Bagikan
0

Bacaan terkait

    Indonesia - Sumatera Selatan saat ini terlihat sangat berbeda jika dibandingkan masa keemasan Kerajaan Sriwijaya –  kerajaan besar pertama yang menguasai sebagian besar kepulauan Indonesia. Selama berkuasa sejak abad ke-7 hingga 12, hutan masih lebat dan dipenuhi suara nyaring terompet dan derap langkah sang raksasa, gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus).

    Puluhan ribu “gajah perang” yang menyertai para raja dan tentara memasuki medan perang menjadi bukti keperkasaan dan kekayaan dinasti Sriwijaya.

    Saat ini, ceritanya berbeda. Gajah Sumatera yang tersisa kurang dari 3.000 saja di alam liar, masuk dalam “terancam punah” dalam daftar merah IUCN. Fragmentasi habitat dan peningkatan jumlah penduduk menjadi ancaman utama yang dihadapi para gajah.

       Habitat gajah di lahan gambut terancam karena kebakaran dan konversi lahan. Rifky/CIFOR

    Pada 1980-an, pemerintah Indonesia memperluas program besar transmigrasi, memindahkan penduduk dari pulau Jawa yang padat ke pulau-pulau lain. Program ini mendongkrak jumlah penduduk di Sumatra.

    Untuk membuka ruang bagi pendatang, pedesaan dan pertanian, hutan ditebang. Dengan terbelahnya habitat dan tertutupnya jalur migrasi, gajah terjebak. Seringkali dibunuh, direlokasi ke kebun binatang, atau dimasukkan ke “Pusat Pelatihan Gajah”.

    Sumatera kehilangan sekitar dua per tiga hutan dataran rendahnya pada kurun waktu 25 tahun terakhir. Industri kayu, bubur kertas dan kelapa sawit juga bertanggung jawab atas rusaknya habitat alami gajah.

    Sejak 1985, populasi gajah Sumatera berkurang hingga lebih dari separuh. Kini, gajah Sumatra berada di ambang kepunahan.

    Akan tetapi, peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mengungkapkan, masih ada sebersit harapan. Sebuah resep tak lazim mungkin bisa membantu gajah dan manusia berdampingan dalam damai: bioenergi.

       Perkebunan kelapa sawit semakin tersebar luas di seluruh kawasan suaka margasatwa Padang Sugihan. Faizal Abdul Aziz / CIFOR

    BEREBUT LAHAN

    Dikelilingi lahan gambut, rawa dan sungai-sungai kecil, desa Perigi Talang Nangka mempesona dengan kecantikan dan kehijauannya. Namun, petani lokal membersihkan lahan dengan cara umumnya, membakar dan mengeringkan lahan gambut untuk ditanami.

    Pengeringan membuat lahan gambut rentan api, hingga menjadi pemicu kebakaran hutan, yang sering tak terkendali. Inilah yang terjadi saat bencana kebakaran dan asap di Indonesia pada 2015. Lebih dari 2,5 juta hektare lahan terbakar, sebagian besarnya adalah lahan gambut. Asap beracunnya menyerang jutaan orang dan membuat emisi gas rumah kaca Indonesia melonjak tiga kali lipat.

    Dalam upaya mendapatkan lahan pertanian, masyarakat lokal menuntut pemerintah untuk memberikan 10.000 hektar lahan yang menjadi bagian dari Suaka Margasatwa Padang Sugihan Sebokor dan hutan produksi. Kawasan ini merupakan rumah bagi beberapa gajah liar yang tersisa di wilayah itu.

    Selama beratus tahun, penduduk kampung Melayu hidup berdampingan dengan gajah. Mereka tidak mau meninggalkan tanahnya, meski moratorium pembakaran lahan gambut yang ditetapkan setelah kebakaran 2015 membuat mereka kesulitan menyangga penghidupan.

    “Gajah perlu ruang dan perlindungan, begitu pula manusia, perlu ruang dan keamanan ekonomi dari hasil hutan,” kata Edi Rusman, petani Perigi Talang Nangka. “Gajah sudah hidup di sini selama ratusan tahun. Ini habitat aslimereka, dan kami juga tidak ingin gajah punah.”

       Samsinyu (56) sedang memeriksa perangkap ikan yang telah dipasangnya 3 hari yang lalu. Rifky/CIFOR
       Perempuan di Desa Perigi secara rutin memanen Purun untuk membuat tikar anyaman. Rifky/CIFOR

    BIOFUEL SEBAGAI SOLUSI

    Tanpa sengaja Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), dan National Institute of Forest Science (NIFOS) Korea Selatan melangkah masuk. Ilmuwan CIFOR, Yusuf Samsudin melakukan peninjauan lapangan bersama tim dari Universitas Sriwijaya. Ketika itu, masyarakat lokal dari Perigi Talang Nangka mendekat dan meminta bantuan.

