Berita

Aplikasi ponsel memudahkan pemantauan upaya restorasi lahan gambut

Ini resep untuk melindungi lahan gambut dari kebakaran: penggenangan, revegetasi dan revitalisasi
Bagikan
0
Peserta Sistem Pemantauan Restorasi Lahan Gambut Berbasis Masyarakat (CO-PROMISE) menggunakan strategi restorasi 3R: re-wet; menanam kembali dan menghidupkan kembali mata pencaharian. https://forestsnews.cifor.org/63801/mobile-app-simplifies-peatland-restoration-monitoring-efforts-in-indonesia?fnl=en

Bacaan terkait

Sistem pemantauan yang murah dan berbasis komunitas makin menyempurnakan strategi manajemen lahan di Provinsi Riau Indonesia, setelah pemerintah meluncurkan berbagai cara untuk memperkokoh kemampuan masyarakat lokal dalam mengurangi kerentanan terhadap kebakaran.

Di dalam Sistem Pemantauan Restorasi Lahan Gambut Berbasis-masyarakat (CO-PROMISE) yang dipimpin oleh ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Universitas Riau dan pemerintah daerah, penduduk menerapkan strategi restorasi 3R:  re-wet (penggenangan); revegetasi dan revitalisasi penghidupan.

Teknik ini mencakup pengukuran tinggi air dan kelembaban lahan gambut serta mencatat revegetasi pepohonan dan upaya revitalisasi penghidupan dengan menjejak dan berbagi data mengenai panen nenas dan kelapa.

Dalam inisiatif ini, para petani belajar menyimpan data dalam perangkat lunak gratis berbasis Android yang difasilitasi oleh Open Data Kit. Petani dapat memasukkan data lapangan saat mengolah lahan dan kemudian mengunggah temuannya saat perangkat ponsel terhubung dengan internet.

“Kami berharap proyek ini secara bertahap mempengaruhi dan mengubah perilaku masyarakat lokal – dan lebih luas lagi – dalam praktik membuka lahan tanpa membakar, berpartisipasi dalam restorasi lahan gambut, serta mampu meningkatkan penghidupan melalui model bisnis berkelanjutan,” kata pejabat penelitian senior CIFOR Beni Okarda.  Okarda bekerjasama dengan ahli ekologi lahan basah CIFOR Imam Basuki, dalam mengembangkan aplikasi ini.

Proyek yang dipimpin oleh ilmuwan CIFOR dan ahli pemodelan sistem, Herry Purnomo, menggunakan pendekatan yang dikenal sebagai Riset Aksi Partisipatoris (PAR) dalam menerapkan dan memperkuat Pencegahan Kebakaran Berbasis Masyarakat dan Restorasi Lahan Gambut (CBFPR) yang efektif serta  pendanaan dari Temasek Foundation.

Upaya yang dilakukan meliputi kajian praktik terbaik terkait CBFPR, pengembangan dan pengujian praktik restorasi lahan gambut serta pembukaan lahan lahan tanpa membakar, berbagi hikmah dan keberhasilan.

“Harapan kami, terutama adalah menghasilkan laporan, panduan, dan sebuah kawasan aksi yang menunjukkan proses PAR-CBFPR untuk dapat diperluas di tingkat nasional dan lebih luas lagi,” kata Basuki.

“Sistem berbasis perangkat lunak terbuka dan gratis ini, dapat secara luas diimplementasikan bagi mereka yang bekerja memantau tinggi air dan penunuran tanah di lahan gambut, serta memantau pertumbuhan pohon sebagai bagian dari program restorasi lahan gambut.”

Teknik Transformatif 

Hingga saat ini, para petani menerapkan teknik peladangan berpindah, atau “tebang dan bakar” saat membuka lahan untuk ditanami. Dalam sistem ini, vegetasi alami ditebang dan dibakar. Seiring waktu, ketika lahan kehilangan kesuburan, petani memindahkan operasi penanaman ke kawasan baru, mengulangi proses ini dan meninggalkan area semak terdegradasi.

Dalam teknik ini, termasuk digunakan cara pengeringan lahan gambut. Padahal lahan ini merupakan serapan karbon penting, berisi lapisan-lapisan material organik terdekomposisi yang terbentuk selama ribuan tahun.

Merujuk pada Kelompok Konservasi Internsional Mire dan Masyarakat Gambut Dunia, di seluruh dunia, lahan gambut yang ditemukan di 180 negara, menyimpan sepertiga karbon tanah dunia.

Saat terbakar, lahan gambut melepas gas rumah kaca ke atmosfer, dan menimbulkan pemanasan global.

Selama beberapa tahun, kebakaran terjadi di luar kendali pada lahan arid dan cuaca panas akibat El Nino atau sistem cuaca Dipol Samudera India positif.

Pertimbangan lingkungan dan kesehatan pemerintah mendorong Indonesia menerapkan moratorium pembukaan lahan hampir 10 tahun lalu. CIFOR telah bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut Indonesia dalam mendukung pengembangan manajemen lahan dan aktivitas restorasi.

Pembelajaran Lokal 

Fokus area dalam program CO-PROMISE adalah Desa Dompas, Kabupaten Bengkalis dan lima desa sekitar di timur laut ibu kota provinsi Pekanbaru. Bentang alam lokal meliputi hutan primer dan sekunder, pertanian campuran milik pribadi, perkebunan monokultur karet, kelapa sawit dan semak atau lahan terlantar terdegradasi.

Wilayah ini juga ditandai dengan kanal-kanal yang digunakan untuk produksi kelapa sawit. Kanal ini berupa saluran air yang dibangun dalam hutan untuk mengeringkan lahan gambut.

Desa Dopas dipilih oleh para ilmuwan karena memiliki kawasan pasca-kebakaran dan menunjukkan kebutuhan pencegahaan kebakaran yang intensif dan restorasi lahan gambut.

“Seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam proyek ini dapat dengan mudah memantau kemajuan dan dampak proyek melalui layar pantauan,” kata Okarda. “Misalnya, kita bisa melihat dengan jelas bahwa pembendungan kanal membuat tinggi air 16 cm lebih tinggi dibanding area yang tidak memiliki bendung kanal. Kondisi ini membuat area dengan bendung kanal kurang rentan atas kebakaran, dibanding tanpa bendung.”

Lahan gambut terkenal dengan keanekaragaman hayatinya. Tidak terkecuali Dompas. Terdapat banyak spesies asli ekosistem lahan gambut, misalnya meranti (Shorea spp.), yang sering dimanfaatkan kayunya, ramin (Gonystylus spp.), untuk bahan pembuatan meubel.

Beragam satwa, seperti owa-ungko (Hylobates agilis), siamang (Symphalangus syndactylus), lutung (Trachypithecus cristatus), makaka ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina) sering ditemukan di hutan dan perkebunan lokal. Sejumlah spesies dilindungi, termasuk Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan beruang madu (Helarctos malayanus) juga terpantau menghuni hutan.

Indonesia memiliki kawasan lahan gambut ketiga terbesar di dunia, setelah Rusia dan Kanada. Di seluruh dunia, lahan gambut mengisi separuh dari keseluruhan lahan basah. Lahan gambut setara dengan 3 persen total permukaan lahan dan air dunia. Indonesia juga telah berkomitmen untuk merestorasi 2,4 juta hektare lahan gambut yang dikeringkan.

Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cifor-icraf.org
Topik :   Lahan Gambut

Lebih lanjut Lahan Gambut

Lihat semua