Wawancara

‘Kita semua adalah pemangku kepentingan dari masalah yang kita hadapi’

Refleksi Direktur Jenderal CIFOR, Robert Nasi, menjelang Forum Bentang Alam Global di Bonn
Bagikan
0
Pemandangan alam desa Tribudi Syukur di Lampung, Indonesia. Menurut Direktur Jenderal CIFOR, Robert Nasi, makna ‘bentang alam’ bergantung pada cara pandang. Nanang Sujana/CIFOR

Bacaan terkait

Seiring dengan menguatnya komitmen dunia untuk mengatasi perubahan iklim, merestorasi lahan terdegradasi dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan untuk semua, berbagai pelaku berpengaruh muncul sebagai pemangku kepentingan dari tingkat lokal hingga global.

Memediasi sudut pandang dan tuntutan para pemangku kepentingan ini bukan tugas ringan. Walaupun sebagian solusi dapat ditemukan melalui ‘pendekatan bentang alam’, sebuah konsep yang berasal dari ekologi bentang alam. Pendekatan ini bertujuan mengakomodasi beragam suara dalam sebuah diskusi.

Pendekatan ini dipilih oleh Forum Bentang Alam Global (GLF), sebuah gerakan yang dipimpin oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), untuk menjadi wahana bagi beragam pelaku sebagai landasan bersama dalam mengatasi masalah global yang paling mendesak.

Direktur Jenderal CIFOR, Robert Nasi berbincang dengan Kabar Hutan menjelang pelaksanaan Forum ini di Bonn, Jerman, pekan ini. GLF mendiskusikan konsep ‘pendekatan bentang alam’ dan perannya memperkokoh solusi berkelanjutan dan berkeadilan.

Pekan ini, di Bonn, Anda akan membuka GLF, gerakan global yang dipimpin CIFOR. Mengapa fokus pada bentang alam?

Saya pikir bentang alam adalah unit manajemen yang tepat. Kita punya masalah global, dan secara substansial pelik. Jika kita hanya memandang secara sektoral, seperti hutan atau kota, kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Kita punya peluang untuk menyelesaikan masalah ini, atau setidaknya memitigasi konsekuensinya, hanya jika kita melihat gambaran utuh – gambaran utuh itu lah yang kita sebut bentang alam.

Anda katakan bahwa bentang alam ini adalah unit manajemen yang tepat. Jadi apa itu bentang alam?

Kita bisa terjebak 4-5 tahun ke depan mencoba mendefinisikan bentang alam. Saya lihat ada diskusi terus menerus mengenai definisi ‘hutan’, sejak saya bekerja di bidang ini pada 1981. Dan sejauh ini, tidak ada kesepakatan universal mengenai definisi hutan.

Sama dengan bentang alam. Apa definisi ‘bentang alam’ sudah ada di depan mata masing-masing. Seekor semut akan melihat bentang alam yang sangat berbeda dengan seekor gajah. Bagi petani, bentang alam adalah pertanian, apa yang berada di sekeliling pertanian, dan para tetangganya, jika ada. Bagi gubernur Aceh, bentang alamnya adalah provinsi Aceh. Ini bergantung apa yang kita cari, dan tujuan kita menggunakan konsep bentang alam ini.

Meski bukan sesuatu yang dapat diturunkan menjadi sebuah definisi sederhana, saya pikir, ini unit yang tepat untuk coba menyelesaikan masalah yang ada. Kita bisa mendapat definisi kerja bentang alam jika mau – kita punya banyak. Tetapi saya tidak berpikir akan sangat bermanfaat untuk memerasnya menjadi sebuah definisi yang sangat sempit.

Jadi, mungkin daripada mendefinisikan bentang alam, lebih penting untuk mendefinisikan ‘pendekatan bentang alam’?

Ya, tepat sekali. Isu besar ‘bentang alam’ berasal dari ekologi bentang alam, dan lebih berupa konsep biofisik. Orang melihat kawasan tertentu, dan mencari konektivitas lintas kawasan tersebut.

Kini kita bergerak melampaui sekadar pola ekologi, sebaran, atau struktur. Kita melihat bahwa di bentang alam ada masyarakat, ada institusi, ada banyak hal yang membentuk sebuah unit bentang alam. Dengan alasan ini, Saya melihat bentang alam lebih perlu didefinisikan melalui pertanyaan-pertanyaan kita daripada melalui batas geografis atau administratif.

Di GLF, kita melibatkan beragam pemangku kepentingan dengan beragam pemanfaatan, nilai atau ikatan makna pada bentang alam. Jadi kita berhadapan dengan kelindan keberagaman dan saling beririsan dalam bentang alam.

