Berita

Mengatasi kendala perbaikan kesehatan ibu dan anak di pulau Komodo

Asupan ikan laut, sumber nutrisi penting terhambat karena mitos lokal
Bagikan
0
Para perempuan sedang mengeringkan ikan pelagis kecil di pulau Komodo, Indonesia. Foto oleh Emily Gibson/CIFOR

Bacaan terkait

Penangkapan ikan skala kecil dapat memberi manfaat baik dari segi pemenuhan nutrisi maupun ekonomi bagi perempuan. Sayangnya, meski di beberapa daerah persediaan ikan melimpah, kekurangan gizi kerap terjadi. Hal ini seringkali disebabkan karena keterbatasan ekonomi serta pantangan sosial untuk mengonsumi ikan.

Ikan adalah sumber asam lemak, mikronutrien dan mineral, serta menyediakan hampir 20 persen protein hewani bagi sepertiga populasi penduduk bumi. Bagi masyarakat di pesisir pantai, ikan menyediakan kurang lebih 90 persen kebutuhan protein hewani.

Indonesia – negara penghasil ikan laut terbesar kedua di dunia – kurang lebih 54 persen konsumsi ikan menyumbang total kebutuhan protein hewani nasional. Nelayan skala kecil menyumbang hingga 95 persen dari total produksi ikan tangkapan serta memberi pekerjaan kurang lebih 2,6 juta orang di tingkat rumah tangga (skala kecil) yang masih menggunakan kapal kecil dan alat tangkap non-mekanis.

Terlepas besarnya suplai ikan di laut, ditemukan tingginya tingkat kerawanan pangan pada masyarakat pesisir di 17.000 kepulauan Indonesia. Kerawanan pangan ini mencakup lebih dari 36 persen anak di bawah usia 5 tahun (balita) dan 20 persen penduduk dewasa.

“Kita perlu meningkatkan pemahaman terhadap akses pangan padat nutrisi, terutama bagi komunitas pesisir pedesaan, dan bagaimana distribusi pangan tersebar ke rumah – rumah terutama rumah tangga dengan tingkat rentan,” kata Emily Gibson, Ph.D. kandidat doktor di Lembaga Penelitian untuk Lingkungan dan Mata Pencaharian Universitas Charles Darwin Australia, yang memimpin penelitian keanekaragaman pangan dan konsumsi ikan di Indonesia, diterbitkan dalam jurnal online PLOS ONE.

Selain menilai kualitas pangan bagi perempuan dan anak, penelitian ini berfokus pada tiga komunitas di kabupaten Komodo, provinsi Nusa Tenggara Timur.

Para peneliti mempelajari bagaimana kelaparan dan kekurangan gizi dapat terjadi dengan memeriksa pola konsumsi oleh rumah tangga dan peran jender dalam ketahanan nutrisi lokal.

Kapal nelayan lokal di Pulau Komodo, Indonesia.

“Hanya karena ikan banyak tersedia atau dapat dipanen, bukan berarti ikan-ikan ini akan dikonsumsi di tingkat rumah tangga atau produsen, banyak faktor lain yang menentukan bagaimana uang yang diperoleh dari hasil tangkapan ikan ini akan digunakan, dan itu terkadang tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan padat nutrisi,” kata Gibson, yang melakukan penelitian kolaboratif dengan Terry Sunderland, ilmuwan asosiasi Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan profesor di Fakultas Kehutanan di Universitas British Columbia di Kanada.

Konsumsi makanan bergizi dan beragam, termasuk ikan padat nutrisi, sangat penting bagi perempuan pada usia reproduksi serta pada anak-anak dan bayi, karena perempuan memiliki kebutuhan nutrisi yang lebih tinggi saat masa kehamilan dan menyusui, dan anak-anak memiliki kebutuhan nutrisi yang tinggi di seribu hari pertama pertumbuhan mereka.

“Pertumbuhan janin yang buruk berhubungan dengan kondisi kekurangan gizi, menyebabkan kemampuan akademis yang lebih rendah, dan memicu konsekuensi antargenerasi,” kata Gibson.

Para peneliti menemukan bahwa ikan adalah sumber protein hewani yang paling sering dikonsumsi oleh para ibu, dengan sekitar 90 persen mengonsumsinya setiap hari. Ikan juga merupakan sumber protein hewani yang paling sering dikonsumsi oleh anak-anak, dengan 58 persen mengonsumsinya di musim hujan dan 80 persen mengonsumsinya di musim kemarau.

