Wawancara

Akses ke pendidikan kunci meningkatkan jumlah ilmuwan perempuan

Wawancara dengan Stibniati Atmadja di Hari Perempuan dalam Sains
Bagikan
0
Stibniati Atmadja, Peneliti, Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) berbicara dalam diskusi panel: 10 tahun REDD+: apa yang telah kita pelajari? Credit: Global Landscape Forum

Bacaan terkait

Indonesia - Menyambut Hari Perempuan dalam Sains Internasional, PBB menyoroti data tentang jumlah peneliti perempuan di seluruh dunia yang kurang dari 30 persen. Hasil statistik menunjukkan hanya sekitar 30 persen dari siswi perempuan memilih belajar sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM) di lembaga-lembaga pendidikan tinggi.

Jumlah perempuan yang menempuh pendidikan di sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) juga rendah: 3 persen di bidang sains; 5 persen di bidang matematika dan statistik; dan 8 persen di bidang teknik, manufaktur, dan konstruksi.

“Untuk menghadapi tantangan abad 21 ini, kita perlu memanfaatkan potensi penuh yang kita miliki.” kata Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB. “Diperlukan perubahan pandangan stereotip tentang jender. Pada Hari Perempuan dalam Sains Internasional, mari berjanji untuk mengakhiri ketidakseimbangan jender dalam sains.”

Setiap tahun tanggal 11 Februari, Hari Perempuan dalam Sains Internasional diadopsi oleh resolusi PBB tahun 2015 bertujuan untuk menyoroti kebutuhan untuk mencapai kesetaraan akses dan partisipasi penuh, kesetaraan jender, dan pemberdayaan perempuan.

Tantangannya curam

Di Amerika Serikat, misalnya, perempuan memiliki porsi sekitar setengah dari seluruh jumlah doktor dalam sains dan teknik, tapi hanya 21 persen bergelar profesor dan 5 persen bergelar profesor teknik, menurut sebuah artikel di Science. Rata-rata, perempuan hanya mendapatkan 82 persen dari apa yang para ilmuwan laki-laki dapatkan.

Pada 2006, di Uni Eropa, jumlah ilmuwan perempuan berada di angka rata-rata antara 25 sampai 40 persen, lebih sedikit daripada jumlah ilmuwan laki-laki di sektor publik, menurut artikel tersebut.

Jumlah perempuan yang mundur di awal karier sains berada pada jumlah yang tidak proporsional. Meski 70 persen dari mahasiswi doktor kimia di tahun pertama mengatakan akan melanjutkan karir sebagai ilmuwan, nyatanya di tahun ketiga hanya 37 persen yang memenuhi hal tersebut, dibandingkan dengan 59 persen laki-laki, tambahnya.

“Terlepas dari pelitian yang sudah berjalan beberapa dekade ini, pelajar perempuan menerima lebih sedikit peluang dan pengakuan daripada kolega laki-laki, dan lebih kecil kemungkinan bagi perempuan menduduki tampuk pimpinan, atau bekerja di bidang matematika intensif seperti fisika dan teknik,” kata penulis artikel di jurnal Trends in Ecology & Evolution.

Jumlah perempuan yang terlibat dalam studi atau pekerjaan akademisi termasuk mendapatkan penghasilan, tetap jauh lebih rendah dibandingkan dengan kolega laki-laki. Menurut penulis, tantangannya yaitu mencapai kesetaraan terkait definisi kesetaraan. Tidak ada definisi tunggal untuk kesuksesan, dan fokus yang terlalu sempit pada satu aspek kesetaraan dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan, tulis mereka.

Mengambil pendekatan analitik interseksional – memfaktorkan dalam kombinasi yang mempengaruhi kesenjangan jender – dapat menjelaskan lebih lanjut tentang beberapa tantangan yang dihadapi perempuan, serta kesempatan pengalaman atau peluang. Sebagai tambahan, jender, status sosial ekonomi, etnis, kebangsaan, kesehatan, orientasi seksual, usia dan geografis dapat menjadi faktor yang merugikan atau justru menjadi faktor pendukung.

