Berita

Masyarakat Hutan dan Global Harus Bersatu dalam Menangani Risiko Perburuan Satwa Liar

Keamanan pangan, kesehatan manusia, spesies dan ekosistem dalam ancaman
Bagikan
0
Kalong besar (Pteropus vampyrus) di Kebun Binatang Singapura. Foto oleh: Jack Herman

Bacaan terkait

Krisis alam liar semakin buruk pada beberapa tahun terakhir. Kerusakan ekosistem dan makin tingginya ancaman kepunahan banyak spesies didorong oleh meningkatnya kebutuhan pangan dan obat tradisional, yang terutama disebabkan oleh perang dan konflik lokal, serta meluasnya perdagangan legal dan ilegal.

Situasi yang didefinisikan oleh para ilmuwan sebagai “meluasnya eksploitasi alam tak berkelanjutan”, terutama menjadi perhatian di pedesaan tropis. Keragaman hayati juga terancam seiring dengan menyusutnya habitat alami dan pertumbuhan penduduk. Interaksi manusia-satwa liar mengarah pada perpindahan patogen dan memicu wabah penyakit infeksi zoonotik seperti Sindom Pernafasan Akut, Ebola dan COVID-19.

Selama lebih dari 40 ribu tahun, masyarakat yang hidup dari berburu menjadi bagian aktif di wilayah tropis, namun seiring dengan makin efisiennya metode berburu pada abad terakhir ini, kemampuan menangkap sejumlah besar satwa juga meningkat.

Sebagai sebuah industri bernilai jutaan dolar, perdagangan satwa ilegal untuk pangan dan obat merupakan ancaman besar bagi ekosistem hutan, meskipun sudah ada Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Satwa dan Tumbuhan Liar (CITES), akibat kendala dalam penegakkan hukum, kata ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dalam sebuah makalah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Annual Review of Environment and Resources.

“Perburuan satwa liar telah mencapai tingkat yang tidak berkelanjutan, antara lain karena inisiatif konservasi umumnya dikembangkan untuk menjawab kepentingan elitis, bukan kepentingan masyarakat desa yang bergantung hutan,” kata Robert Nasi, Direktur Jenderal CIFOR dan Direktur Pelaksana Pusat Penelitian Wanatani Dunia (ICRAF), yang menjadi salah seorang penulis laporan.

Kunci dalam menjawab tantangan ini adalah mengembangkan strategi multi-disiplin, yang merangkul faktor politik, sosioekonomi dan pendekatan ilmiah, seraya mengajak lembaga pemerintah, non-pemerintah, nasional dan internasional duduk satu meja mendiskusikan langkah ke depan, demikian menurut penelitian ini.

“Perubahan hanya akan terjadi setelah kampanye edukasi publik dan penguatan lembaga konservasi, dan kita perlu lebih dari itu,” kata Nasi. “Kita juga perlu mengembangkan inisiatif untuk mewujudkan ketahanan pangan dan menjamin bahwa peraturan pengelolaan alam liar disempurnakan dan ditegakkan.”

Sebagai bagian dari survey, para ilmuwan menginvestigasi perburuan produk alam liar untuk pangan dan obat di Afrika tropis, Amerika dan Asia. Mereka menelaah kompleksitas pemicu perburuan satwa untuk daging dan obat tradisional, konsekuensinya bagi keragaman hayati, lingkungan dan penduduk.

Perburuan berlebihan daging satwa liar dapat mengancam keamanan pangan jika spesies tertentu diburu secara berlebihan. Dampaknya besar, karena sedikitnya 300 juta masyarakat miskin dunia bergantung pada hutan untuk penghidupannya dan 90 persen penduduk termiskin di dunia menggantungkan diri pada hutan. Dalam sebuah perbandingan dua wilayah tropis-lembap terbesar – basin Amazon dan Kongo – para ilmuwan mencatat bahwa lebih dari 5 juta ton daging satwa menyuplai jutaan penduduk lokal di hutan neotropis dan Afrotropis tiap tahun.

