Bagikan
0

Bacaan terkait

Artikel ini merupakan bagian kedua dari tujuh artikel yang mengulas publikasi terbaru International Forestry Review edisi khusus untuk riset CIFOR.

Organisasi nirlaba (NGO), pemerintah, dan donor memandang forum multi-pihak (MSF) sebagai sebuah solusi transformatif dalam menghadapi tantangan degradasi lahan dan hutan. Namun, penyelenggara forum perlu bekerja lebih dari sekadar mengumpulkan para pihak untuk membahas tantangan bersama. Demikian menurut artikel baru yang dipublikasikan di International Forestry Review. Aksi lebih diperlukan untuk mendukung perubahan transformasional.

Para peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) melakukan wawancara terhadap 13 penyelenggara MSF di Brasil, Ethiopia, Indonesia dan Peru. MSF tersebut dibentuk untuk mengatasi pemanfaatan lahan dan sumber daya yang tidak berkelanjutan di bentang alam atau yurisdiksi subnasional.

Wawancara terfokus pada persepsi penyelenggara mengenai bagaimana forum dapat mencapai tujuan, bagaimana relasi kuasa dan faktor kontekstual lain yang bisa berdampak pada jalan perubahan yang diajukan, serta peran yang dapat dimainkan MSF dalam jalan tersebut.

Temuan menunjukkan sebagian besar penyelenggara meyakini bahwa dengan melibatkan pihak rentan dalam MSF – seperti perempuan, masyarakat adat dan masyarakat lokal – mereka mampu mengatasi ketidakadilan historis dalam  keterbatasan akses partisipasi dan pengambilan keputusan.

Meskipun, menurut laporan, umumnya mereka gagal untuk menggunakan pendekatan spesifik dalam mengatasi ketidaksetaraan. Mereka juga gagal menyusun strategi yang jelas untuk terlibat dalam pembangunan lokal yang tidak berkelanjutan dan prioritas politik.

“Mewujudkan perubahan transformasional melalui proses partisipatoris bukan hal yang mudah ,” kata Juan Pablo Sarmiento Barletti, peneliti CIFOR dan penulis utama studi ini. “Penyelenggara MSF harus bekerja keras menjamin terlaksananya partisipasi yang efektif dari para aktor yang biasanya kurang terwakili.”

Ketidaksetaraan kuasa

Menurut peneliti, jika kelompok marjinal tidak didengar, keputusan cenderung tidak merefleksikan prioritas mereka dan memberikan hasil yang bukan menjadi kepentingan terbaik mereka, namun tervalidasi oleh proses “partisipasi”.

“Terdapat ketidaksetaraan dan konteks berbeda yang menghambat sebagian orang untuk berpartisipasi dalam dialog atau kolaborasi untuk mengubah pemanfaatan lahan  dalam mendukung jalan keluar dari krisis iklim,” kata Sarmiento Barletti. “Penyelenggara forum harus benar-benar menyadari berbagai tantangan partisipasi tersebut, merancang strategi untuk mengatasinya dan terbuka dalam melakukan refleksi dan menyesuaikan pendekatan mereka dalam proses MSF.”

Lebih jauh, para peneliti tidak melihat adanya bukti MSF yang mendorong transformasi nyata dalam pemanfaatan lahan dan sumber daya di kasus-kasus yang mereka telaah. “Banyak MSF yang kami teliti lebih berfungsi sebagai platform pertukaran informasi atau peningkatan kapasitas dibanding platform untuk mewujudkan tujuan bersama,” kata Nicole Heise Vigil, peneliti CIFOR dan salah seorang penulis. Sebagian MSF mengalami kekurangan pendanaan dan sebagian besar upaya yang dilakukan tidak menunjukan hasil yang berdampak.

“Menjangkau lebih banyak keterlibatan pemangku kepentingan adalah ide bagus, tetapi kebanyakan MSF yang kami teliti kurang bergerak untuk mengubah gambaran yang besar,” kata Sarmiento Barletti. “Sebagian MSF—disadari atau tidak—mengarah pada skenario pemanfaatan lahan yang didominasi oleh agenda aktor lebih kuat seperti sektor swasta dan pemerintah nasional dan sub-nasional. Sebagian besar penyelenggara tidak yakin, MSF-nya dapat mengubah bagaimana lahan dan sumber daya dikelola dalam bentang alam yang ditargetkan.”

   Forum Multipihak, Peru. Foto oleh: Pavel Martiarena/CIFOR

Pertemuan atau metode

Dari hasil wawancara, para peneliti merangkum dua cara berbeda meski beririsan dalam memahami MSF—sebagai sebuah pertemuan dan sebagai sebuah metode. Dengan memahami dua bentuk ini, kapan dan kenapa mereka terbentuk, dapat menjelaskan mengapa MSF masih dipandang sebagai arena transformasional dalam segala keterbatasannya.

