Analisis

Belajar dari pelibatan masyarakat lokal dalam pemantauan restorasi

Pemantauan partisipatoris – sistem kolaboratif multilevel dalam mengumpulkan, menganalisis data, saling belajar, dan mengambil keputusan dengan melibatkan masyarakat lokal memainkan peran penting dalam restorasi lahan.
Bagikan
0
Seorang anggota komunitas lokal di desa Buntoi menanam tanaman bioenergi pada plot percobaan restorasi lahan. https://www.flickr.com/photos/cifor/30094411253/in/album-72157674573915202/

Bacaan terkait

Inisiatif-inisiatif restorasi hutan global terkini – seperti Tantangan BonnInisiatif 20×20AFR100, Target Konvensi Keragaman Hayati Aichi – menunjukkan peluang besar membalikkan tren deforestasi dan degradasi hutan di tahun-tahun mendatang. Namun, mereka yang bekerja dalam restorasi hutan telah mengantungi sejumlah cerita kegagalan proyek. Bagaimana kita dapat meminimalkan kegagalan ini, dengan belajar dari inisiatif restorasi lain dan membangun keberhasilan mulai dari lapangan?

Pakar restorasi sepakat: pemantauan penting bagi keberhasilan restorasi. Tetapi apakah pemantauan mendapat cukup perhatian dalam inisiatif besar global saat ini?

Pemantauan partisipatoris – yaitu sistem kolaboratif multilevel dalam mengumpulkan dan menganalisis data, saling belajar, dan mengambil keputusan dengan melibatkan masyarakat lokal secara bermakna – dapat memainkan peran penting dalam menyediakan informasi yang diperlukan untuk memahami apakah restorasi bergerak dalam lintasan yang benar, lebih dari sekadar mengkuantifikasi jumlah hektare atau meningkatnya tutupan hutan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal dapat diandalkan mengumpulkan data akurat perubahan, penyebab dan ancaman terhadap hutan, selain dampak biofisik dan sosioekonomi yang tidak bisa dilakukan penginderaan jarak jauh. Lebih jauh lagi, hal ini dapat dilakukan dengan sepertiga biaya tenaga profesional. Apa yang perlu dipantau makin mudah dipahami: bukan hanya penanaman pohon, tetapi pendorong keberhasilan, kekhawatiran lokal dan perubahan hutan. Model yang telah ada, antara lain program Restorasi Bentang Alam Hutan Kolaboratif (CFLR) Amerika Serikat, Pakta Restorasi Hutan Atlantik (AFRP) Brasil, regenerasi alami dikelola petani di Sahel, dan lainnya.

Untuk lebih memahami potensi pemantauan partisipatoris, kami mengkaji lebih dari 100 artikel dan mewawancarai beberapa pakar global untuk mengkristalisasi pembelajaran dan menemukan jalan maju. Di bawah ini beberapa pembelajaran yang didapat.

Membangun sistem pemantauan dan mekanisme penilaiannya

Tidak cukup hanya membangun protokol pemantauan, diperlukan sistem pemantauan yang mendukung pengumpulan, agregasi, analisis dan pembelajaran data. Hal ini merupakan kesimpulan dari salah satu pakar yang bekerja di AFRP Brasil. Setelah beberapa tahun bekerja dengan protokol, para pakar menemukan bahwa hanya sedikit anggota mengumpulkan data – karena terlalu rumit dan terlalu banyak indikator. Pelajaran penting dari proses ini adalah, sistem pemantauan sendiri harus memiliki kapasitas belajar dan beradaptasi.

Membuat perencanaan pemantauan sejak awal

Para pakar berpendapat bahwa pemantauan seharusnya merupakan aktivitas pertama yang dirancang dalam restorasi hutan. Rencana pemantauan harus terkait erat dengan tujuan restorasi dengan melibatkan beragam pemangku kepentingan. Motivasi utama pemantauan adalah untuk meyakinkan apakah upaya restrorasi berjalan baik, memberi hasil sesuai harapan, serta memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Selain itu juga untuk mengambil langkah yang diperlukan jika sistem tidak berjalan seperti harapan dan risiko kegagalan jika tidak diambil tindakan yang tepat waktu.