Perubahan lanskap

Pada beberapa bidang yang diukur, perubahan terjadi.

Dari makalah yang dipublikasikan pada 2018 dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan, proporsi penulis perempuan yang berkolaborasi dalam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), pengawas iklim global, meningkat 5 persen pada 1990 dengal total 20 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai contoh, Laporan Khusus IPCC 2018 tentang Pemanasan Global 1,5 C melibatkan 38 persen penulis perempuan, menurut para peneliti.

Teladan kuat dan akses ke pendidikan formal dapat membuat perbedaan bagi perempuan, kata Stibniati Atmadja, ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Karir Nia dimulai dari kondisi keluarga, dukungan dan kesempatan akses pendidikan, katanya, seraya menambahkan bahwa pada awalnya ia belum memiliki tujuan spesifik tentang masa depan dan terlibat dalam karir di bidang ilmu kehutanan merupakan suatu kebetulan. Minat awalnya terhadap ilmu kehutanan dipengaruhi oleh banyaknya pepohonan dan serangga di rumahnya yang rindang di pinggiran Jakarta tempat ia dibesarkan.

Semasa kanak-kanak, bidang yang ia geluti didukung oleh ibunya, seorang ahli patologi, dan ayahnya, seorang ahli geologi.

“Saya beruntung sekali memiliki orang tua yang kemudian akan memupuk minat saya tersebut,” ujar Atmadja, yang pada kelas 3 ingin menjadi ahli genetika atau botanis.

“Saat saya masih menjadi siswi SMA di Jakarta, yang selanjutnya pada tahun pertama menjadi mahasiswi di Manila, semua yang saya lihat hanyalah polusi dan kondisi lingkungan yang memprihatinkan.” Katanya seraya menjelaskan bagaimana ia akhirnya mempelajari keterkaitan antara lingkungan dan ekonomi. “Minat saya dihasilkan dari alasan ekonomi − lingkungan yang tidak dihargai dengan benar.”

Ditransfer dari Ateneo de Manila University di Filipina, ia kemudian mendapatkan dua gelar sarjana di Universitas Murdoch Australia dalam ilmu ekonomi dan lingkungan, gelar master dan gelar doktor dalam ekonomi sumber daya alam di North Carolina State University Amerika Serikat. Setelah itu, ia tinggal dan bekerja di Indonesia dan Etiopia. Nia saat ini tinggal di Perancis.

“Saya punya banyak pilihan program yang bisa saya ambil,” katanya, seraya menambahkan bahwa perjalanannya ke luar negeri memberinya pandangan yang lebih luas dan alternatif struktur sosial, sebuah kontras yang meningkatkan kesadarannya akan hal yang dapat membatasi perempuan di tempat tertentu atau pada keadaan tertentu.

“Saya belum sepenuhnya sadar akan kenyataan bahwa saya seorang wanita berkarier di bidang sains.” kata Nia, yang bergabung dengan CIFOR pada 2008 dan yang fokus penelitiannya adalah pada pengumpulan data dan penulisan tentang hutan dan perubahan iklim.

Pekerjaan Nia melibatkan penjelajahan, yang seringkali mengharuskannya bepergian sendiri atau menjadi satu-satunya perempuan dalam tim, selama berminggu-minggu, di desa-desa terpencil untuk memahami bagaimana masyarakat memanfaatkan dan mengelola hutan. Ia mencatat dan melihat bagaimana harapan tentang orang-orang yang melakukan penelitian ini dapat menyaring perempuan muda.

“Masih banyak prasangka yang menjadikan perempuan sebagai target atau menjadi penangkal semangat buruk, dan keterbatasan tentang bagaimana wanita bepergian dan berinteraksi dengan tempat, orang, topik dan pekerjaan,”

“Penduduk desa menatap saya, bertanya-tanya bagaimana saya bisa mendapatkan pekerjaan seperti itu – mengikuti para nelayan, memburu rusa, menjebak burung di hutan, dan melakukan wawancara dengan begitu banyak orang. Saya, di sisi lain, tidak pernah berpikir pekerjaan saya sangat aneh bagi perempuan atau jender dalam hal ini.”