“Tampaknya banyak mamalia hutan akan cepat punah jika keamanan nutrisi di wilayah tersebut tidak segera diatasi,” kata Nasi. “Kecuali ada perubahan drastis dalam membuat eksploitasi alam – termasuk untuk produk ‘mewah’ non-esensial – menjadi lebih berkelanjutan, wilayah tropis pasti kehilangan sebagian besar spesies ikonik dan spesies lain di tahun-tahun ke depan.”

Beragam aktivitas terkait perburuan, yang mengancam keseimbangan ekosistem juga memperparah ketidakamanan pangan, tulis laporan.

“Kehilangan beberapa spesies satwa akibat perburuan berlebihan bisa menghambat potensi regenerasi hutan,” kata Nasi. “Kehilangan ini menyebabkan perubahan berjangka panjang pada populasi, distribusi spasial, pertumbuhan dan dinamika pepohonan, sehingga menyebabkan penurunan keragaman hayati seiring berjalannya waktu. Misalnya, kelelawar besar, yang menyebar biji buah melalui tinjanya, dalam jangka panjang perlu dilindungi dari perburuan di tropis Asia Timur.”

Kelelawar besar di Borneo sempat memainkan peran kunci dalam polinasi di beberapa negara bagian Malaysia tidak lagi memainkan peran itu akibat perburuan tidak berkelanjutan. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai masa depan spesies tanaman dan pertumbuhannya. Spesies kelelawar ini juga berisiko dan bisa mengancam kesehatan masyarakat karena berpotensi menyebarkan virus akibat kontak yang lebih dekat dan lebih sering dengan manusia setelah habitatnya terdegradasi.

Di Vietnam, spesies badak dinyatakan punah pada 2010 akibat perburuan untuk permintaan pasar global dan lemahnya penegakkan hukum. Di Afrika, terutama di bioma savana, dampak perdagangan satwa liar bervariasi mulai dari efek perbatasan di sekitar kawasan lindung hingga derajat tinggi penurunan spesies, yang seringkali disebabkan lemahnya penegakkan hukum anti-perburuan.

“Masifnya pembangunan infrastruktur, terutama jalan, mendorong perdagangan produk alam liar ke pasar kota yang jaraknya jauh,” kata Nasi. “Pembangunan membuat kawasan hutan lebih terakses, membuka peluang bagi wilayah desa memperdagangkan produk satwa dengan pasar kota yang jauh.”

Ekspansi jalan mengarah pada meningkatnya aktivitas berburu, mempertinggi risiko bagi  satwa liar tropis di Afrika dan Amazon. Penelitian menunjukkan bahwa di Cagar Biosfer Yasuni di Ekuador, jalan memicu berlipat gandanya area ekstraksi, sementara di Amazonia, jalan di kawasan lindung menurunkan populasi satwa liar, dan mengancam penghidupan masyarakat adat.

Masyarakat memanfaatkan hutan dan menangkap satwa untuk kebutuhan konsumsi dan nutrisi. Namun tekanan pada populasi burung dan satwa makin tinggi akibat makin banyak orang membunuh lebih dari yang diperlukan, dan menjualnya. Dalam survei di 20 negara tropis dan subtropis di Asia, Amerika Latin dan Afrika sub-sahara, para ilmuwan mencatat bahwa dalam 39 persen perburuan untuk keluarga, 87 persen mengkonsumsi satwa buruan, dan hanya mendapat rata-rata dua persen dari penghasilan daging satwa.

“Urbaninasi mendorong meningkatnya permintaan satwa liar di luar wilayah desa, memberikan tekanan besar pada keragaman hayati dan kesejahteraan manusia, memperburuk potensi risiko kesehatan penyakit zoonotik,” kata Nasi menambahkan bahwa 300 spesies mamalia daratan terancam punah akibat meningkatnya perburuan satwa untuk memasok kota.

Kajian juga mencatat kurangnya data terpercaya mengenai pemanfaatan daging satwa. Para ilmuwan menyarankan pemanfaatan sistem pemantauan jarak jauh untuk membantu agregasi informasi dan memberi gambaran lebih baik terkait lokasi dan cara perburuan. Pangan satwa perlu dimasukkan dalam statistik pemerintah untuk menjamin bahwa aktivitas tersebut terpantau, agar strategi dalam mengembangkan praktik perburuan berkelanjutan dapat dilakukan.