Ini mengapa menjadi rumit, dan mengapa tidak ada struktur manajemen atau administratif yang benar-benar cocok pada level bentang alam. Ini bukan berarti kita tidak bisa punya definisi kerja dari bentang alam, namun harus diakui, meski bergantung pada kepentingan masing-masing, kita akan melihat setiap bentang alam dari beragam perspektif.

Pada GLF, pertanyaan seperti apa yang diberikan pada bentang alam, dan pada skala bagaimana?

Bagi saya, GLF bertujuan menyediakan wahana bagi masyarakat untuk menjawab pertanyaan pelik – seperti, mengenai pembangunan berkelanjutan, atau perubahan iklim – pada beragam skala. Jadi sebagian bisa global, meski sebagian lain lokal, atau nasional. Dan inilah mengapa gagasan GLF bekerja di berbagai skala.

Ada pandangan wahana ini terkait pada hutan, pohon dan pertanian, namun mengapa tidak terfokus juga pada bentang laut? Banyak hal terjadi dalam bentang laut sangat dipengaruhi apa yang terjadi di hulu. Hampir sekitar 60 persen populasi dunia tinggal di wilayah pesisir. Dan mereka akan terdampak perubahan iklim, kenaikan permukaan laut, tsunami dan lainnya. Jika kita ingin mengatasi masalah seperti ini, kita perlu mempertimbangkan bentang alam, apa artinya sebuah tempat di hulu hingga tempat dengan kedalaman 200 meter di bawah air.

Tidak ada wahana yang benar-benar menangani diskusi sejenis ini. Di mana orang dapat membicarakan isu ini terkait kebijakan dan perubahan? Saya pikir, inilah yang diberikan GLF.

Di posisi mana ilmu pengetahuan bisa masuk? Peran seperti apa yang dapat diberikan penelitian dalam diskusi ini?

Peran penelitian adalah untuk menginformasi perdebatan. Menyediakan bukti terbaik yang tersedia pada satu waktu tertentu, dan menyatakan ‘OK, ini yang kita tahu dan ini konsekuensi berbagai tindakannya. Pihak lain akan mengambil informasi tersebut dan memilih jalan untuk diikuti. Sebagai individu, kita bisa memiliki pendapat mengenai jalan lebih baik. Namun, sebagai peneliti, jika tidak ingin bias, kita harus menyediakan beragam jalan berdasarkan bukti. Penelitian memang tidak pernah tidak bias, karena kita semua adalah pemangku kepentingan dari masalah yang kita atasi, namun kita melakukan yang terbaik untuk menemukan solusi paling tepat.

Inilah mengapa perlu dipahami bahwa apa yang kami lakukan sebagai pusat penelitian bukan semata penelitian, tetapi juga peningkatan kapasitas. Ini dilakukan agar masyarakat dapat memahami konsekuensi keputusannya.  Kami juga menerjemahkan hasil penelitian kami ke dalam dokumen panduan kebijakan, agar para pengambil kebijakan memiliki informasi yang diperlukan untuk memandu keputusan mereka.

Dan apa yang akan dibawa peneliti CIFOR untuk diskusi di GLF?

Terkait apa yang dilakukan CIFOR, kami fokus pada kontribusi hutan dan kehutanan pada aksi iklim dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan mencoba menunjukkan bahwa hutan merupakan bagian integral dari solusi. Namun idealnya, GLF akan membawa berbagai gagasan dan beragam orang.

Kami akan terus mengangkat posisi penting hutan dan pohon. Meski kami juga menyadari bahwa banyak hal penting lain. Justru inilah yang akan memberi potensi solusi, ketika kita mempertimbangkan seluruh elemen tersebut untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Pada pleno pembukaan, Anda akan menjadi bagian peluncuran tahapan lima tahun GLF ke depan, yang akan menyusun Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dapatkah diceritakan mengenai hal ini?

CIFOR akan memimpin GLF, namun tidak lantas memaksakan apa isinya. Tentu saja kami punya gagasan sendiri mengenai topik yang ingin diangkat – seperti isu restorasi lahan terdegradasi, atau isu tenurial dan hak adat. Namun, GLF merupakan sebuah wahana dan mekanisme perluasan yang diharapkan dapat mengakselerasi aksi berkelanjutan, dan mengoptimalkan praktik pada level bentang alam. Karena kami ingin membawa semua orang ke meja.

Lima tahun ke depan adalah rentang hidup aktual dari apa yang kami miliki, namun gagasannya GLF bukan sesuatu yang akan berhenti dalam lima tahun, tetapi kita harap bekerja sampai 20 tahun ke depan.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org