Banten. Foto oleh: Aulia Erlangga/CIFOR.

Bacaan terkait

Yuk, kita tanam berjuta, bermiliar, bertriliun pohon. Pepohonan yang rindang.

Menanam pohon tumbuh menjadi gerakan global di tengah upaya restorasi keseimbangan ekosistem dan penyelamatan bumi dari ancaman perubahan iklim.

Memang, ini yang kita inginkan. Meski konsep pintas “jika ingin menjual emisi, tanamlah pohon,” harus berubah.

Di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Pusat Penelitian Agroforestri Dunia (ICRAF), organisasi dan entitas konservasi, biasanya kami mengarah pada vegetasi, merayakan proliferasi – khususnya pohon dan hutan, bentang alam hidup, penghidupan dan keragaman hayati yang disangga.

Sebagian pengkritik menyatakan, menaman pohon hanya membuang waktu karena menjauhkan perhatian dari upaya mengurangi emisi fosil. Apalagi, juga bisa mendorong risiko tak terduga pada keanekaragaman hayati dan pada upaya mitigasi.

Izinkan kami untuk mempunyai pandangan berbeda.

Gagasan yang dipublikasikan pada dua artikel jurnal Nature Sustainability memicu perdebatan di media massa, atas nilai upaya menanam pohon dalam memerangi perubahan iklim. Pesan kunci yang muncul, bahwa menanam pohon bukanlah solusi iklim tunggal.

Di kalangan kehutanan, fakta ini sudah lama diketahui.

Salah satu makalah penelitian menyatakan, skema penanaman pohon intensif di Chili, yang mendapat subsidi anggaran pemerintah antara 1974 hingga 2012 tidak berhasil karena hutan primer negeri itu menjadi korban aksi ambil untung para pemilik perkebunan. Meski area berpohon meluas, keanekaragaman hayati menyusut dan simpanan karbon tidak meningkat.

Makalah lain menyatakan, persamaan standar yang digunakan untuk mengukur jumlah potensial karbon organik yang dapat disimpan melalui tanam pohon terlalu berlebihan. Dinyatakan, meski pada tanah miskin karbon, tanam pohon dapat meningkatkan densitas karbon organik, pada tanah kaya karbon, densitas karbon justru menurun.

Artikel jurnal ini mendukung apa yang telah kita tahu – menanam pohon bukan solusi iklim tunggal – agar kita bisa memberi kepada para pengambil kebijakan basis analisis lebih yang dapat membantu proyek tanam pohon lebih efektif di masa depan.

Perluasan pesan hasil penelitian oleh media untuk mengekstrapolasi krisis ketika tidak ada pilihan, membuktikan bahwa kita perlu mengembangkan dialog ilmiah untuk membentuk basis program tanam pohon nasional yang komprehensif, dalam strategi restorasi ekosistem dan manajemen berkelanjutan jangka panjang.

Kita telah memiliki kerangka kerja Deklarasi Hutan New York, Tantangan Bonn dan Dekade Restorasi Ekosistem PBB (2021-2030) yang akan datang, selain juga Target Keanekaragaman Hayati Aichi dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Dengan tenang, kita perlu terus memperkaya temuan riset, memasukkan temuan dari makalah Nature Sustainability ini pada keranjang pengetahuan mengenai tanam-pohon yang telah kita miliki, meningkatkan dan menyempurnakan kemampuan kita dalam menyusun program untuk masyarakat lokal yang akan mengelola dan mendapat manfaat langsung dari pepohonan baru.

Bukti ilmiah mengenai fakta bahwa menanam pohon yang tepat di tempat yang tepat merupakan tindakan efektif-biaya dalam meningkatkan serapan karbon, memperbaiki siklus air, melindungi tanah dan menyangga keanekaragaman hayati sudah jelas. Pada sebuah makalah 2017, yang ditulis oleh Bronson Griscom, direktur senior Solusi Iklim Alami, sebagai ketua, bersama para peneliti Konservasi Alam, disorot fakta bahwa semua potensi solusi mitigasi berbasis lahan, aforestasi dan reforestasi menawarkan peluang terbaik untuk menyerap karbon dioksida.

Tidak diragukan lagi, sebagaimana dinyatakan Griscom dan para peneliti lain, menanam adalah solusi alami penting bagi mitigasi perubahan iklim. Namun, program restorasi bentang alam harus dikembangkan secara holistik dengan pendekatan strategis penting lain, termasuk menghindari deforestasi dan mencegah gangguan terhadap hutan.

Khususnya dalam konteks percepatan dampak perubahan iklim, strategi adaptasi menjadi penting untuk meningkatkan resiliensi ekosistem. Adaptasi hutan, meliputi upaya tanam pohon, merupakan kunci dalam menjaga hutan sebagai serapan karbon jangka panjang yang efektif. Upaya ini harus juga mencakup dukungan untuk keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem penting lain yang terkait dengan keberlanjutan sumber daya, termasuk air dan tanah.

Meskipun program tanam pohon juga penting untuk meningkatkan keberlanjutan ketersediaan kayu sebagai basis bioekonomi sirkuler baru dalam mendukung penciptaan lapangan kerja di desa, dan dekarbonisasi sektor industri plastik, beton dan baja, yang kini sangat bergantung pada material tak-terbarukan.

Jelas sekali, menanam pohon seharusnya tidak dilihat sebagai solusi pintas dan solusi tunggal sebagaimana yang disuarakan sebagian advokasi. Namun, langkah ini merupakan tindakan strategis yang diperlukan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, mencipta lapangan kerja dan sumber daya terbarukan bagi ekonomi regeneratif yang bertumbuh dalam harmoni dengan alam.

Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org