Liputan Acara

Sorotan Acara: Global Landscapes Forum – Peatlands Matter

Masyarakat lokal merupakan ujung tombak upaya melestarikan lahan gambut.
Bagikan
0
Emmanuela Shinta dari Yayasan Ranu Welum berbicara pada sesi pleno perspektif dan prioritas masyarakat di lahan gambut pada Global Landscapes Forum: Peatlands Matter di Jakarta, 18 Mei 2017. CIFOR

Bacaan terkait

Indonesia - Tampaknya bertentangan dengan pandangan umum ketika kepentingan manusia diutamakan dalam mengatasi masalah lingkungan yang rumit dan teknis di lahan gambut. Namun Global Landscapes Forum: Peatlands Matter membuktikan, pengalaman lokal merupakan komponen krusial bagi langkah maju mengelola bentang alam yang meski hanya mencakup kurang dari 3-5 persen permukaan bumi, simpanan karbonnya lebih dari 30 persen karbon tanah dunia.

“Saya pikir ini saatnya mengkalibrasi diskusi, memulainya dengan suara lokal,” kata Peter Holmgren, Direktur Jenderal Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). “Ketika aspek manusia diutamakan, kita sekaligus bisa melangkah maju, dalam hal iklim.”

Forum sehari yang digelar di Hotel JS Luwansa Jakarta pada 18 Mei lalu, berselang kurang dari dua tahun setelah kebakaran besar lahan gambut Indonesia 2015 yang memicu perhatian global pada urgensi dan kerentanan lahan gambut.

Setelah relatif bebas kebakaran menyusul meningginya kesadaran, upaya mitigasi dan  efek pendinginan La Nina 2016, tantangan saat ini adalah menjaga simpanan karbon dunia dan terus melindungi bentang alam kaya ini.

“Masyarakat mengalami kerugian ekonomi, penyakit, bahkan kematian,” kata Holmgren. “Meski mulai menghilang di media, masyarakat masih berjuang.”

Jawaban Forum atas tantangan ini adalah dengan membawa Indonesia dan masyarakat lahan gambut internasional ke garis depan percakapan, belajar dari berbagai pengalaman lapangan, dan berbagi pengetahuan dengan pengambil kebijakan, ilmuwan, pekerja pembangunan, pemangku kepentingan sektor swasta dan satu sama lain.

PERSPEKTIF MASYARAKAT

Moderator pleno, Damayanti Buchori, pengajar di Institut Pertanian Bogor, mengawali diskusi dengan pertanyaan: Apakah ilmu memberi manfaat pada masyarakat?

Satu cara kunci yang dapat menjamin hal itu, katanya, adalah melalui dialog konstruktif dan mengasah pengetahuan baru dengan mendengar cerita masyarakat yang tinggal di ekosistem lahan gambut.

Pernyataan ini menjadi nada utama diskusi, yang melangkah lebih dari sekadar diskusi teknis penelitian lahan gambut dengan menampilkan pengalaman langsung para pemangku kepentingan yang terlibat dalam bentang alam ini.

Pada pleno pertama – berjudul Perspektif dan prioritas masyarakat di lahan gambut – seorang mantan guru dari Kalimantanmemaparkan bagaimana ia membuat cara meningkatkan kesuburan tanah lahan gambut tanpa menggunakan metode pertanian tradisional tebang dan bakar. Sementara, seorang anggota masyarakat dari Riau, Indonesia, mengingat bagaimana leluhurnya  hidup di awal 1900-an dengan membudidayakan sagu di lahan gambut, bukan sawit yang harus mengeringkan gambut terlebih dahulu.

“Kita perlu kerjasama antara masyarakat dan pemerintah,” kata Edi Rusman, petani dan tokoh masyarakat dari Sumatera Selatan yang menjadi salah seorang panelis. “Saya pikir kesalahan lalu berakar dari kurangnya kerjasama. Masyarakat adat dikeluarkan oleh korporasi. Kerjasama memungkinkan kita berkebun di lahan gambut. Kita perlu menjaga dan merestorasi lahan gambut untuk penghidupan.”

   Direktur Jenderal CIFOR Peter Holmgren, kiri,diperkenalkan pada anggota masyarakat pada sesi pleno Forum mengenai perspektif dan prioritas masyarakat di lahan gambut. CIFOR
   Akhmad Tamanuruddin, anggota masyarakat Kalampangan, berbicara pada sesi pleno mengenai perspektif dan prioritas masyarakat di lahan gambut. CIFOR

Dalam sesi pleno kedua – Lahan gambut dunia: Tantangan dan peluang –  tokoh lingkungan dari dua negara yang memiliki lahan gambut terluas di wilayahnya, Republik Demokratik Kongo dan Peru, berbagi tantangan, praktik terbaik dan peluang menyempurnakan tata kelola lahan gambut dunia.

