Video

Alue Dohong: Program restorasi berdampak positif bagi masyarakat

Pelatihan teknis bagi masyarakat salah satu kunci sukses.
Bagikan
0

Bacaan terkait

Bonn – Badan Restorasi Gambut (BRG) dibentuk dengan misi utama mempercepat pemulihan hidrologi dan vegetasi lahan gambut terdegradasi akibat kebakaran hutan gambut dan hutan. Berbagai kegiatan telah dilakukan seperti intervensi sosial di wilayah kritis lahan gambut dan bagi masyarakat yang mata pencahariannya bergantung pada lahan gambut.

Kabar Hutan melakukan wawancara singkat dengan Dr. Alue Dohong, Deputi Bidang Kontruksi, Operasi dan Pemeliharaan BRG, tentang dampak aksi BRG di lapangan. Termasuk dampak, kendala dan hasil riset yang dilakukan BRG.

Apa perkembangan terbaru program pemulihan lahan gambut?

Saat ini kita telah menyelesaikan perencanaan berbasis kesatuan hidrologis gambut di 7 provinsi itu. Kemudian kita juga sudah melakukan intervensi di lapangan melalui pembangunan infrastruktur berbasis gambut seperti sekat kanal, penimbunan kanal, sumur bor. Misalnya kita sudah membangun lebih dari 5000 unit di Kalimatan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Provinsi Riau, kemudian sekat kanal lebih dari 1900 unit yang tersebar juga di 6 provinsi. Kemudian kita juga mengembangkan revitalisasi mata pencaharian, ada 101 paket yang kita biayai dari dana APBN tahun 2017.

Apa dampak positif dari program ini?

Jadi kita bersama membangun sekat kanal yang lumayan banyak, ribuan. Masyarakat bisa membangun 4000 – 5000 sekat kanal dalam waktu yang begitu cepat untuk dimensi kanal yang tidak terlalu besar, 2-4 meter.

Tapi untuk menjadi sukses seperti itu, memang kita harus bekali dulu mereka (masyarakat – red). Kita melakukan pelatihan teknis untuk masyarakat bisa memahami desain sekat kanalnya, desain sumur bornya, spek teknis atau prosedur kerjanya. Itu kesuksesan dari sisi membangun misalnya infrastruktur pembebasan gambut.

Apa dampak positif program ini bagi penghidupan masyarakat?

Ada 101 paket kegiatan ekonomi baik peternakan, pertanian tanpa bakar, perikanan, madu, bahkan sarang walet untuk memperkuat ekonomi masyarakat.

Kita mengintroduksi (memperkenalkan – red) di Kabupaten Pulang Pisau di Desa Sebangau Kuala yang dulunya menggunakan api sekarang kita introduksi pengolahan dengan dekomposer, biological decomposer. Dan itu produktivitasnya sangat bagus. Saya tanya berapa hektar rata-rata padi yang dihasilkan? Cuma 2,7 ton perhektar. Tapi dengan bio dekomposer ini bisa 5 ton perhektar.

Peternakan juga kita dorong misalnya menggunakan pakan ternak setempat seperti rumput kumpai dan sebagainya. Itu yang sebelumnya menjadi sumber kebakaran, sekarang menjadi sumber pakan ternak.

Kendala apa saja yang ditemui dalam program pemulihan lahan gambut?

Pemahaman tentang restorasi gambut juga perlu kita bangun ke semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha, masyarakat, pemerintah daerah, termasuk  lintas kementerian harus kita bangun agar memiliki konseptual yang sama, punya pemahaman yang sama. Sehingga tidak akan muncul lagi kontradiksi atau diskusi-diskusi yang agak kontraproduktif tentang restorasi.

Ada dua kendala utama, jadi kendala teknis. Restorasi gambut, membangun infrastruktur pembebasan gambut, membangun sumur bor, memperkenalkan ekonomi baru tanpa membakar itu membutuhkan pengetahuan teknis. Kita coba bangun dengan pelatihan-pelatihan, dengan pertemuan-pertemuan.