“Hutan kosong” di wilayah tropis – hutan yang sebagian besar satwa besarnya dibunuh atau diekstraksi – menandakan perlunya peningkatan pengelolaan dan penegakkan hukum jaringan kawasan lindung tropis. Khususnya di kawasan konservasi, para ilmuwan merekomendasikan desain bentang alam yang relevan dengan ragam zonasi, termasuk perburuan, pelarangan dan pengamanan.

“Memperluas zona pemulihan bisa membantu mengembalikan populasi satwa di area perburuan berlebihan terjadi,” kata Nasi. “Hal ini secara efektif diimplementasikan di Cagar Alam Thung Yai Thailand. Laporan menunjukan pulihnya populasi ungulata sebagai basis makanan harimau.”

Manajemen partisipatoris lahan yang melibatkan masyarakat adat dan lokal perlu ditingkatkan dalam konservasi satwa. Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, perubahan selera dan kebutuhan dapat mengarah pada pergeseran jenis perburuan, dan menciptakan dinamika kurang berkelanjutan, sehingga opsi ini tidak lantas menjadi solusi tunggal, kata Nasi.

Permintaan daging satwa liar dapat dikurangi dengan mengembangkan sumber alternatif protein. Hal ini bisa berarti membangun peternakan spesies satwa liar atau mendorong konsumsi satwa non-konvensional lain, seperti pengerat, atau mengurangi tekanan pada spesies berisiko.

Satwa liar juga dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional namun seringkali tidak berkelanjutan. Pemanfaatan primata dalam obat rakyat dikaitkan dengan ritual dan obat.

Di Afrika, banyak budaya memanfaatkan bagian satwa untuk praktik tradisional dan religius. Di wilayah semi arid, timur laut Brasil, satwa digunakan sebagai jimat dalam ritual dan seremoni. Di Asia, badak, harimau, gajah, trenggiling dan kura-kura menjadi satwa yang diburu untuk obat. Di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, jumlah lutung menurun drastis dalam tujuh tahun akibat perburuan berlebihan untuk batu bezoarnya.

“Sementara reduksi permintaan tampaknya solusi paling sulit terkait tradisi dan status sosial di banyak produk obat tradisional, sistem sertifikasi dan alternatif sintetis merupakan solusi potensial,” kata Nasi.

Solusi lain, termasuk menghentikan perdagangan ilegal, meningkatkan kesadaran publik serta advoksi pemanfaatan dan konsumsi satwa liar secara berkelanjutan.

Permintaan kota menjadi kontributor signifikan lain dalam panen tak berkelanjutan dan penurunan satwa di hutan. Di beberapa kawasan, konsumsi satwa liar dipandang sebagai simbol status.

Meskipun demikian, daya tarik daging satwa bisa tidak terlalu besar ketika dunia berjuang melawan pandemi COVID-19, yang secara luas dipercaya bersumber dari kelelawar dan melewati satwa lain, diduga trenggiling atau anjing, sebelum masuk ke manusia melalui pasar basah di Wuhan, China. Pandemi HIV/AIDS diduga berasal dari perburuan satwa liar di Afrika, sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Sebuah penelitian setelah epidemi SARS 2003 mengungkap bahwa konsumsi satwa liar pasca-epidemi menurun setelah wabah penyakit terkait. Ketika satwa dan daging ilegal dijual di pasar legal yang lemah dalam penegakkan aturan karantina dan pengawasan, konvergensi satwa liar dan hewan peliharaan memungkinkan pertukaran patogen di antara beragam spesies, dan melompat dari inang satwa liar pada manusia.

Jumlah besar satwa liar, taksa berisiko tinggi dalam zoonosis dan lemahnya keamanan biologi di pasar meningkatkan potensi keberadaan patogen dan transmisinya,” kata Nasi.

“Tidak ada pemulihan cepat,” kata Nasi. “Dalam menghadapi krisis multi-dimensi, kita harus bekerja pada saling pengaruh peningkatan penghidupan desa dan konservasi hutan untuk mengembangkan bagaimana target penghapusan kemiskinan dan konservasi hutan dapat secara optimal diselaraskan.”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Robert Nasi di r.nasi@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org