Kolom DirJen

Lima (atau enam) solusi menyelamatkan hutan dunia dan pemulihan bentang alam

Bekerja bersama untuk dampak maksimal
Bagikan
0
Robert Nasi dan Tony Simons.

Bacaan terkait

Kita telah mendengar banyak inisiatif ambisius penanaman pohon dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini merupakan langkah baik — dan kami memberi apresiasi atas nilai mulia dan dorongan masyarakat — namun kita jelas memerlukan lebih dari sekadar menanam pohon untuk memulihkan bentang alam yang rusak dan menyelamatkan hutan dunia.

Di Hari Hutan Internasional, kami bergabung bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan perhatian akan kebutuhan terhadap pengakuan umum peran utama bentang alam dalam memerangi perubahan iklim dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), target yang bertujuan mengurangi kemiskinan.

Kami menyerukan pentingnya bioma di hutan, baik dalam perannya dalam sistem pertanian efektif, lahan gambut alami, hutan lahan kering atau hutan bakau. Sudah sepatutnya hutan “terlupakan” mendapat perhatian lebih termasuk ekosistem pegunungan tinggi tropis, karst dan hutan keranga.

Kami menyerukan pada masyarakat global tentang penerapan perubahan sistemik kuat untuk mengatasi konsekuensi dramatis dari deforestasi dan degradasi hutan. Melestarikan hutan primer, mengelola hutan sekunder, hutan terganggu atau yang mengalami pembalakan liar, tentu saja harus dikelola berkelanjutan. Meningkatkan jumlah pepohonan di lahan pertanian, sekaligus memulihkan lahan terdegradasi merupakan langkah nyata memenuhi kebutuhan global termasuk menyediakan mata pencaharian masyarakat lokal.

Saat ini telah tersedia kerangka kerja dan target tingkat tinggi. Melalui SDGs, Deklarasi Hutan New York (NYDF), Perjanjian Paris PBB dan Konvensi Keanekaragaman Hayati, kita memiliki semua yang dibutuhkan untuk menerapkan transformasi dan berbagai upaya untuk mencapainya. Harapan tinggi saat ini digantungkan pada inisiatif Dekade untuk Restorasi Ekosistem PBB (2021-2030). Apakah upaya ini dapat membuat suatu struktur di mana pemerintah, bisnis, dan masyarakat bertindak bersama dalam upaya-upaya memerangi pemanasan global sebelum terlambat.

Tapi kita tidak juga tidak boleh melupakan masyarakat yang berada dekat dengan kawasan hutan. Kita harus lebih banyak berdialog dengan mereka yang tinggal, bekerja dan bergantung pada hutan.

Hutan merupakan ekosistem berbasis lahan yang paling beragam secara biologis, dan hutan juga adalah rumah bagi lebih dari 80 persen spesies hewan, tumbuhan dan serangga serta penyimpan karbon dalam jumlah besar.

Pertimbangkan hal-hal ini: ekosistem kritis dengan separuh spesies tanaman dan hewan di planet ini menyediakan mata pencaharian bagi 1,6 miliar orang — termasuk lebih dari 2.000 komunitas adat — yang mengandalkan hutan sebagai penyedia bahan obat-obatan, bahan bakar, pangan, dan tempat berteduh.

Meski nilai finansial terkait dengan degradasi lahan, restorasi hutan dan data lain-lain baru sekedar proyeksi dan perkiraan, namun kita ketahui bersama jumlah tersebut adalah valid.

Deforestasi, degradasi lahan, dan menipisnya sumber daya alam adalah hal yang terjadi di seluruh dunia, dan diperkirakan menelan biaya $6,3 triliun untuk jasa ekosistem yang hilang setiap tahunnya. Jumlah itu setara dengan 10 persen perekonomian global.

Ketika sistem agroforestri dikemas bersama dengan hutan sebagai “sektor penggunaan lahan,” sistem ini menjadi penyedia lebih dari 95 persen kebutuhan pangan manusia, penyedia lapangan kerja bagi lebih dari setengah populasi manusia, dan bertanggung jawab atas 30 persen dari seluruh emisi gas rumah kaca.

Pepohonan di hutan atau lahan pertanian adalah jantung dari solusi berbasis alam untuk keadaan darurat iklim.

Penelitian CIFOR-ICRAF dan lain-lain telah menunjukkan bahwa pepohonan di hutan dan pertanian tidak hanya menyerap karbon dalam jumlah besar, supplier makanan dan bahan baku bagi petani dan pekerja kehutanan, memperbaharui kesuburan dan stabilitas tanah, melindungi daerah aliran sungai, dan komponen vital dalam siklus hidrologi planet bumi.

