Liputan Acara

Biofuel ramah lingkungan tawarkan manfaat finansial bagi warga lokal

Riset terbaru menelaah produksi minyak nabati untuk mengetahui potensi sistem tanaman, cara kelola dan kesesuaian teknologi
Bagikan
0
Peat Area in Perigi village, Pangkalan Lampam District, Ogan Komering Ilir Regency. Rifky/CIFOR

Bacaan terkait

Meski memiliki potensi besar sebagai sumber energi berkelanjutan, bioenergi belum bisa memenuhi kebutuhan energi global. Produksi bahan bakar nabati sesuai dengan skala yang diperlukan untuk pemenuhan energi dunia tentu memerlukan lahan luas bagi perkebunan produksi komoditas, selain juga berpotensi mengancam ketahanan pangan.

Bioenergi terbentuk dari sumber terbarukan, dari tanaman dan sisa tanaman. Pendapat para peneliti, melalui pengelolaan bentang alam terencana seperti memanfaatkan lahan yang terdegradasi, produksi bioenergi mungkin dapat menawarkan keuntungan moneter bagi investor dan masyarakat lokal – selama potensi sesuai dengan penilaian dan perbaikan.

Dari hasil penelusuran riset terbaru tim peneliti Indonesia dan Korea Selatan diketahui nilai positif menanam pohon penghasil bioenergi di lahan terdegradasi dan lahan terlantar yang kurang sesuai untuk tumbuhan pangan. Riset juga bila dikelola terencana dan hati-hati, masyarakat lokal mendapatkan keuntungan ekosistem bagi masyarakat lokal dari produksi bahan bakar nabati terbarukan

“Bioenergi merupakan energi terbarukan yang paling berlimpah dan serbaguna di dunia,” kata Himlal Baral, peneliti senior perubahan iklim, energi dan pengembangan karbon rendah dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Himlal Baral dan beberapa ahli internasional berdiskusi tentang riset bioenergi terbaru di forum diskusi “Integrating bioenergy and landscape restoration in the tropics,” di pertemuan tahunan Global Landscape Forum(GLF) 2018 di Bonn, Jerman. Topik yang dibahas oleh pembicara dari institusi penelitian, pemerintahan dan sektor publik antara lain pilihan spesies, penggunaan sumberdaya dan inisiatif wirausaha.

“Bioenergi adalah kunci mendukung program PBB Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam konteks perubahan iklim dan ketersediaan energi,” ujar Baral, menambahkan fokus utama adalah SDG poin 2 (Zero Hunger), SDG poin 13 (Climate Action) dan SDG poin 15 (Life on Land) terutama perlindungan dan perbaikan ekosistem sesuai tujuan utama riset yaitu pengeringan ekosistem gambut di Indonesia.

Potensi Lahan Gambut

Saat ini biomassa organik banyak digunakan sebagai bahan bakar tradisional pemanas atau memasak – jarang sekali digunakan sebagai pembangkit listrik atau pemanas sistem energi tertutup, kata Nils Borchard, manajer riset produksi tumbuhan di lembaga riset sumberdaya Finlandia (Natural Resources Institute Finland) dan juga mantan peneliti CIFOR.

Studi yang mereka lakukan menelusuri detil produksi minyak nabati untuk mengetahui berbagai potensi sistem tanaman dan cara kelola termasuk mempelajari kesesuaian teknologi untuk kebutuhan energi.

Investigasi riset Himlal Baral di Indonesia melibatkan percobaan penanaman pohon “Nyamplung” atau “Tamanu” (Calophyllum inophyllum L.). Beberapa peneliti berargumen bahwa pohon nyamplung seharusnya ditanam hanya di lahan gambut yang terdegradasi dan terlantar yang tidak sesuai untuk lahan pertanian. Lahan gambut yang utuh tidak seharusnya dikeringkan karena akan melepas karbon dalam jumlah besar.

Borchard juga melakukan riset potensi diversifikasi perkebunan kelapa sawit dengan memperkenalkan tanaman produksi penghasil minyak biomassa atau bio etanol. Meski ada kemajuan, banyak pertanyaan tentang agroforestri dan biofuel memerlukan penelitian lebih lanjut, katanya.

