Video

Kekuatan komunikasi sains

Bagaimana media dapat membantu melindungi lahan gambut Indonesia
Bagikan
0

Bacaan terkait

Indonesia - Bagi sebagian penduduk Sumatera Selatan, gambut adalah keseharian.

“Hidup ini makin sulit,” Maemunah, perempuan berusia 53 tahun. Ia tinggal di desa Talangnangka, di pusat provinsi, di tengah lahan gambut yang dulu tertutup hutan. Lahan luas yang dikeringkan dan dibakar untuk pertanian itu memicu efek berantai. Perkebunan karet lokal terbakar habis. Tinggi muka air juga juga merosot drastis bersama dengan mengeringnya gambut.

“Sekarang susah sekali mendapatkan ikan,” kata Maemunah. “Dulu, saya bisa menjual ikan dan mendapat 100 ribu rupiah sehari. Sekarang, dapat 10 ribu rupiah saja sulit. Gambut seharusnya dijaga, tapi ini tidak.”

Di desa Prigi, Yandri, bertani padi dengan membersihkan dan membakar lahannya setiap tahun untuk mengusir hama. Abunya digunakan untuk menyuburkan tanah. Praktik yang kini illegal, sejalan dengan upaya pemerintah melindungi lahan gambut. Namun, Yandri tidak tahu alternatif selain itu.

“Masyarakat kami tidak memahami bagaimana mengelola lahan gambut dengan benar,” katanya.

   53-year-old Maemunah is a fisherwoman in Talangnangka village, South Sumatra. Here, she casts her nets for fishing in the rivers that cut through peatlands. Photo by: Icaro Cooke Vieira/CIFOR

KEBAKARAN SUMATERA SELATAN

Kebingungan masyarakat bagaimana secara efektif mengelola lahan gambut sebagai tempat mereka bergantung berkontribusi pada masalah di Sumatera Selatan. Provinsi yang memiliki wilayah gambut terluas di Indonesia.

Provinsi ini juga mengalami kebakaran hutan terbesar ketika area ini dikonversi menjadi lahan perkebunan untuk menghasilkan minyak sawit. Dalam proses tersebut, sejumlah besar karbon terlepas ke atmosfer. Tanaman dan binatang langka juga terganggu, sementara udara beracun memicu ancaman kesehatan jangka panjang.

Para peneliti berjuang menemukan solusi dan menjawab kebingungan masyarakat dengan pengetahuan yang dapat melindungi lahan gambut dan penghidupan mereka. Mereka juga ingin secara efektif mengkomunikasikan perjuangan masyarakat yang tinggal di lahan gambut kepada para pengambil kebijakan.

  

BERGABUNG DENGAN JURNALIS

Banyak orang percaya media dapat menjadi kuncinya.

Televisi merupakan sumber berita dan hiburan utama di Indonesia. Begitu pula radio dan koran. Radio khususnya, menjadi media penting untuk menjangkau masyarakat di wilayah desa. Pembaca daring juga berkembang. Penelitian terbaru menunjukkan pesatnya pertumbuhan akses internet dan media sosial di Indonesia.

“Untuk mempopulerkan bahasa ilmiah, kita perlu media,” kata Budhy Kristanty, Koordinator Komunikasi Indonesia pada Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Baru-baru ini, Kristanty menggelar lokakarya pelatihan media, Peran bentang alam terintegrasi dalam isu kebakaran, lahan gambut dan bionergi, untuk 40 wartawan Indonesia di Palembang, Sumatera Selatan.

“Media dapat menjadi agen perubahan dalam mendorong perubahan perilaku,” katanya.

“Kami menulis dan tulisan kami dipahami oleh masyarakat umum, dan dipahami oleh profesor,” kata Muhammad Arif Eko Wibowo, jurnalis MNC Media Sumatera Selatan, yang mengikuti lokakarya.

SAAT ILMU PENGETAHUAN BERTEMU MEDIA

Bersama empat ilmuwan CIFOR, Kristanty menggelar pelatihan dua hari untuk 40 jurnalis – sebagian sudah memiliki pengetahuan luas mengenai lahan gambut, sebagian lain baru atau belum tahu sama sekali. Selain melakukan kunjungan lapangan ke masyarakat terdampak, lokakarya juga berisi presentasi para ilmuwan mengenai gambut, deforestasi dan pengenalan proyek penelitian bioenergi dan konservasi di Indonesia.