Dan sekarang, saat kita menghadapi keadaan darurat iklim, komunitas global harus segera melakukan usaha yang lebih baik untuk menghubungkan kembali kesejahteraan manusia, ketahanan ekosistem dengan hutan dan pertanian.

Jadi bagaimana agar kita dapat mencapai tujuan tersebut?

Dunia memerlukan kemitraan ilmiah, pengembangan, bisnis, dan keuangan transformatif bagi perubahan skala besar yang diperlukan guna mencapai target global sehingga dapat memberikan hasil dalam beberapa tahun.

Ada lima area di mana investasi dapat dilakukan agar mengembalikan fungsi ekosistem terdegradasi. Upaya ini dapat membantu melindungi, memperluas dan meningkatkan nilai hutan dan keanekaragaman hayati, mengubah pertanian menjadi sistem tahan lama, dan membangun rantai nilai berkelanjutan dengan dukungan dari pemerintah dan sektor swasta untuk melakukan transisi ke ekonomi berkelanjutan.

Pertama, pembiayaan proses transisi membutuhkan komitmen kuat dari komunitas global. Kita tidak kekurangan dana. Perkiraan menunjukkan bahwa pemerintah membelanjakan $1,8 triliun per tahun untuk pengeluaran militer dan lebih dari $5 triliun untuk subsidi bahan bakar fosil, tetapi hanya sekitar $50 miliar untuk restorasi bentang alam.

Kita perlu menyelaraskan prioritas kita.

Investasi yang diperlukan guna memulihkan degradasi lahan di seluruh dunia agar terpenuhi target Deklarasi Hutan New York adalah $830 miliar, menurut FAO. Memulihkan 350 juta hektar sebagai bagian dari Tantangan Bonn – suatu komitmen yang dibuat selama pembicaraan iklim PBB pada tahun 2014 sebagai bagian dari Deklarasi Hutan – diperkirakan mencapai $360 miliar.

Banyak yang harus dilakukan untuk mempercepat pendanaan.

Para peserta konferensi Global Landscape Forum di Luxembourg November tahun lalu menyoroti tentang perluasan definisi “kekayaan” sehingga dimungkinkan memasukkan unsur aset alam dan sosial, suatu kolaborasi signifikan antara sektor publik dan swasta dan perubahan sistematis dalam rantai pasokan global dan sistem keuangan .

Kedua, pertanian harus lebih kuat terhubung ke solusi iklim. Sektor pertanian, kehutanan dan penggunaan lahan lain-lain, bertanggung jawab atas seperempat dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh manusia, terutama yang disebabkan oleh deforestasi dan sumber-sumber pertanian seperti peternakan, tanah dan nutrisi.

Namun, agroforestri, jika didefinisikan sebagai lebih dari 10 persen tutupan pepohonan: maka lebih dari 43 persen berada di wilayah lahan pertanian global, dengan 30 persen masyarakat hidup di pedesaan, mewakili lebih dari 1 miliar hektar lahan dan lebih dari 1,5 miliar manusia.

Ini harus diperluas baik bagi perluasan wilayah maupun keanekaragaman spesies agar membantu negara-negara memenuhi kontribusi nasional — di bawah Perjanjian Paris PBB tentang perubahan iklim yang bertujuan mengurangi pemanasan global — meningkatkan mata pencaharian, meningkatkan ketahanan pangan, dan mengurangi tekanan untuk hutan alam.

Ketiga, hutan bakau dan lahan gambut merupakan penyerap karbon vital.

Ekosistem mangrove dikenal karena kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah besar dan melindungi garis pantai dari erosi akibat kegiatan-kegiatan di laut. Ekosistem mangrove juga merupakan penyangga dengan menangkap sedimen dalam karbon organik, yang dapat terakumulasi bersamaan dengan kenaikan permukaan laut, menurut temuan penelitian dari ilmuwan CIFOR.

Seperti halnya mangrove, lahan gambut memiliki peran besar mengurangi dampak perubahan iklim, tapi lahan gambut berada di bawah ancaman besar di dunia baik bagi negara di bagian utara maupun selatan.

Misalnya, di Kongo Basin, lahan-lahan konsesi gambut dijual dan ancaman terhadap drainase semakin nyata. Lahan gambut membentuk lebih dari setengah dari seluruh lahan basah di seluruh dunia, setara dengan 3 persen dari total luasan lahan dan permukaan air tawar.