... erosi tanah sangat ekstrem karena penggundulan hutan akibatnya sering terjadi banjir dan kekeringan

Hyung Tae Choi

“Sangat sulit menemukan informasi sahih dan kuat tentang berapa jumlah pohon per hektar dan apakah fertilisasi atau pengeringan yang dibutuhkan” kata Bochhard.

Riset lainnya berusaha menemukan potensi tanaman bioenergi dari lahan gambut kering ke lahan yang telah dibasahi kembali. Harapannya para ilmuwan dapat lebih memahami jenis spesies tanaman terbaik untuk rehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi.

Guna menghasilkan rantai nilai skala rumah tangga bagi masyarakat lokal, para ilmuwan meneliti spesies-spesies pohon lokal dan menentukan tumbuhan terbaik di tanam lahan terdegradasi seraya menawarkan sumber biomassa, atau benih minyak dan buah penghasil biodiesel.

Kontrol Air

Hyung Tae Choi, peneliti senior dari departemen konservasi hutan National Institute of Forest Science (NIFOS) Korea, meninjau hubungan antara penanaman bioenergi skala besar dan konservasi air berdasarkan hasil riset di Korea.

Selama 50 tahun terakhir, Korea telah menerapkan inisiatif reboisasi dan restorasi di kawasan luas. Dengan memantau proyek pengendalian erosi air besar yang dimulai pada tahun 1974, para ilmuwan telah menyaksikan fluktuasi bentang alam DAS yang kering dan terdegradasi yang sedang direstorasi.

“Di masa lalu, erosi tanah sangat ekstrem akibat deforestasi, dan sering terjadi banjir dan kekeringan,” kata Choi. “Aliran air selalu kering kecuali saat hari hujan, tetapi karena hutan dipulihkan, siklus air banyak berubah dan sekarang kami memiliki aliran yang stabil.”

Ilmu pengetahuan tidak mendukung solusi universal 'satu ukuran untuk semua' untuk mengelola air hutan

Hyung Tae Choi

Selama periode restorasi DAS, para ilmuwan melakukan eksperimen efek konservasi air dari pengelolaan hutan. Saat itu mereka memperhatikan volume air lebih banyak daripada di tempat lain. Ketika kerapatan pohon-pohon padat, pasokan air berkurang, tetapi ketika hutan menipis, pasokan air meningkat secara signifikan karena vegetasi bawah dan keanekaragaman hayati meningkat.

“Perkebunan bioenergi di daerah tropis pasti akan berkontribusi pada pemulihan hutan dan pemecahan masalah energi, tetapi harus direncanakan dengan hati-hati,” kata Choi. “Sains tidak mendukung solusi universal ‘satu ukuran cocok untuk semua ’ dalam mengelola air hutan. Mengelola hutan untuk air memerlukan jenis hutan atau pohon yang tepat di tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat dengan praktik yang benar. ”

 Gerakan Desa

Penggundulan hutan di Korea Selatan adalah masalah besar karena masyarakat menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi rumah tangga dan suhu dapat turun sangat rendah, kata Soo Min Lee, ilmuwan senior peneliti bioenergi NIFOS (Korea Forest Service)

Pada tahun 1950-an, lebih dari 53% pegunungan digunduli – 64% daratan Korea Selatan terdiri dari gunung-gunung – artinya sepertiga daratan tidak memiliki tutupan pohon.

... perlu menetapkan target, sumber biofuel bioenergi spesifik jelas dan dukungan dari masyarakat setempat

Soo Min Lee

Semenjak dilakukan reboisasi, Korea Selatan memiliki peningkatan rasio lahan hutan lebih tinggi dari negara-negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), ujar Lee.

Pada tahun 1970-an, pemerintah Korea Selatan juga memulai Gerakan Desa Baru yang transformatif, dan mengarah pada pembangunan infrastruktur, termasuk jalan-jalan baru untuk pertanian, sumur, peningkatan sanitasi dan pemasangan kompor. Sumber energi primer diubah dari kayu menjadi batubara.

