Liputan Acara

Aktor Alec Baldwin mendukung hak-hak masyarakat adat

Gerakan untuk tindakan iklim dan pembangunan tumbuh di Forum Bentang Alam Global (GLF)
Bagikan
0
Tangkapan layar dari Alec Baldwin ketika berbicara untuk Forum Bentang Alam Global melalui video.

Bacaan terkait

Bonn - Aktor Hollywood Alec Baldwin minggu ini bergabung dengan barisan gerakan yang berkembang untuk mencapai tujuan iklim dan pembangunan sebagai bagian dari Forum Bentang Alam Global (GLF) di Bonn, Jerman.

Berbicara melalui video di konferensi 1.000 orang dari 104 negara, ditambah 51.000 secara daring, Baldwin mendukung pendekatan skala bentang alam GLF untuk mencapai dunia yang berkelanjutan dan adil.

“Ada masyarakat adat yang melindungi banyak hutan yang tersisa di dunia. Kami bisa memberdayakan mereka dengan hak,” katanya.

“Ada solusi yang muncul setiap hari dengan menggabungkan ketahanan pangan, penghidupan dan kemajuan menuju tujuan iklim dan pembangunan. Kita bisa memperjuangkannya.”

Hak masyarakat adat atas tanah dan hutan adalah topik yang dibahas secara luas di Forum, baik sebagai isu keadilan dan salah satu sasaran global mengenai tindakan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Paviliun Masyarakat Adat pada acara tersebut menjadi pusat diskusi mengenai kepemimpinan dan kemitraan masyarakat adat dalam pembangunan yang adil, bentang alam yang berkelanjutan dan aksi lokal yang dibahas selama dua hari dalam acara tersebut.

   Joan Carling, Co-convener Kelompok Masyarakat Adat untuk Pembangunan Berkelanjutan (IPMG), menandatangani Nota Kesepahaman bersama Direktur Jenderal CIFOR Robert Nasi (dengan warna merah) dan analis CIFOR Stephen Leonard (dengan warna biru). Pilar Valbuena Perez/CIFOR

SUARA MASYARAKAT ADAT

Masyarakat adat akan memainkan peran penting dalam gerakan GLF ke depan, seperti yang dikonfirmasi oleh Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding / MoU) yang ditandatangani di Bonn pada hari terakhir.

Kesepakatan antara Kelompok Masyarakat Adat untuk Pembangunan Berkelanjutan (IPMG) dan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), yang memimpin GLF, menegaskan keterlibatan masyarakat adat di forum multi-aktor dari tahun 2018-2022.

“Pengetahuan ilmiah dibangun berdasarkan pengetahuan tradisional,” kata Joan Carling, Co-convener dari IPMG, pada acara pleno penutupan.

“Kami, masyarakat adat, ada di sini karena ada untuk berkontribusi pada pengelolaan bentang alam, untuk pembangunan berkelanjutan. Kami perlu diperlakukan sebagai aktor, bukan masalah, atau korban.”

Berdasarkan kesepakatan baru tersebut, IPMG akan memegang kursi permanen di Komite Pengetahuan GLF yang secara teratur akan menyelenggarakan diskusi dan pameran di acara GLF, dan akan terlibat dalam kursus pelatihan, acara anak muda dan forum daring, di antara kesempatan partisipasi lainnya.

“Keterlibatan masyarakat adat sangat penting bagi keberhasilan Forum Bentang Alam Global, dan pengelolaan bentang alam yang berkelanjutan secara lebih umum,” kata Direktur Jenderal CIFOR Robert Nasi pada saat penandatanganan.

   Roberto Borrero (tengah), Koordinator Program dan Komunikasi Dewan Perjanjian Internasional India, bergabung dalam forum diskusi tentang hak dan pembangunan yang adil. Pilar Valbuena Perez/CIFOR

MELIHAT MASA DEPAN

Sebuah forum diskusi yang dipimpin oleh IPMG di GLF Bonn menyoroti kebutuhan untuk menempatkan masyarakat adat di tengah proses pembuatan kebijakan mengenai keberlanjutan dan konservasi lahan.

Pembicara mendesak peningkatan investasi pada masyarakat adat, baik dari segi dana dan investasi dalam pengetahuan tradisional, dengan mengatakan bahwa jalan masih panjang untuk melestarikan bentang alam.

“Masyarakat adat dan profesional muda berkontribusi pada setiap bidang yang menangani perubahan iklim dan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Saya pikir itu adalah salah satu kontribusi terbesar yang mereka lakukan dengan melihat sesuatu sebagai gambaran yang lengkap,” kata panelis Janene Yazzie, Co-founder dan CEO Sixth World Solutions.

Informasi lebih lanjut digali untuk melihat kontribusi asli bukan sebagai peninggalan masa lalu, juga sebagai sumber saat ini dan masa depan yang terus beradaptasi terhadap perubahan. Teknologi informasi baru diidentifikasi sebagai alat yang ampuh untuk menghubungkan kelompok masyarakat adat di seluruh dunia dan untuk menyebarkan isu dan keprihatinan mereka.

“Ada juga masalah ketahanan yang sangat penting, dan bahwa kami tidak melihat sistem pengetahuan tradisional dan pengetahuan adat entah bagaimana dikatakan beku,” kata Jeffrey Campbell, Manajer Forest and Farm Facility (FFF) di Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

“Karena kami melihat ini diadaptasi setiap hari – varietas jagung baru sekarang mungkin lebih disukai daripada yang lama, seperti halnya bentang alam harus digunakan untuk budidaya, kesadaran baru akan peran hutan, bahkan dalam skala wilayah,” tambahnya.

Pada penutupan pleno, Carling dari IPMG menekankan perlunya tindakan kolaboratif dan inklusif.

“Kita perlu berkumpul dalam dialog yang konstruktif – dalam pencarian solusi secara langsung yang dapat disumbangkan oleh setiap orang,” katanya.

“Kita bisa menemukan solusinya dan kita bisa bekerja sama untuk benar-benar memperkuat manajemen bentang alam.”

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org