Kendala yang kedua memang kendala sosial bisa jadi. Karena mentransformasi pengetahuan dari membakar untuk bertani menjadi cara baru dengan menggunakan dekomposer, itu butuh contoh dulu. Kalau contoh berhasil, mereka mau ikut. Tapi kendala ini tentu bisa kita atasi dengan cara training, pertemuan, lokakarya dan sebagainya.

Mengenai kebijakan pemerintah zero burning apakah benar berpotensi merugikan petani?

Badan Restorasi Gambut mencoba menawarkan solusi dengan menawarkan teknik bio dekomposer. Jadi teknik bagaimana menggunakan gulma hasil penebasan itu menjadi sumber pupuk alami tanpa harus dibakar. Dan ini merupakan proses transformasi budaya bertani dari cara membakar yang sangat negatif sekali apabila tidak dikontrol. Saya tidak mengatakan bahwa ini tindakan petani ya karena yang lain juga melakukan hal yang sama, menjadi bertransformasi dengan teknologi baru di mana itu lebih efisien dengan tingkat produktivitas padi lebih bagus.

Dan karena ini merupakan proses transformasi budaya bertani tentu butuh waktu, butuh capacity building, butuh pergerakan bersama.

Saya pikir itu positifnya, jadi kita meninggalkan budaya lama yang mana penggunaan api itu sangat berbahaya bagi ekosistem gambut kalau tidak terkontrol.

Kita menuju teknologi baru di mana kita pelan-pelan meninggalkan itu. Memang ini adalah bukan proses jangka pendek, tetapi proses transformasi jangka panjang.

Pemahaman tentang restorasi gambut perlu kita bangun ke semua pemangku kepentingan agar memiliki konseptual yang sama

Alue Dohong, Deputi Bidang Kontruksi, Operasi dan Pemeliharaan BRG

Terkait dengan riset aksi yang dilakukan oleh BRG, materi pembelajaran apa saja yang sudah dihasilkan?

Tahun ini ada lebih dari 40 judul penelitian yang sifatnya penelitian aplikatif, yang dilakukan oleh BRG dengan institusi pendidikan.

Kita punya MoU dengan 11 universitas di dalam negeri baik di 7 provinsi tadi maupun yang ada di Jawa seperti UGM, IPB dan kita juga bekerja sama dengan lembaga kehutanan litbanghut dan juga CIFOR.

Penelitian yang kita lakukan lebih ke aplikatif dan pilot yang langsung meng­-address (mengatasi – red) problem yang ada di lapangan dan memberikan masukan bagaimana intervensi (campur tangan – red) baik rewarding (penghargaan –red), rejuvenation (pemulihan – red), revitalization of local livelihood (revitalisasi penghidupan masyarakat local –red). Itu fokus penelitiannya sekarang.

Baru-baru ini ditemukan lahan gambut terbesar di dunia di Kongo. Apakah hasil riset aksi dan program pemulihan lahan gambut dapat menjadi pembelajaran?

Awal Mei kalau saya tidak keliru Indonesia menjadi tuan rumah The Second Partner Meeting of Global Peatland Initiative di mana pesertanya juga berasal dari Kongo. Kita melakukan tukar menukar pengalaman baik praktis maupun kebijakan.

Kita juga membawa mereka ke lapangan untuk melihat kegiatan restorasi maupun praktik penggunaan gambut di Indonesia. Dan itu mereka sangat mengapresiasi hal tersebut dan hal ini mereka bilang perlu diadopsi terutama dari sisi regulasinya, dari segi restorasinya, dari praktisnya.

Dan saya baru mendengar informasi bahwa Pemerintah Kongo sudah membentuk peatland restoration unit di negaranya. Dan itu perkembangan yang sangat bagus kendati pun tidak mungkin masalah teknik serta praktikal di Indonesia diadopsi begitu saja di Kongo. Tentu saja diperlukan penyesuaian-penyesuaian dengan karakteristik-karakteristik biologi maupun sosialnya. Saya kita kita positif menjadi sebuah pembelajaran bagi Kongo.

Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Alue Dohong di alue.dohong@brg.go.id.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Topik :   Restorasi Lahan Gambut

Lebih lanjut Restorasi or Lahan Gambut

Lihat semua