    “Penduduk bertanya, mereka ingin tahu alternatif penanaman tanpa membakar lahan gambut,” kata Samsudin. “Kita perlu menemukan solusi untuk menjawab dilema pangan, energi dan lingkungan hidup.”

    Jawabannya adalah paludikultur. Meskipun tidak mudah diucapkan, teknik pertanian dan kehutanan di lahan basah menjadi solusi berkelanjutan, papar Samsudin

    Manfaat teknik pertanian ini cukup besar. Pertama, menjaga agar gambut tetap basah, karbon yang tersimpan tetap aman, sekaligus menjaga agar api tidak memicu kebakaran. Kedua, teknik ini dapat digunakan di lahan gambut yang terdegradasi.

    “Tentu saja kami ingin melihat upaya ini berhasil,” ujarnya, Ia berharap paludikultur dapat menjadi solusi untuk mengakhiri pembakaran lahan gambut sebagai cara membuka lahan untuk kelapa sawit, kertas dan padi.

    “Lebih lanjut, kami ingin menguji beberapa spesies asli di lahan terdegradasi. Namun, bukan sebatas pemanfaatan di lahan terdegradasi, kami ingin merestorasi fungsi ekosistem lahan agar bermanfaat bagi bumi, alam dan manusia”.

    Para peneliti menanam beberapa jenis asli rawa gambut, antara lain nyamplung (Calophyllum inophyllum), belangeran (Shorea belangeran), jelutung (Dyera lowii), bintaro (Cerbera manghas), meranti rawa (Shorea pauciflora), pulai (Alstonia pnumatophora L.), dan medang maras (Blumeodendron kurzii).

       Peneliti CIFOR dan UNSRI meneliti tanaman bioenergi. Faizal Abdul Aziz/CIFOR
       Peneliti CIFOR dan UNSRI bekerja sama dalam riset bioenergi. Faizal Abdul Aziz/CIFOR
       Jalur dibuat oleh Gajah saat mereka berjalan di area gambut. Faizal Abdul Aziz/CIFOR

    “Kami memilih jenis tersebut untuk berbagai manfaat, antara lain pangan dan biofuel,” ujar Samsudin.

    Penelitian terbaru CIFOR menunjukkan,  nyamplung khususnya menjanjikan potensi untuk bioenergi dan finansial. Lebih lanjut, para peneliti sedang mengkaji potensi pasar spesies-spesies tanaman tersebut.

    “Pemerintah memiliki program biodiesel, namun masih terkonsentrasi pada kelapa sawit, semoga pemerintah akan mempertimbangkan sumber bioenergi lain.”

    Menariknya, beberapa jenis tumbuhan secara alami tidak menarik bagi gajah. Jika berjalan sesuai harapan, lahan yang direstorasi akan memperluas habitat gajah.

    “Gajah menghindari mengkonsumsi Cerbera manghas, atau pohon Bintaro,” ujar Samsudin melirik harapan munculnya solusi alami dari konflik manusia-gajah. Konflik ini sangat buruk, khususnya di desa-desa di Sumatra, di luar proyek ini. Gajah masuk ke desa yang berada di jalur migrasi dan sumber makanan.

       Kelompok gajah Liar di Hutan Desa Sebokor, daerah ini merupakan bagian dari Suaka Margasatwa Padang Sugihan - Sebokor. Faizal Abdul Aziz/CIFOR

    “Restorasi ini perlu dirancang dengan hati-hati,” tegasnya, sebelum menyatakan bagaimana pohon bintaro akan berfungsi sebagai pagar desa. “Kemudian kita akan merestorasi rentang jelajah gajah dengan tanaman favorit mereka untuk perlindungan dan makanan.”

    Meski pendanaan penelitian sudah hampir selesai, Samsudin dan tim ingin tetap melanjutkan komunikasi dengan para petani.

    Akankah masyarakat melanjutkan metode paludikultur? “Tentu saja,” ujarnya. “Masyarakat bersemangat, mereka akan melanjutkan pemantauan dan pemeliharaan tanaman.”

    Desa Perigi Talang Nangka harus bersabar untuk memanen hasilnya. Meskipun padi dapat dipanen dengan cepat, perlu waktu hingga empat tahun untuk memetik hasil dari jenis bioenergi dan kayu.

    Meskipun demikian, Samsudin tidak meragukan komitmen masyarakat. “Masyarakat sudah sangat terlibat, terutama para petani.”

       Topan (17) adalah salah satu gajah Sumatera di pusat pelatihan gajah- PLG Padang Sugihan SM. Rifky/CIFOR
    Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
    Kebijakan Hak Cipta:
    Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org