Wawancara

Strategi Pengembangan Geopark Tambora sebagai Ikon Ekowisata Pulau Sumbawa

Wawancara bersama General Manager Geopark Tambora, Hadi Santoso
Bagikan
0

Bacaan terkait

Geopark atau Taman Bumi Tambora merupakan Geopark Nasional di Pulau Sumbawa yang memiliki banyak keunikan meliputi aspek geologi, arkeologi, ekologi, sosial, dan budaya dengan melibatkan masyarakat setempat untuk turut berperan dalam melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam yang sangat berharga. Kawasan Geopark Tambora melingkupi Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu yang ditetapkan pada tanggal 20 November 2017 oleh Komite Nasional Geopark Indonesia.

Secara umum, Geopark Tambora didominasi oleh Gunung Api Tambora yang merupakan gunung api aktif, dengan ketinggian ±2.851 mdpl dengan diameter kaldera sekitar ±7 km. Adapun bentang alam kawasan Geopark Tambora dicirikan oleh morfologi gunung api Kuarter-Resen di bagian tengah kawasan, dan disepanjang pesisir termasuk dalam morfologi dataran. Eksistensi Geopark Tambora sebagai salah satu ikon penting ekowisata berbasis bentang alam di Pulau Sumbawa tentunya memerlukan strategi pengelolaan terintegrasi dengan melibatkan banyak pihak.

Peneliti Kanoppi-CIFOR, Ani Adiwinata mewawancara General Manager Geopark Tambora, Ir. Hadi Santoso, ST., MM., IPM. membahas strategi pengembangan Geopark Tambora sebagai ikon ekowisata di Pulau Sumbawa.

T: Bagaimana strategi pengembangan Geopark Tambora sebagai ikon Pulau Sumbawa untuk mendorong ekowisata yang berbasis bentang alam terintegrasi dan sesuai daya dukung ekologi?

J: Jadi geopark ini secara dunia punya moto melestarikan warisan bumi dan menyejahterakan masyarakat. Sehingga dari moto itu kemudian di-breakdown menjadi visi bersama yang intinya adalah bicara tentang tiga aspek yaitu konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Dari tiga aspek tadi kemudian kita juga breakdown menjadi misi, jadi visi kita di situ yaitu konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan, kita breakdown kepada misi kita yang intinya adalah satu bagaimana kita meningkatkan kualitas dan kuantitas event yang ada di lingkar Tambora. Sehingga saat ini orang baru mengenal Festival Geopark Tambora atau Festival Pesona Tambora, atau Tambora Menyapa Dunia.

Kita ingin event itu lebih banyak lagi dan kualitasnya juga semakin baik. Kalau dulu kita bicara Tambora Menyapa Dunia, kenapa kita tidak berpikir dunia yang menyapa Tambora. Menjadikan dunia menyapa Tambora ini bukan persoalan yang gampang karena kita harus punya magnet yang cukup kuat untuk menyebabkan itu, untuk membangun hal itu.

Maka kita kemudian meningkatkan kualitas event, kemudian yang kedua adalah meningkatkan promosi kita, jadi kita harus bisa betul-betul membangun brand yang benar dan besar.

Kemudian yang paling terpenting juga kita membangun kolaborasi dan sinergi antar semua pihak dengan konsep pentahelix, alhamdulillah kita sudah bikin MoU dengan perguruan tinggi se-Pulau Sumbawa, karena kami basisnya memang di Pulau Sumbawa.

Kemudian kita juga sudah MoU dengan beberapa perusahaan-perusahaan yang memang concern di bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat, misalnya dengan PT. Amar Sasambo Internasional yang fokus di walet.

Kita juga berharap nanti ke depannya juga bekerja dengan CIFOR untuk konservasi, pemberdayaan madu trigona, kemudian kopi yang kita juga akan bekerja sama dengan hal itu. Kemudian juga dengan sektor media massa kita juga alhamdulillah sudah terjalin dengan baik, baik dari segi media massa lokal, regional maupun nasional.

Kemudian juga fokus kita kedepan bagaimana sebenarnya output atau outcome kita itu mengurangi angka kemiskinan di lingkar hutan, karena hutan ini areal kemiskinan terbesar, itu ada di lingkar hutan. Itu tidak akan bisa kita menghambat laju kerusakan hutan dan konservasi ekosistem kalau masyarakat lingkar hutan yang memang notabennya ini kurang sejahtera, tidak kita sentuh dengan kesejahteraan, misalnya dengan membangun industri-industri berbasis produk-produk kehutanan.

Kemudian yang kedua kita juga fokus pada bagaimana melakukan industrialisasi di sebanyak mungkin sektor-sektor UMKM yang ada di lingkar Tambora dan Pulau Sumbawa pada umumnya, tanpa industrialisasi nilai produk tidak akan naik.