Tersusun selama ribuan tahun dari sisa-sisa vegetasi yang membusuk, menurut Wetlands International bahwa  sekitar 15 persen lahan gambut telah dikeringkan untuk pertanian, kehutanan komersial dan untuk ekstraksi bahan bakar.

Ketika lahan gambut dikeringkan, gambut mengalami oksidasi dan karbon dilepaskan ke atmosfir, menyebabkan pemanasan global.

Sepertiga dari karbon tanah dunia dan 10 persen sumber daya air tawar global di seluruh dunia disimpan di lahan gambut, menurut International Mire Conservation Group dan International Peat Society.

Setiap program yang bertujuan untuk memperbaiki hutan dan bentang alam harus memastikan lahan gambut dilindungi, dibasahi ulang, dan dipulihkan.

Keempat, memulihkan bentang alam dapat membawa manfaat besar dengan perkiraan hingga 30 dolar AS untuk investasi setiap dolar, namun investasi dalam restorasi sejauh ini masih belum banyak.

Langkah-langkah penting menuju investasi transformatif ini mencakup kolaborasi antara pemegang dana swasta dan publik, mengurangi risiko dan ketidakpastian bagi investor, mengembangkan langkah-langkah yang lebih baik bagi keberlangsungan bentang alam dan membangun teknologi, metode, dan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam skala besar.

Kelima, keanekaragaman hayati merupakan hal mendasar bagi keberlangsungan kehidupan bumi. Untuk memilih contoh paling jelas, tanaman pangan adalah tanaman yang mengandalkan penyerbuk alami bagi bunga dan buah. Nilai bunga dan buah hampir setara $600 miliar per tahun.

Sebagian besar penyerbuk bunga adalah serangga liar, termasuk 20.000 spesies lebah, yang bergantung pada keutuhan ekosistem beragam dan sehat. Serangga cenderung menjadi bagian terbesar dari hilangnya keanekaragaman hayati di masa depan: saat ini 40 persen dari semua spesies invertebrata menghadapi kepunahan.

Memadupadankan jumlah pohon, semak, dan spesies lain-lain yang lebih besar ke dalam pertanian dapat membantu menyediakan habitat, spesies penyerbuk, pemangsa alami, sumber makanan dan pendapatan.

Lalu selanjutnya?

Kita tahu solusi yang diperlukan untuk menyelamatkan hutan salah satunya dengan menjalankan restorasi lahan, dan kita semakin memahami implikasi dari kegagalan yang terjadi. Penanaman pohon telah menginspirasi banyak orang mengambil tindakan  melindungi dan melakukan rehabilitasi hutan. Hal yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen pendanaan untuk melaksanakannya.

Mari mengingat kembali apa yang disampaikan oleh Elinor Ostrom (1933-2012), pemenang Hadiah Nobel dalam Ilmu Ekonomi tahun 2009, yang ia teliti bersama Oliver Williamson, “untuk analisisnya tentang tata kelola ekonomi, terutama kepemilikan bersama.”

Melalui penelitian tentang bagaimana tata kelola lahan yang dimiliki umum, ia membalikkan perspektif kolonial-dominan tradisional. Elinor mengajarkan bahwa kita dapat bekerja bersama menggunakan sumber daya alam secara berkelanjutan dan efektif, selama aturan dan parameternya jelas, dan pihak-pihak yang bekerja di bidang ini terlibat. Dia mengakui bahwa aturan tidak boleh diberlakukan tanpa konsultasi dari pemerintah atau entitas formal lain-lain agar tercapai tingkat keberhasilan tertinggi pengelolaan lahan.

Dia menyampaikan rumus untuk mencapai kesuksesan. Kita harus memastikan bahwa kita menjalankannya dengan memadukan kebijakan tingkat tinggi dengan strategi yang digunakan oleh pengelola lahan berkelanjutan — yaitu mereka yang tinggal dan bekerja di hutan. Kita harus terus bekerja dalam lintas sektor untuk mencapai hasil komprehensif.

Menurut Ostrom: “Hingga penjelasan teoritis — berdasarkan pilihan manusia — bagi usaha yang dikelola sendiri dan diatur sendiri sepenuhnya dikembangkan serta diterima, maka sepenuhnya keputusan kebijakan dapat terus dilakukan dengan anggapan bahwa individu tidak dapat mengatur diri mereka sendiri dan selalu perlu diorganisir oleh otoritas eksternal.”

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org