Berita

Hutan sebagai sumber pangan

Laporan terbaru menyoroti hubungan kuat antara bentang alam hutan dan pola makan sehat.
Bagikan
0
Hutan menjadi sumber penting makanan bernutrisi bagi banyak masyarakat desa di dunia. Kate Evans/CIFOR

Bacaan terkait

Jadi agak ironis, ketika bahan pangan liar makin sering muncul dalam menu standar bintang Michelin di seluruh dunia, masyarakat yang secara tradisional bergantung pada pangan ini, malah makin mengurangi konsumsinya.

Buah baobab dan mangga liar sumber vitamin dan mineral; daging hewan liar sumber lemak dan mikronutrisi; rebung bambu sumber serat; pakis sumber karbohidrat kompleks dan minyak dasar – hanyalah sebagian sumber pangan bernutrisi dan beragam yang telah lama mengisi diet masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan. Namun, sejalan dengan deforestasi dan perkebunan, berkurangnya akses ke hutan dan bentuk pendapatan baru, membuat bahan dapur alami ini tidak lagi termanfaatkan seperti dulu.

Kehutanan Lestari, Keamanan Pangan dan Nutrisi, sebuah laporan terbaru Pusat Penelitian Keamanan Pangan Dunia, mengkaji secara mendalam kelindan antara hutan berkelanjutan, keamanan pangan dan nutrisi –topik yang hingga saat ini, kurang mendapat fokus dalam penelitian sosial substansial.

Panel Ahli Tingkat Tinggi (HLPE), beranggotakan ilmuwan dan spesialis ketahanan pangan dan nutrisi memanfaatkan informasi dari bentang alam hutan dunia untuk menguji hipotesis bahwa pemanfaatan hutan berkelanjutan meningkatkan kesehatan dan diet masyarakat terdekat.

KUALITAS DAN KUANTITAS

“Ada estimasi, pada 2050 dunia akan dihuni sembilan miliar orang,” kata Terry Sunderland, Ilmuwan Utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), ketua tim HLPE.

“Merespon pertumbuhan populasi,  penghasilan global, serta evolusi diet, kelanjutan trend ini akan berimplikasi pada produksi pertanian global 2050 yang harus lebih tinggi. Namun, dengan temuan laporan ini, kami berharap ekspansi itu akan menimbang peran penting hutan dan pohon bagi keamanan pangan dan nutrisi.”

Seperti ditunjukkan dalam penelitian, upaya mitigasi terhadap tekanan meningkatnya kebutuhan kayu dan produk kayu dalam membantu masyarakat – terutama di desa dan petani – untuk menjaga hutan mereka dan terus memanfaatkan hutan sebagai sumber pangan harus dilakukan dengan cara yang berkelanjutan.

Keragaman hayati alami hutan membentuk diet lebih bervariasi, dan memberi nutrisi lebih baik dari pada sekadar meningkatkan asupan kalori semata.

“Di CIFOR, penelitian kami menemukan bahwa masyarakat yang tinggal dekat huan dan bentang alam berbasis pohon memiliki diet lebih baik dibanding masyarakat lain, terlepas dari kondisi kemiskinan,” kata  Sunderland. “Sayuran liar, siput, sejumlah sumber mikro-nutrisi dan protein sangat penting dan tidak bisa diremehkan.”

Melengkapi pangan langsung yang disediakan, hutan juga berdampak besar pada produksi pertanian sekitarnya. Hutan menjadi rumah bagi penyerbuk yang membantu banyak tanaman pertanian bereproduksi. Hutan juga membantu menjernihkan air, menyokong ternak gembala, menyediakan tanaman obat dan kesehatan alami serta menyuplai kayu – terutama sebagai sumber bahan bakar sepertiga populasi dunia. Tanpa energi untuk memasak, makanan kurang enak dan air tak tersterilkan.

Namun, dampak positif hutan pada produksi pertanian mengarah pada paradoks rumit. Ketika tanaman perkebunan komersial seperti sawit dan gandum berkembang, lebih banyak uang masuk dalam dompet masyarakat lokal, dan memungkinkan mereka membeli, bukannya menumbuhkan atau mengumpulkan makanan. Kondisi ini sering menyebabkan mereka mengganti produksi dengan karbohidrat sederhana, gula rafinasi, dan lemak-trans – sebuah transisi diet yang tidak disertai pendidikan gizi. Tafsir modern kedaulatan pangan, mengarah pada diet tak sehat.

“Ini menjadi tren kuat di seluruh dunia – aspirasi kelas menengah dan obsesi makanan cepat saji,” kata Sunderland. “Di Indonesia, misalnya, insiden cacat tumbuh sangat tinggi akibat diet yang buruk.”

SIAPA MAU PEDULI

Hal yang kurang tampak namun tidak kurang penting dari laporan ini adalah perlunya membongkar hambatan di antara masyarakat pertanian, kehutanan, nutrisi dan konservasi serta meningkatkan kerjasama lintas-sektor dalam mengatasi masalah ini. Laporan HLPR diharapkan mendorong para ahli dari berbagai bidang menselaraskan tujuan penelitian, pengetahuan dan kebijakan.

“Jika kita bersungguh-sungguh mengenai keamanan pangan global, kita tidak bisa mengabaikan peran hutan dan pohon sebagai penyedia langsung. Kami ingin para ahli nutrisi memahami pentingnya hutan dan pohon, dan kami ingin masyarakat kehutanan memahami mengapa dan bagaimana pohon berkontribusi pada nutrisi.”

Lebih jauh lagi, ketika memandang hutan sebagai sumber utama penghasilan masyarakat lokal, arahnya adalah fakta bahwa menolak atau membatasi akses masyarakat ke hutan, secara langsung berkorelasi dengan akses pangan dan air. Hal ini memunculkan masalah besar hak asasi manusia terkait akses pangan.

“Hak atas pangan disebutkan di hampir seluruh perjanjian [multilateral] sejak 1945,” kata Sunderlan. “Jika kita menguatkan bukti bahwa hutan sangat penting dalam menyediakan pangan dan nutrisi, bagaimana kita membenarkan pencegahan akses masyarakat pada hutan?”

Jika kita bersungguh-sungguh mengenai keamanan pangan global, kita tidak bisa mengabaikan peran hutan dan pohon sebagai penyedia langsung. Kami ingin para ahli nutrisi memahami pentingnya hutan dan pohon, dan kami ingin masyarakat kehutanan memahami mengapa dan bagaimana pohon berkontribusi pada nutrisi

Terry Sunderland, Principal Scientist, CIFOR

Secara ideal, perspektif ini membantu meningkatkan temuan penelitian– yang akan didiskusikan lebih jauh pada Konferensi Asosiasi Biologi Tropis pekan lalu di Merida, Meksiko – untuk menguatkan pengaruh pada inisiatif-inisiatif global, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan REDD+.

Namun, hal pertama dan terpenting, penelitian ini bertujuan mengubah pandangan konvensional mengenai keamanan pangan dan hutan. Bukannya bersaing satu sama lain, keduanya sangat penting bagi eksistensi satu sama lain, lebih dari yang kita bayangkan sebelumnya.

*Laporan Sustainable Forestry and Food Security and Nutrition diterbitkan oleh Komite Keamanan Pangan Dunia.

(Visited 250 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Terry Sunderland di t.sunderland@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org