Jaya Wahono
Bagikan
0

Bacaan terkait

Indonesia - Sebagai penduduk kota, saya diberkati banyak keistimewaan. Saya memiliki akses 24/7 ke informasi terkini karena internet dan pasokan listrik yang konstan. Namun, untuk sebagian besar penduduk Indonesia, hal ini lain cerita. Melihat foto satelit malam hari dari seluruh kepulauan Indonesia, sama sekali tidak ada terang lampu di hampir seluruh Indonesia Timur, seolah-olah pulau tidak berpenghuni. Tapi kita tahu ada penduduk yang tinggal di sana.

Jadi, bagaimana kita dapat mengharapkan ‘ yang belum mapan’ membantu kemajuan masyarakat tanpa ada suatu perangkat dasar seperti listrik? Masalah ini meluas ke masalah ketimpangan sistematis lain-lain. Perangkap miskin – energi ketika masyarakat kurang mampu mustahil memiliki akses ke pemerintahan, mereka cenderung tetap berada dalam ketidakmampuan. Di Indonesia, 63 persen masyarakat di daerah pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan, di mana akses listrik sangat minim.

Dalam mencari pasokan energi terbarukan yang efektif dan berkelanjutan, bambu telah dikenal sebagai sumber biomassa karena mampu menghasilkan produksi tinggi di negara bagian Mizoram, India. Hal ini menjadikan India sebagai produsen bambu terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, dan Indonesia di tempat ketiga – namun bambu belum mendapatkan atensi penuh sebagai alternatif bahan bakar bensin (bioenergi) hijau.

Terutama misalnya – perhatian terhadap pertanian – kuantitas produksi tinggi merupakan tujuan utama, dengan kunci keberhasilan yang tidak terpisahkan terkait manajemen. Saat itulah potensi bambu mengungguli tanaman lain mulai muncul. Pada awalnya ada kepercayaan umum bahwa penebangan tegakan bambu tidak boleh merusak daripada kebaikan, hal itu kini telah dibantah oleh rangkaian test-test yang menunjukkan keberhasilan pertumbuhan kembali sebenarnya didorong oleh penebangan. Untuk para petani bambu, ini berarti peningkatan hasil dari tahun ke tahun.

Bambu tidak mengakibatkan kerugian serupa tipikal bahan energi biomassa. Kayu – salah satu sumber energi biomassa terbesar – jarang sekali dapat menyamai antara upaya penanaman kembali dengan laju penebangan. Tak pelak lagi hal ini membutuhkan lebih banyak lahan untuk ditanami, dan seringkali mengarah pada deforestasi. Namun beberapa spesies bambu dapat tumbuh dengan cepat, tumbuh lebih dari satu meter sehari.

Orang-orang pedesaan sudah berpengalaman menanam bambu. Bambu adalah sumber bahan untuk produk yang dijual di pasar atau digunakan di rumah – koleksi makanan, obat-obatan, tekstil dan konstruksi serbaguna – dan ditanam di sepanjang tepi sungai untuk mencegah banjir, sepanjang lereng curam untuk mencegah erosi, dan di sepanjang jalan menuju memberikan keteduhan. Meskipun manfaatnya berlimpah, bambu minimum pemeliharaan, hanya membutuhkan sedikit air, pupuk, dan pemeliharaan.

Bambu juga bisa menjadi alat untuk penyimpanan karbon skala besar, dengan hutan bambu yang dikelola dengan baik mampu menyerap karbon pada tingkat yang lebih tinggi daripada banyak spesies pohon.

Terlebih lagi, bambu tumbuh secara asli di beberapa komunitas pedesaan di Indonesia.

Oleh karena itu, menggunakan bambu sebagai sumber energi di Indonesia dapat memenuhi dua tujuan: memperbanyak penggunaan energi terbarukan, membatasi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar diesel impor dan berkontribusi melawan pemanasan global. Yang kedua yaitu memberikan alternatif pendapatan tambahan melalui penjualan bambu sebagai bahan baku biomassa sehingga dapat mengurangi kesenjangan pendapatan.

Dengan dampak pemanasan planet terhadap bumi, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tidak setara, Indonesia sekarang berada di persimpangan.

Kesulitan yang dialami oleh masyarakat pedesaan Indonesia, mulai dari kekurangan gizi hingga kurangnya pendidikan dan perawatan kesehatan, secara harfiah ribuan kilometer jauh dari Jakarta, tempat saya tinggal. Perubahan iklim akan memperburuk kesulitan-kesulitan ini, membanjiri komunitas pesisir melalui kenaikan permukaan laut dan meningkatkan penyebaran kebakaran hutan ke lahan gambut dan hutan tropis Indonesia.

Sebagai negara berkembang, prinsip kelima Pancasila tidak boleh dilupakan: keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. Memajukan berbagai kota di Indonesia, kita tidak dapat lagi membawa ke tempat yang kita tuju, itulah sebabnya kita perlu memberi kekuatan dan memberdayakan seluruh kepulauan. Terobosan teknologi telah membawa mimpi dekat dalam jangkauan.

Indonesia dapat berubah, dan harus. Bahkan, pemerintah sudah mengincar akses universal ke listrik di seluruh kepulauan, meningkatkan konsumsi listrik hingga 300 persen, dengan harapan menghasilkan listrik ini menggunakan sebagian besar sumber daya terbarukan. Sebuah langkah ke arah yang benar – tetapi kita membutuhkan lebih dari sekedar langkah kecil.

Peluang yang datang melalui transisi energi terbarukan tidak dapat diabaikan – untuk memerangi perubahan iklim, untuk membawa listrik ke masyarakat terpencil, untuk menyediakan aliran pendapatan melalui ‘pekerjaan hijau’ dan ‘pertumbuhan hijau.’ Indonesia harus mengambil langkah maju menuju masa depan yang lebih besar. Kita perlu mengamankan masa depan bagi anak-anak kita, itu mungkin satu-satunya kesempatan kita untuk memastikan kelangsungan hidup generasi masa depan.

Jaya Wahono adalah pendiri dan CEO Clean Power Indonesia, pembangkit listrik tenaga bambu pertama di Indonesia. Pembangkit listrik ini terletak di pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Bacaan terkait Berita-berita