Pantau apa yang penting untuk pengambilan keputusan lokal

Meningkatnya tutupan hutan adalah penting, namun sistem pemantauan partisipatoris yang baik harus fokus merespon secara cepat informasi yang diperlukan dalam menjawab pertanyaan dan kebutuhan pemangku kepentingan lokal – tidak hanya terfokus mengembangkan data ilmiah kuat. Dalam istilah manajer regional program CFLR: “Saya memilih mengumpulkan data yang cukup pada dua atau tiga indikator, berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lokal daripada 10 indikator ‘secara ilmiah’”.

Tentukan indikator secara bersama

Inisiatif pemantauan terukur restorasi hutan multi-lokasi harus memiliki sedikit indikator yang dimiliki bersama seluruh lokasi, dengan fleksibilitas menentukan indikator lain untuk merespon kebutuhan lokal. Menentukan indikator tidak pernah mudah, tetapi ketika didekati secara terstruktur dan diberi cukup waktu serta kesabaran, dapat menjadi proses berharga dalam membangun kepercayaan dan mengungkap apa yang penting bagi para pemangku kepentingan. Terlepas dari sekadar menetapkan indikator luaran, menjadi lebih bermanfaat bagi pemangku kepentingan lokal untuk menyusun pertanyaan untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan yang mendukung tujuan restorasi. Dan kemudian pilih indikator yang tepat.

Dorong pembelajaran sosial dan pembelajaran jejaring

Sistem pemantuan restorasi hutan terukur dan multi-lokasi harus menekankan pada penciptaan jejaring pembelajaran dalam memfasilitasi hubungan pemangku kepentingan di berbagai level, dengan informasi yang mereka butuhkan untuk pengambilan keputusan. Proses ini berjalan dengan menghubungkan pemangku kepentingan satu sama lain dalam mengkatalisasi pembelajaran. Upaya dan sumber daya harus diinvestasikan untuk menciptakan interaksi antar pemangku kepentingan dalam berbagi informasi pemantauan dan pembuatan keputusan. Interaksi berulang akan menghasilkan pembelajran, tata kelola adaptif dan penyesuaian.

Alokasikan dana untuk pemantauan dan penyediaan insentif lokal

Mengingat waktu yang relatif panjang dalam restorasi hutan mampu mencapai tujuan keragaman hayati dan sosial, serta berhadapan dengan ketidakpastian dan tekanan terhadap wilayah hutan baru maupun hutan historis, sistem pemantauan terukur multi-lokasi memerlukan alokasi pendanaan selama proyek berlangsung, dan mungkin lebih lama untuk mencapai keberhasilan dan mengidentifikasi tantangan, penyebab dan ancaman terhadap hutan. Insentif dan dukungan yang tepat dapat mendorong masyarakat lokal berpartisipasi melakukan pemantuan jangka panjang. Hal ini mencakup upaya mengarahkan aktivitas restorasi untuk mencapai tujuan dan prioritas lokal, menjamin kompensasi yang layak, menyediakan pelatihan, mendorong partisipasi pelaporan dan analisis hasil, serta mengkaitkan dan belajar dari inisiatif lain.

Sistem pemantauan partisipatoris terukur multi-lokasi untuk restorasi hutan berperan nyata dalam upaya menjejak kemajuan, membangun akuntabilitas dan menciptakan kerangka pembelajaran dan adaptasi. Perencanaan restorasi hutan berlangsung di tingkat global. Inilah saat tepat untuk mulai membicarakan peran penting pemantauan partisipatoris agar perspektif dan aspirasi lokal dan global masuk dalam pertimbangan.

Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cifor-icraf.org
Topik :   Restorasi Deforestasi Kebakaran hutan & lahan Bentang alam

Lebih lanjut Restorasi or Deforestasi or Kebakaran hutan & lahan or Bentang alam

Lihat semua