Berdasarkan contoh ini, kita perlu menetapkan target yang sangat jelas, sumber biofuel bioenergi spesifik yang sangat jelas, dan kita membutuhkan dukungan dari masyarakat setempat, kata Lee.

Meskipun tidak ada jawaban tunggal, menggunakan nyamplung di lahan gambut memiliki potensi karena kegunaannya yang beragam, tambahnya. Bunga nyamplung menyediakan madu, minyak dapat diekstraksi dari biji. Ini berguna untuk obat-obatan dan produk perawatan kulit serta biodiesel. Kayu adalah kayu berharga untuk ukiran, pembuatan lemari dan pembuatan kapal.

Aksi Pencetus

Perusahaan tenaga listrik swasta Clean Power Indonesia memperkenalkan restorasi lahan dan inisiasi pemasangan listrik di pedalaman pulau Mentawai, di barat pulau sumatra.

Masih banyak penduduk tinggal di pedalaman – sekitar 40 persen dari 250 juta populasi – tidak memiliki akses listrik karena masalah dalam penyimpanan energi dan distribusi ke berbagai pulau. Masalah modernisasi tergantung dengan penciptaan sumber energi terbarukan lokal, yang kemungkinan besar akan berasal dari biomassa.

Bayangkan kehidupan yang akan diubah: sektor pendidikan; perawatan kesehatan; industri ..."

Jaya Wahono

“Listrik sudah menjadi kebutuhan utama: untuk pelayanan kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, membantu proses produk hasil laut dan mendorong munculnya industri baru,” kata Jaya Wahono, kepala eksekutif Clean Power Indonesia.

“Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Sangat sulit mengirim sumber energi seperti bahan bakar diesel, gas alam atau bahkan batu bara ke pulau terpencil. Kita harus mencari cara lain menghasilkan listrik yang dapat diandalkan, adil dan terjangkau bagi mereka,” katanya.

Proyek ini dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa tidak ada satu orang atau perusahaan di Indonesia yang dapat menghasilkan listrik yang andal dan merata, namun dengan bantuan dan partisipasi dari seluruh. Setiap penduduk desa menerima alokasi tanah untuk menanam bambu, spesies asli yang tumbuh di seluruh Indonesia, sumber biomassa yang siap, kata Wahono.

Penduduk lokal mendapat penghasilan dari menjual bambu –  tanaman rumput-rumputan yang dapat tumbuh kembali setelah dipotong – ke pembangkit listrik lokal, mengubahnya menjadi serpihan bambu yang dikonversi menjadi listrik dan dijual ke perusahaan listrik milik negara.

“Bayangkan kehidupan yang akan diubah: sektor Pendidikan, kesehatan, industri yang dapat datang ke daerah ini, ”kata Wahono. “Ini adalah model yang ingin kami sebarluas dan terapkan.”

Kami mendorong tumpangsari karena masyarakat perlu menanam bambu dan tanaman pangan, tambahnya. Model ini menyediakan sarana untuk memulihkan tanah, menghasilkan listrik secara lokal, dan menyediakan bahan bakar untuk memasak.

Indonesia bergantung pada tiga sumber utama energi bahan bakar fosil yaitu minyak, gas, dan batubara – hanya sekitar 6% berasal dari sumber energi baru dan terbarukan (NRE), kata Nur Hygiawati Rahayu, divisi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Air, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Pada 2023, Indonesia berencana meningkatkan persentase NRE menjadi 23%, termasuk bioenergi, katanya. Penggunaan bioenergi saat ini sekitar 1,2%, tetapi pada 2025 diproyeksikan menjadi 8,4%.

Dalam rencana pembangunan jangka menengah tahun 2015-2019, Indonesia telah mengalokasikan sekitar 100.000 hektar untuk bioenergi dari lahan berbasis hutan.

Dengan menggunakan nyamplung dan tanaman sejenis lainnya, kita dapat memanen benih dan menghasilkan minyak tanpa menebang pohon, katanya, seraya menambahkan bahwa pemerintah membutuhkan dukungan untuk lebih banyak penelitian dan pengembangan dan lebih banyak investor.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Bacaan terkait Berita-berita