Namun, para peneliti menemukan bahwa lebih dari tiga perempat bayi (usia 6-11 bulan) tidak mengonsumsi ikan. Hanya 12,5 persen yang mengonsumsinya di musim hujan dan hanya 20 persen yang mengonsumsinya di musim kemarau.

Pemahaman akan mitos

Ditemukan bahwa banyak ibu tidak memberikan ikan untuk bayi dan anak-anak mereka karena diyakini dapat menyebabkan alergi atau sakit perut.

Sementara, beberapa perempuan tidak mengonsumsi ikan karena alergi atau kekhawatiran tentang potensi keracunan zat merkuri, dan yang lainnya menganggap hal ini adalah tabu bagi wanita yang sedang menyusui untuk mengonsumsi ikan kakatua, baronang, landak laut, dan kerang. Dalam beberapa kasus, hal ini terjadi karena jenis-jenis ini dipercaya dapat menyebabkan sakit perut pada anak usia menyusui.

Keyakinan ini kemudian diturunkan turun temurun sehingga apabila seorang wanita mengonsumi jenis-jenis ini, maka dapat dikatakan ia mengambil resiko tersebut. Gibson menjelaskan bahwa para ibu menunda mengkonsumsi jenis-jenis ikan ini sampai anak mereka berhenti menyusui, dapat memakan nasi atau hingga anak-anak mereka dapat berjalan.

“Kita perlu memahami bagaimana mitos ini dapat menyebabkan beberapa jenis pangan padat gizi tidak dikonsumsi secara merata pada tingkat rumah tangga, terutama sebagai makanan pelengkap bagi anak-anak dalam memenuhi kebutuhan gizi dan mendorong pertumbuhan dan perkembangan kognitif bagi anak-anak,” kata Gibson. “Beban waktu bagi para ibu mungkin menyulitkan mereka untuk menyiapkan ikan, atau mereka mungkin tidak memiliki akses ke peralatan untuk memproses, mengeringkan maupun menyimpan ikan secara aman.”

Alasan di balik harus ditingkatkannya pengetahuan tentang gizi dan kesehatan di kalangan ibu dan komponen masyarakat lainnya – seperti para tetua dan para ahli pengobatan tradisional – termasuk mengatasi kesalahpahaman dan ketakutan adalah untuk meningkatkan keseluruan keragaman pangan, sehingga dapat mengurangi tingkat kelaparan yang tidak terdeteksi dan dapat mencapai tujuan ketahanan pangan nasional dan internasional yang telah ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, tambahnya.

Meski para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang mengonsumsi makanan yang beragam memiliki ibu yang juga mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi, namun hal ini hanya dilakukan oleh kurang dari seperempat ibu-ibu di daerah tersebut. Seringkali, konsumsi pangan di daerah ini hanya didasarkan pada satu atau dua makanan pokok saja dan berisiko menyebabkan kekurangan mikronutrien. Ditemukan juga hampir 50 persen anak-anak pertumbuhannya terhambat.

Faktor ekonomi juga memainkan peran penting yang menyebabkan keterbatasan keragaman pangan. Ketersediaan lauk ikan, daging, sayuran atau sambal sambal didasarkan pada apakah perempuan, yang juga memikul tanggung jawab untuk memberi makan keluarga mempunyai daya beli. Seringkali para ibu mengurangi porsi makan mereka atau saat paceklik mengirim anak-anak mereka untuk makan bersama kerabat.

Mencari Solusi

Melalui Gerakan Nasional untuk Mempercepat Peningkatan Gizi, Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk meningkatkan pemenuhan gizi, kata Gibson.

“Kami memberi rekomendasi meningkatkan dukungan melalui program peningkatan kebun rumah tangga atau bagi komunitas perempuan mengembangkan produk pangan padat nutrisi dari jenis-jenis lokal untuk dijual kepada para ibu di lingkup komunitas mereka,” kata Gibson.

“Respon lintas-sektor dan tingkatan di seluruh sistem pangan Indonesia dapat dimulai dengan menyalurkan air bersih dan meningkatkan sanitasi, memberikan dukungan sosial, serta mendukung mata pencaharian pada masyarakat pesisir pedesaan, karena hal ini pasti akan berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat,” tambahnya.

Sejauh ini, banyak program di Kabupaten Komodo telah difokuskan pada konservasi laut dan penciptaan mata pencaharian alternatif yang ditujukan untuk meminimalisir tekanan yang dirasakan oleh para nelayan.

“Namun, akan lebih baik untuk membangun hubungan dan sinergi pada seluruh program sektoral untuk mencapai pemenuhan gizi yang lebih baik.”

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org