Liputan Acara

Mengelola Lahan Gambut di Sumatra Selatan untuk Berbagai Manfaat

Pendekatan secara komprehensif membuahkan hasil
Bagikan
0
Lokasi penelitian dan petak percontohan agrosilvofishery di Sumatra Selatan. Foto oleh Rujito Agus Suwignyo/Universitas Sriwijaya

Bacaan terkait

Lahan gambut merupakan sistem lahan basah unik dan penyerap karbon yang signifikan. Terdapat di 169 negara, lahan gambut menutupi kurang dari 3 persen permukaan bumi, namun menyimpan lebih dari sepertiga karbon global.

Pusat Penelitian Kehutanan dan Wanatani Internasional (CIFOR-ICRAF) dan para mitra telah mendemonstrasikan praktik pemanfaatan lahan berkelanjutan, meliputi eksplorasi pendekatan agrosilvofishery cerdas iklim untuk merestorasi lahan gambut terdegradasi.

“Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia adalah kasus klasik,” kata Himlal Baral, ilmuwan senior CIFOR-ICRAF, dan moderator acara paralel KTT Iklim COP26. “Bagaimana kita mengelola lahan gambut Sumatra Selatan akan berdampak, baik positif ataupun negatif pada simpanan karbon, iklim dan penghidupan.”

Peserta sesi mendiskusikan 12 juta hektare lahan gambut di Sumatra Selatan yang kini berada dalam tekanan ekspansi pertanian dan aktivitas pembangunan.

Menurut Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Indonesia, Sumatra Selatan memiliki target nasional terbesar kedua untuk restorasi lahan gambut terdegradasi, lebih dari 600.000 hektare sejak 2016.

Pandji Tjahjanto, Kepala Dinas Kehutanan, dan Darna Dahlan, Kepala BRGM Provinsi Sumatra Selatan, mewakili Herman Deru, Gubernur Sumatra Selatan menyatakan bahwa kebakaran hutan yang memicu kabut asap beracun pada 2015, sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas manusia.

Lebih dari 700.000 hektare terbakar, sebagian besarnya lahan gambut. Setelah terjadi penurunan pada 2019, lebih dari 17.000 kebakaran tunggal terjadi pada lebih dari 400.000 hektare.

Memperkuat sejumlah regulasi baru untuk mengurangi risiko kebakaran, pemerintah juga menjalankan program pembasahan, revegetasi, dan revitalisasi lahan gambut terdegradasi dan terbakar.

Pembasahan mencakup upaya membendung dan mengisi kembali kanal kering agar tinggi air terjaga, serta membuat sumur untuk penduduk. Revegetasi tidak hanya membantu regenerasi alami, tetapi juga membangun pembibitan spesies pohon asli, disertai program penanaman.

Revitalisasi terfokus pada penghidupan masyarakat melalui adaptasi pada lingkungan unik lahan gambut, bertanam – antara lain sagu, gelam, jelutong dan talas rawa – diiringi penyebaran bibit ikan asli, hewan ternak, dan mengembangkan ekowisata.

Lokasi penelitian dan petak percontohan agrosilvofishery di Sumatra Selatan. Himlal Baral/CIFOR-ICRAF

Sejak 2018 hingga 2021, sekitar 70 hektare di enam kabupaten telah direvegetasi, hampir 300 sumur digali dan lebih dari 1.000 kanal diperkuat dan dibendung. Pandemi COVID-19 memperlambat kemajuan.

Manajemen berkelanjutan lahan gambut dapat menghasilkan berbagai barang dan jasa ekosistem.

“Pendekatan yang dilakukan mencakup asesmen kualitatif mengidentifikasi indikator kunci jasa ekosistem melalui wawancara dengan informan kunci; dan asesmen kuantitatif biofisik bentang alam gambut menggunakan proksi,” kata Yustina Artati, peneliti senior CIFOR-ICRAF. “Nilai jasa, terutama karbon dan air juga dinilai.”

Riset terfokus pada lahan percontohan di bentang alam Padang Sugihan di bagian timur provinsi yang rentan kebakaran dan degradasi. Lahan percontohan meliputi area konservasi gajah sumatra, dan perkebunan kelapa sawit dan kayu skala besar. Pembakaran yang diterapkan untuk membersihkan lahan menjadi pemicu degradasi.

Menggunakan model Valuasi Terintegrasi Jasa dan Pertukaran Ekosistem (InVEST), tim menelaah empat skenario:

  1. Pendekatan biasa (business as usual): tidak ada perubahan kerangka ekonomi masyarakat
  2. Manajemen berkelanjutan paludikultur: untuk kemanfaatan ekonomi dan lingkungan
  3. Konservasi-sentris: mengasumsikan lahan gambut dikonservasi untuk mengurangi emisi karbon dioksida
  4. Pertanian intensif dan lebih banyak pengeringan hingga 2030, serta lemahnya penegakkan hukum

Dari empat poin tersebut, manajemen berkelanjutan dengan teknik paludikultur dipandang paling memberi manfaat ekonomi dan lingkungan, termasuk meningkatkan penghasilan masyarakat, mengurangi risiko kebakaran dan meningkatkan tutupan pohon dan simpanan karbon.

