Berita

Perhatian pada Hutan di COP26, Langkah Besar untuk Dialog Iklim

Mengakhiri deforestasi pada 2030 termasuk dalam agenda
Bagikan
0
Sesi pembukaan Global Landcsapes Forum 2017, Bonn, Jerman. Foto oleh: Pilar Valbuena/GLF

Bacaan terkait

Dalam benak banyak pengamat dan pegiat lingkungan, hasil KTT iklim COP26 sudah bisa diduga – perundingan dirancang untuk gagal akibat ketidakmampuan perunding menyepakati cara untuk menyelamatkan bumi.

Komitmen pendanaan sebesar 100 miliar dolar AS per tahun dari negara kaya ke negara miskin pada COP15 2009 tidak terwujud pada 2020.

Dokumen yang bocor mengungkap bahwa Panel Perubahan Iklim PBB  berada dalam tekanan dari sebagian negara yang mengabaikan kebutuhan untuk mengurangi bahan bakar fosil, yang bertanggung jawab terhadap 70 persen emisi pemanas bumi.

Memperburuk skandal dan kekacauan itu, prinsip dasar proses iklim PBB – memperlambat dan menghentikan kenaikan suhu lebih dari 1,5 hingga 2 derajat Celsius di atas pra-industial – juga terancam.

Pengurangan emisi negara-negara melalui Komitmen Kontribusi Nasional di bawah Perjanjian Paris tidak akan mampu mencapai target 1,5 derajat. Bulan lalu, pemimpin PBB Antonio Guterres telah mengingatkan, kegagalan memotong emisi global berarti menempatkan dunia dalam jalur bencana dengan pemanasan 2,7 derajat Celsius.

Menurut ahli Pusat Penelitian Kehutanan dan Wanatani Internasional (CIFOR-ICRAF), membalikkan efek merusak dari penyebab emisi kedua terbesar – segitiga pertanian, deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan lain (AFOLU), yang menghasilkan 30 persen emisi – sembari mendukung upaya konservasi hutan dan keanekaragaman hayati akan memberi momentum signifikan dalam proses ini.

Sejumlah surat kabar melaporkan presidensi Inggris pada COP26 mengarah pada inisiatif ambisius pendanaan publik dan wasta untuk menghentikan deforestasi pada 2030, selain meminta produsen dan pedagang komoditas pertanian utama menyetop aktivitas penggundulan lahan.

“Kami berharap, keputusan tingkat tinggi terkait alam akan menekankan pada kebutuhan meningkatkan pendanaan publik untuk melindungi dan merestorasi ekosistem alam secara paralel – dan tidak sebagai pengganti bagi – dengan penghapusan bahan bakar fosil,” kata Stephen Leonard, pakar hukum dan kebijakan iklim, serta penasihat CIFOR-ICRAF. “Ini memang bukan solusi tunggal atas tantangan lingkungan yang dihadapi bumi, tetapi bisa sangat mendukung aksi mendesak yang diperlukan.”

Dialog seharusnya tidak hanya fokus pada transforamsi pertanian, serta konservasi dan restorasi hutan dan ekosistem, tetapi juga menekankan peran masyarakat adat dan lokal, sistem pangan regeneratif dan berkeadilan.

“Sejalan dengan Panduan Paris, transparansi aksi di sektor lahan harus berbasis hak, dibangun di atas mekanisme bagi manfaat berkeadilan dan mempertimbangkan inklusi sosial,” kata Leonard.

CIFOR-ICRAF yang berkecimpung dengan masyarakat adat dan hak asasi menunjukkan bahwa efikasi inklusi sosial dalam manajemen hutan berkelanjutan. Menjadi penting bahwa inisiatif dilakukan berbasis pemahaman atas hak dan keadilan di area intervensi, untuk mengindari membesarnya masalah  atau malah makin merusak.

Akan tetapi, diskusi emisi nol-bersih, dan ekspektasi pasar karbon global yang mencakup alam, memicu risiko bahwa perdagangan karbon secara offset menggunakan alam akan mendorong penundaan penghapusan energi fosil, tambah Leonard. “Kita perlu menghindari ini – dan insentif harus ada pada dekarbonisasi dan upaya melindungi ekosistem tersisa dunia, serta meningkatkan resotrasi yang juga mampu mendukung keanekaragaman hayati.”

Menetapkan target untuk mewujudkan emisi nol-bersih – salah satu tujuan tertulis COP26 – membutuhkan peralihan dari energi dan teknologi abad pertengahan yang tidak menghasilkan gas rumah kaca. Upaya yang dilakukan harus mencakup perlindungan ekosistem bumi tersisa, menghapus batu bara, beralih ke kendaraan listrik dan meningkatkan investasi energi terbarukan.

Mobilisasi pendanaan merupakan tujuan kunci lainnya pada COP26. Lembaga finansial ditekan untuk mengeluarkan triliunan dolar dari sektor swasta dan pemerintahan.

“Kita melihat sinyal kuat dari beberapa bagian sektor swasta untuk lebih terlibat dengan pemerintah dalam mendukung langkah maju masa depan lebih hijau,” kata Christopher Martius, direktur pelaksana CIFOR Jerman, yang bertahun sebelumnya memimpin tim Energi dan Pembangunan Rendah Karbon.

Inisiatif LEAF, sebuah koalisi yang diluncurkan Inggris, Norwegia dan AS dengan sejumlah perusahaan, termasuk Amazon, Nestlé, Airbnb dan Delta Airlines, mencoba mendukung perusahaan mengurangi emisi dalam rantai nilai mereka dan negara dengan penjualan kredit karbon berbasis hutan agar perusahaan mampu memenuhi nol-bersih juga tampil di Glasgow.

“Pesannya mulai sampai, mengonservasi apa yang ada akan lebih murah dan efisien dibanding membangun apa yang telah rusak – konservasi harus menjadi prioritas di atas restorasi,” kata Martius.

Melalui inisiatif yang terkait dengan tujuan nol-bersih, seperti Program Kemitraan Marrakesh, investor akan membuat komitmen untuk menghindari pendanaan aktivitas terkait deforestasi dan berinvestasi pada perlindungan dan restorasi.

CIFOR-ICRAF telah menjadi tuan rumah bersama pada hampir 30 acara COP, dengan rentang topik mulai dari hak lahan bagi perempuan, pendanaan REDD+ yang jujur dan berkeadilan, upaya adaptasi di benua Afrika, hingga kesehatan tanah, transformasi energi berkelanjutan, serta pembangkitan energi biomasssa dan restorasi lahan.

Forum Bentang Alam Global (GLF), yang secara bersama dikelola oleh CIFOR-ICRAF, Bank Dunia, dan Program Lingkugnan PBB, menyelenggarakan konferensi tiga hari yang fokus pada hutan, pangan dan pendanaan bersamaan dengan KTT COP 26 di Universitas Glasgow.

Disponsori oleh Jerman, Luksemburg, dan Program Sistem Pangan, Pemanfatan dan Restorasi Lahan (FOLUR) — yang dikoordinasikan oleh Bank Dunia dan didanai Fasilitas Lingkungan Global  — penyenggara acara berharap dapat menarik ribuan delegasi, baik daring maupun luring.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Christopher Martius di c.martius@cgiar.org atau Stephen Leonard di stephen.v.leonard@gmail.com.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org