Pleno yang dimoderatori oleh Dr. Justin Lee, Wakil Pimpinan Misi Australia di Indonesia, berupaya menjawab pertanyaan mengenai upaya global yang telah dilakukan, dan bagaimana peningkatan dan penyempurnaan dapat dilakukan.

Para panelis terdiri dari Nazir Foead, Ketua Badan Restorasi Gambut; Pierre Taty; Direktur dalam Kabinet Kementerian Ekonomi Hutan, Pembangunan Berkelanjutan dan Lingkungan Hidup Republik Kongo; Dennis del Castillo, Direktur Tata Kelola Hutan dan Program Jasa Lingkungan Hidup Institut Penelitian Amazon Peru (IIAP); dan Gerald Schmilewski, Presiden Masyarakat Lahan Gambut Internasional (IPS).

Para tokoh masyarakat dari pleno pertama berkesempatan untuk berinteraksi dengan para panelis. “Saya pikir Basin Kongo berbeda dari Indonesia, tetapi Kongo belum tersentuh atau rusak seperti di Indonesia,” kata Akhmad Tamanuruddin, guru sekolah dari Kalimantan.

Mengarahkan komentarnya pada Taty, ia berkata: “Saya minta negara Anda menyelamatkan keaslian lahan gambut, karena membuat dunia tempat yang lebih bahagia bagi masyarakat yang bergantung padanya.”

   Diskusi panel "Lahan gambut dunia: Tantangan dan peluang" pada Global Landscapes Forum: Peatlands Matter di Jakarta CIFOR
   Direktur Tata Kelola Hutan dan Program Jasa Lingkungan , Institut Penelitian Amazon Peru (IIAP) Dennis del Castillo, kanan, berbicara pada sesi pleno “Lahan gambut dunia: Tantangan dan peluang”. CIFOR
   Justin Lee, Wakil Pimpinan Misi Australia di Indonesia, saat memandu sesi pleno "Lahan gambut dunia: Tantangan dan peluang." CIFOR

KERAGAMAN SUARA

Kebangkitan global atas pentingnya lahan gambut tampaknya merupakan garis merah dari kerusakan akibat kebakaran 2015. Peristiwa itu juga mengangkat fakta mengenai kurangnya kesadaran mengenai bentang alam lahan gambut, dan bagaimana seharusnya lahan ini dilindungi dan dikelola ke depannya.

Melalui fokus pada suara masyarakat, salah satu tujuan utama Forum adalah memanfaatkan peluang untuk mengambil pendekatan berbeda pada pendidikan lahan gambut – melalui pendekatan yang luas dan komprehensif. Hal ini berarti mengaitkan suara petani dan nelayan dengan pemerintah, sektor swasta, ilmuwan, dan organisasi pembangunan dalam lebih menyeimbangkan konservasi, penelitian, pembangunan dan tujuan-tujuan fiskal.

Pada ujung ini, sesi sore Forum bersifat meluas. Para peserta disebar dalam panel yang mencakup inisiatif terfokus pada generasi muda dan pelibatan sektor swasta.

   Aulia Perdana, ilmuwan ICRAF berbagi pengalaman analisis pemasaran produk hasil hutan dalam sesi "Masyarakat dan gambut: Penghidupan dalam konteksnya." CIFOR
   Diskusi panel “Kebakaran lahan gambut, asap dan kesehatan” dalam Global Landscapes Forum: Peatlands Matter di Jakarta. CIFOR

Sementara itu, diskusi ilmiah yang digelar CIFOR, UN Environtment, Bank Dunia, dan Pusat Penelitian Agroforestri Dunia (ICRAF) mengeksplorasi beragam topik seperti mengukur stok karbon lahan gambut, meneliti dampak kesehatan pada kebakaran dan asap,  meningkatkan investasi untuk retorasi lahan gambut, dan membangun keterhubungan antara masyarakat dan gambut.

Tantangan yang dihadapi juga beragam, antara lain mengidentifikasi dan mengembangkan tanaman baru yang dapat tumbuh dalam lingkungan lahan gambut, mitigasi proliferasi perkebunan sawit, mengatasi dampak kesehatan kebakaran lahan gambut, meningkatkan kesuburan tanah gambut, dan menarik investasi lebih besar dari sektor swasta.

“Banyak pemain dalam bentang alam lahan gambut, semua dengan kepentingan berbeda,” kata Buchori. “Pertanyaannya: Bagaimana kita bisa hidup berdampingan?”

Forum menjadi contoh nyata, bahwa tidak   mungkin hanya mencapai satu tujuan ini, namun juga sekaligus perlu dan penting bagi kemanfaatan iklim, lingkungan dan penghidupan lokal.

   Peserta IFSA Asia Pacific Regional Meeting melakukan foto bersama dengan Direktur Jenderal CIFOR, Peter Holmgren pada sesi generasi muda berjudul “Generasi muda dan lahan gambut: Pertemuan Regional Asia Pasifik Asosiasi Mahasiswa Kehutanan Internasional IFSA”. CIFOR
(Visited 73 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org