Kita ingin orang tidak fokus lagi pada penjualan bahan baku, tetapi bagaimana produk olahan. Madu kalau hanya sekadar madu yang masih kosongan tanpa labelling, tanpa peningkatan kualitas, tanpa pengurangan kadar air dan lain-lain itu akan membuat harganya tetap rendah. Konsep industrialisasi kepada bidang-bidang yang di sana juga kita akan tingkatkan.

Kemudian yang ketiga kita juga ingin alhamdulillah kemarin sudah ada kita ingin bekerja sama, sudah kita sounding, kita resmi meminta kepada LPP NTB yang merupakan lembaga pendidikan NTB untuk kita bagaimana meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia), jadi masyarakat di lingkar Tambora yang kita dorong nanti untuk kuliah ke luar negeri lewat bantuan dari LPP NTB termasuk beasiswa NTB, sehingga kualitas sumber daya naik otomatis hal yang lain juga akan naik.

T: Tantangan dalam memastikan ekowisata yang berbasis bentang alam terintegrasi dan sesuai daya dukung secara ekologi?

J: Saat ini di mana kita targetnya adalah perluasan deliniasi hingga se-Pulau Sumbawa, karena di sana ada dua suku utama yaitu Bojo dan Samawa. Kemudian juga ada pemerintahan yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh, maka komunikasi menjadi persoalan yang perlu kita perkuat antar semua stakeholder, baik itu pemerintah daerah lima kota dan kabupaten tadi.

Di dalamnya juga ada taman nasional, di dalamnya ada juga pemerintah desa, di dalamnya juga ada Balai KSDA dan yang lainnya. Maka tantangan terbesar kami adalah bagaimana menjahit, mengkolaborasikan semua komponen yang ada ini, dan ini tentu tidak gampang karena masing-masing punya wilayah domain kekuasaan, mereka masing-masing juga punya kepentingan sehingga mempertemukan kepentingan bersama itu menjadi penting.

Tetapi bagi kami selagi Geopark Tambora ini terus kita dorong fungsi maupun manfaatnya pada masyarakat, yang kemudian dikenal secara dunia dan mendunia, saya pikir semua orang akan berpihak untuk satu visi yang besar, asal kita tidak memasukkan pada visi-visi kecil parsial karena itu akan menjadi wilayah domain orang lain.

Tetapi ketika kita bicara Geopark Tambora ini bagaimana mendunia dan besar menjadi UNESCO Global Geopark dan yang lainnya, yang kemudian menjadi magnet yang begitu besar ke domestik maupun mancanegara, saya kira kami akan bersatu di situ, kita akan menemukan titik persatuan dari semua itu.

Yang kedua bagaimanapun kami dihimpit tanda kutip oleh daerah-daerah wisata yang bagus, yang besar yaitu Bali, Lombok, walaupun Lombok ini sama-sama NTB kita akui bahwa Lombok jauh lebih maju pariwisatanya dibandingkan Pulau Sumbawa, jadi Bali, Lombok, Labuan Bajo.

Jadi udah satu pulau yang unik itu, dilompati, jadi kalau dari timur ada Labuan Bajo, di baratnya ada Lombok dan Bali, kenapa satu pulau ini harus dilompati? padahal destinasinya tidak kalah indah dan tidak kalah luar biasa.

Maka kami bisa melihat bahwa satu masalah utama kami adalah masalah attitude, masalah sikap, bagaimana masyarakat aware dengan pariwisata, bagaimana keramahan itu dibangun, bagaimana hospitality atau kesopanansantunan Pulau Sumbawa kami ini harus dibangun.

Ya kalau saya pikir bicara objektif berita di Pulau Sumbawa, Bima, Dompu itu lebih banyak yang naik yang berbau “masih seram-seram”, yang bau indah-indah, romantis, dan cinta itu kurang nah itu yang harus kami dorong juga kedepannya.

Kanoppi merupakan kegiatan penelitian aksi partisipatif untuk “Mengembangkan dan mempromosikan agroforestri berbasis pasar dan pengelolaan lanskap terintegrasi untuk mendorong pengembangan usaha kehutanan skala kecil berbasis masyarakat di Indonesia”. Didukung Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) dan melibatkan Center for International Forestry Research (CIFOR) berkerjasama dengan World Agroforestry (ICRAF) dan mitra terkait. 

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, penelitian difokuskan di Kabupaten Sumbawa, khususnya di Desa Batudulang dan Desa Pelat. Penelitian ini bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (BKPHP) Batulanteh, Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa, WWF (World wide fund for nature) Indonesia, Universitas Mataram, dan Badan Penelitian, Pengembangan dan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (Litbang HHBK), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Ani Adiwinata di a.nawir@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org