Ketika masyarakat memahami MSF sebagai sebuah pertemuan, mereka percaya MSF dapat menyeimbangkan ketidaksetaraan antar-pihak dengan mengumpulkan mereka secara rutin. Pada titik inilah para peserta berkolaborasi secara setara menuju tujuan bersama.

Tetapi pertemuan tidak selalu mengarah pada hasil terukur. “Masa hidupnya singkat,” kata Sarmiento Barletti. “Ini gagasan idealis ‘jika kita berbicara lebih sering dengan satu sama lain, banyak hal bisa diselesaikan.’”

Akan tetapi, sebagian besar penyelenggara juga memandang MSF sebagai sebuah metode. Pandangan ini mengarah pada forum yang menyatukan para aktor untuk implementasi – dan terkadang melakukan ko-desain implementasi – gagasan para penyelenggaranya.

Untuk menghindari konflik, MSF dirancang – atau diubah – untuk mengatasi dampak pemanfaatan lahan dan sumber daya, bukan mengatasi isu struktural penyebab masalahnya – mereka cenderung mengatasi isu sebagai masalah ‘teknis’, dengan meningkatkan kesadaran dan kapasitas.

“MSF sebagai pertemuan dan metode bukan hal yang kontradiktif,” kata Sarmiento Barletti. “Dua hal tersebut adalah cara untuk memahami masalah yang sama, namun dengan membedakannya dapat membantu kita untuk memahami perbedaan pola pikir dalam perencanaan dan desain MSF dan bagaimana membuatnya bekerja lebih baik.”

Alat perubahan

Para penulis merekomendasikan dua strategi dalam mendorong MSF mendukung perubahan transformasional. Pertama, penyelenggara harus merancang prosedur untuk mengatasi ketidaksetaraan kekuasaan antar-peserta. Misalnya dengan lebih memanfaatkan prosedur berkesetaraan, bahasa non-teknis dalam rapat, mengganti biaya yang dikeluarkan oleh peserta, atau menawarkan pelatihan bagi kelompok kurang terwakili untuk menjaga efektivitas partisipasi mereka. “Mendukung pemberdayaan dan peningkatan kapasitas berorganisasi dari kelompok kurang berdaya seharusnya menjadi bagian dari setiap strategi dalam mengatasi ketidaksetaraan,” kata salah seorang penulis Anne Larson, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Equal opportunities, Gender, Justice and Tenure di CIFOR.

Sebagai bagian proyek riset yang sama, peneliti CIFOR telah menyusun “Bagaimana kemajuan kita?”—sebuah perangkat yang dirancang bersama peserta dan penyelenggara MSF dalam merefleksikan proses, kemajuan dan prioritas MSF-nya. Perangkat adaptif dan reflektif ini, juga tersedia dalam bahasa Spanyol dan Indonesia, memungkinkan MSF mengenali dan merefleksikan tantangan dalam mendorang pembelajaran sosial dalam merancang strategi untuk mencapai tujuan-tujuannya secara berkeadilan dan efektif.

Peneliti CIFOR juga menyusun “Melakukan dengan benar, panduan untuk meningkatkan inklusivitas dalam forum multi-pihak,” untuk menjawab isu ketidak keterwakilan dengan menyediakan perangkat yang dirancang untuk mengoperasionalkan inklusi dan menjawab tantangan dalam mencapai inklusi berkeadilan dalam MSF. Panduan terfokus pada perempuan dan masyarakat adat dan memberikan informasi dalam mendukung kelompok kurang terwakili lainnya.

Kedua, penyelenggara MSF perlu menggabungkan strategi pendanaan yang efektif dalam prosesnya. “Perubahan nyata perlu waktu, dan harus menjadi bagian strategi perubahan jangka panjang,” kata Larson. “Pendanaan adalah bagian dari proses tersebut. Kita tidak bisa mengundang orang tapi mempersulit kehadirannya,” katanya, mengutip contoh di Acre, Brasil, ketika forum mendatangi masyarakat adat, bukannya menuntut mereka untuk selalu datang ke kota.

Sarmiento Barletti menekankan bahwa MSF harus bekerja lebih dari sekadar mengumpulkan orang jika ingin mewujudkan potensi transformasionalnya. Mereka perlu menyusun strategi secara jelas untuk mengatasi ketidaksetaran kekuasaan antar-peserta dalam menghasilkan solusi yang mendukung pemanfaatan lahan dan sumber daya berkelanjutan.

Perangkat yang dikembangkan para peneliti menawarkan harapan bagi hasil yang lebih baik. Perangkat ini mendukung komunikasi, pemahaman bersama dan pembelajaran adaptif – khususnya sebagai bagian dari strategi perubahan yang lebih baik.

Kita belajar untuk berpikir lebih strategis mengenai perubahan, khususnya dalam mengubah ketidaksetaraan – Anne Larson

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Juan Pablo Sarmiento Barletti di J.Sarmiento@cgiar.org atau Anne Larson di a.larson@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Bacaan terkait Berita-berita