“Sangat penting bagi ilmu pengetahuan berkomunikasi dengan masyarakat luas termasuk media,” kata Himlal Baral, ilmuwan senior CIFOR, yang mempresentasikan penelitian pemanfaatan tanaman bioenergi untuk merestorasi lahan terdegradasi di Kalimantan, Indonesia pada pelatihan itu.

   Journalists with Budhy Kristanty, Communications Coordinator for CIFOR's Indonesia program. Photo by: Icaro Cooke Vieira/CIFOR
   CIFOR scientists and participating journalist take a group photo at the CIFOR media workshop in Palembang, South Sumatra. Photo by: Icaro Cooke Vieira/CIFOR

“Sebagai ilmuwan, kami mencari jawaban atas masalah kompleks dan mempresentasikannya dalam makalah atau jurnal ilmiah, yang tidak menarik bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat ataau pengambil keputusan lokal,” katanya. “Media dapat membantu mengubahnya dalam bentuk lebih sederhana.”

Penelitian telah menunjukkan pelibatan positif media Indonesia dalam isu terkait, seperti pada proyek REDD+, yang bertujuan melakukan reduksi emisi dari deforestasi dan memperkuat konservasi.

Namun, secara keseluruhan media masih perlu melangkah lebih jauh.

“Ternyata pengetahuan dasar mengenai lahan gambut, hutan dan lingkungan hidup umumnya masih kurang,” kata Kristanty. “Beberapa jurnalis di sini bahkan belum tahu lahan gambut, atau mengapa konservasi lahan gambut itu penting.”

Hal yang lebih menantang, membuat media tertarik melakukan liputan dengan sudut pandang ilmiah ternyata tidak mudah.

“Di Indonesia, menurut saya, media umum jarang tertarik meliput berita lingkungan, kecuali ada kejadian besar, yang membuatnya penting untuk diliput, seperti kebakaran hutan, atau banjir dan longsor,” kata Kristanty.

  

Setelah bertemu dan mewawancarai ilmuwan secara langsung pada acara tersebut, para jurnalis memaparkan analisis mengenai kurangnya liputan ilmiah dalam media mereka: kekurangan sumber.

“Kami mengalami kesulitan menemukan peneliti di wilayah kami yang memiliki perhatian mendiskusikan isu lingkungan,” kata Tasma Sindo, jurnalis Koran Sindo di Palembang. “Contohnya, sulit bagi kami untuk membandingkan informasi ilmiah atau opini dari LSM di wilayah kami; mereka cenderung bias. Berita hanya datang dari pemerintah atau pemangku kepentingan resmi.

TANTANGAN BONN

Pelatihan media bertepatan dengan Pertemuan Tingkat Tinggi Tantangan Bonn di Palembang, Sumatera Selatan beberapa hari kemudian (9-10 Mei).

Tantangan Bonn yang dimulai pada 2011, merupakan upaya global merestorasi 150 juta hektare lahan terdeforestasi dan terdegradasi pada 2020 dan 350 juta hektare pada 2030. Tantangan ini dirancang untuk membantu berbagai negara mewujudkan komitmen internasionalnya, termasuk REDD+.

Hingga saat ini, 44 pemerintahan, aliansi dan organisasi swasta berkomitmen merestorasi 150 juta hektare lahan dalam menjawab tantangan ini. Meski belum menjadi bagian dari Tantangan Bonn, Indonesia berjanji merestorasi lebih dari 29.000.000 hektare lahan. Dalam mencapai target ini, pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut, melarang teknik tebang dan bakar, serta melarang konversi lahan gambut menjadi perkebunan.

Para ilmuwan berharap media dapat membantu mempublikasikan penelitian mereka dalam memitigasi perubahan iklim dan menyeimbangkan penghidupan pada lahan terdegradasi dengan beralih pada solusi berkelanjutan seperti bioenergi dan restorasi bentang alam, agar masyarakat mampu berkontribusi untuk tujuan-tujuan ini.

“Tantangan Bonn adalah kunci bagi restorasi karena jelas targetnya,” kata Herry Purnomo, ilmuwan CIFOR yang berpartisipasi dalam pelatihan. “Penting bagi media untuk mendukung visi dan tindakan ini.”

Kembali ke lahan gambut, Maemunah dan Yandri tidak sabar untuk mendapatkan informasi praktis yang dapat membantu mereka menjalani kehidupan. Para peneliti berharap tidak hanya media dapat menjangkau mereka dengan berita relevan, namun jurnalis juga membantu menyampaikan pengalaman mereka ke ibu kota provinsi dan pemerintahan pusat untuk membantu perubahan lebih besar.

  
(Visited 83 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Budhy Kristanty di B.Kristanty@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org