“Kunci bagi keberhasilan ekonomi masyarakat adalah introduksi sistem agrosilvofishery yang menggabungkan pertanian, pohon, dan perikanan,” kata Artati.

Bastoni Brata, peneliti senior silvikultur Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Sumatra Selatan menyatakan, manajemen lahan gambut berkelanjutan berbasis pada Unit Hidrologis Lahan Gambut.

“Pemerintah telah merancang regulasi sejak tujuh tahun lalu untuk melindungi lahan gambut,” katanya, bertepatan dengan kebakaran 2015. “Unit Hidrologi Lahan Gambut dibangun untuk ini.”

Di unit area produksi, paludikultur bisa diterapkan, kata Bastoni. Paludikultur merupakan sistem pertanian ramah gambut yang memanfaatkan lahan gambut – termasuk pembasahan – untuk produksi dan simpanan karbon, menjaga tinggi air secara konsisten sepanjang tahun.

Paludikultur dapat merestorasi lahan gambut terdegradasi hingga bisa dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi sambil mendorong dekomposisi gambut, menurunkan emisi dan subsiden.

“Kami telah meneliti praktik restorasi paludikultur sejak 1995 di hutan gambut terdegradasi di Provinsi Sumatra Selatan dan Jambi,” katanya. “Spesies pohon tumbuh baik, menghasilkan sekuestrasi karbon tingkat tinggi dan kayu berkualitas yang mahal. Kami menemukan bahwa setelah 10 tahun, regenerasi alami versus artifisial memiliki tutupan kanopi serupa.”

Bastoni dan tim merekomendasikan praktik paludikultur seperti agrosilvofishery sangat cocok untuk gambut dangkal dan area terkultivasi.

“Setelah tiga tahun, terdapat perkembangan positif,” katanya. “Sembilan spesies ikan lokal cocok untuk budi daya.”

Melakukan riset di lahan pertanian terdegradasi Desa Perigi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Erizal Sodikin, pengajar di Prodi Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Sumatra Selatan, menemukan bahwa penyempurnaan teknik budi daya beras meningkatkan hasil panen dari 1,18 ton menjadi 3,69 ton per hektare.

“Dampak agrosilvofishery sangat positif,” katanya. “Para petani lebih sering mengunjungi dan merawat lahan, menghindari api. Berbagai tanaman berhasil dibudidayakan seiring dengan pohon hutan dan spesies ikan. Terdapat sejumlah perbaikan keanekaragaman hayati dan peningkatan produktivitas berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan relasi tidak langsung peningkatan kualitas nutrisi mereka.”

Kapasitas mengelola lahan gambut berkelanjutan menjadi inti keberhasilan upaya restorasi dan penghidupan, kata Soozin Ryang, pejabat program edukasi dan pelatihan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Regional di Organisasi Kerjasama Hutan Asia. Ryang dan tim melakukan riset di lahan gambut di Kalimantan.

“Terlepas aspek teknis restorasi lahan gambut,” kata Ryang, “Kami mengadopsi ‘pembangunan terfokus-masyarakat’ melalui pendekatan bentang alam, membangun kapabilitas manusia, kesejahteraan dan kualitas kehidupan. Asumsi dasarnya, masyarakat harus diberdayakan dengan alat dan pengetahuan agar membangun komunitasnya merestorasi ekosistem gambut terdegradasi.”

Tim membangun lahan percontohan untuk menguji kemampuan adaptasi spesies pohon wanatani untuk restorasi lahan gambut untuk lokasi pembelajaran bagi manajemen lahan gambut berbasis masyarakat.

Kanal dibangun dalam membantu petani memahami pentingnya menjaga tinggi air, membangun pertanian dan perikanan yang cocok, pembenihan, dan produksi arang. Eksperimen dilakukan dalam mikroba tanah untuk dekomposisi limbah kayu dalam mengkaji potensi mengurangi kepakaran, dan secara cepat memperbaiki kondisi tanah dan mendukung produksi kompos.

Eunho Choi, periset Institut Ilmu Hutan Nasional, Republik Korea berkolaborasi dengan CIFOR-ICRAF dan para mitra, mengeksplorasi peluang untuk merestorasi lahan gambut terdegradasi untuk beragam kemanfaatan ekonomi dan lingkungan, khususnya bagi penduduk lokal. Institut ini telah menjadi mitra pendukung di Desa Buntoi Provinsi Kalimantan Tengah dan Desa Perigi Sumatra Selatan untuk menguji dan mendemonstrasikan beragam spesies pohon ramah gambut.

Karya Choi termasuk analisis nilai pasar dan survey preferensi penduduk. Spesies terpilih cocok untuk apikultur, biofuel, kosmetik dan obat-obatan, yang seluruhnya berpotensi meningkatkan pendapatan sambil menjaga jasa ekosistem, dan disambut para penduduk.

Kesimpulannya, Baral mencatat bahwa kemitraan bermakna menjadi kunci keberhasilan restorasi ekosistem gambut, menyatukan petani, pengambil keputusan, badan teknis pemerintahan, dan ilmuwan.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Himlal Baral di h.baral@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org