Berkaca akan ketidaktahuan Nia tentang bias jender dan bagaimana ia dapat melakukan kegiatan yang dia sukai tanpa merasa dibatasi oleh norma jender, ia mengatakan bahwa di masa kanak-kanak ia tidak pernah diberi tahu ada batasan tentang apa-apa yang bisa ia lakukan atau tidak.

“Saya tidak ingat orang tua saya pernah berkata kepada saya ‘perempuan harusnya melakukan ini dan tidak bisa melakukan itu’ – tidak pernah. Saya tumbuh dengan asumsi bahwa perempuan dapat melakukan apa yang dapat laki-laki lakukan karena saya melihat apa yang ibu saya lakukan.” Jelas Nia.

Ibunya merupakan salah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang menekuni bidang patologi, kemudian memimpin sebuah organisasi non-pemerintah nasional yang berfokus pada perencanaan keluarga. Pekerjaannya memberinya kesempatan melakukan perjalanan ke setiap sudut negara dan untuk berbicara dengan banyak orang dari bebagai lapisan masyarakat – dari pekerja seks dan anak jalanan hingga menteri dan selebritas. Ia pindah untuk bekerja di bank multilateral, yang memberikannya lingkungan dinamis, serta memperkenalkannya ke sejumlah kota besar dengan penduduk yang menarik.

“Saya melihat peluang dengan menjadi perempuan, bukan keterbatasan.” tambah Nia. “Itu membentuk harapan saya akan pekerjaan apa yang bisa saya lakukan.”

Pengalaman ini telah membuatnya percaya bahwa orang tua memainkan peran penting dalam meningkatkan kehadiran lebih banyak wanita dalam sains, terutama di dunia belahan selatan.

“Saya sekarang sudah menjadi seorang ibu,” katanya. “Saya punya anak perempuan dan laki-laki. Suami saya dan saya mencoba memberikan kesempatan yang sama dengan membiarkan mereka melihat dan bertindak atas peluang tanpa dibatasi oleh jender.”

“Bagi para orang tua, saya akan mengatakan, pikirkan tentang kesadaran jender yang anda berikan kepada anak-anak anda karena itu akan mencerminkan bagaimana mereka melihat dunia, bagaimana mereka melihat diri mereka di dunia dan bagaimana mereka akan melihat peluang yang datang kepada mereka. Ada norma sosial berdasarkan jender yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan anak-anak. Kami dapat mendukung anak-anak kami dengan membantu mereka mencapai potensi mereka terlepas dari norma-norma ini. ”

Nia juga melihat keberuntungannya dalam mengejar karier yang dia cintai dengan akses ke pendidikan yang mungkin tidak dimiliki orang lain: ia tidak hanya tumbuh dalam keluarga dengan orang tua yang memiliki pendidikan formal, tetapi juga bersekolah di negara-negara maju dan mendapat manfaat dari pengalamannya menjelajahi beberapa negara.

“Perempuan yang tertarik pada sains perlu mengetahui keterampilan mereka dan tidak perlu takut untuk mengatakan: ‘Saya tidak pandai dalam hal itu, tapi saya pandai dalam hal ini.’ Kemudian cobalah dan temukan jalan yang memungkinkan untuk mengejar apapun yang mereka rasa bisa lakukan dan selalu terbuka terhadap pilihan. Bicaralah dengan perempuan di lapangan. Bahkan jika opsi dalam konteks tersebut tidak cocok untuk perempuan, tidak apa-apa. Kamu bisa melakukannya.”

“Namun dengarkan saran saya seperti halnya sebutir garam karena itu merupakan sudut pandang saya pribadi.” tambahnya.

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Topik :   Jender

Lebih lanjut Jender

Lihat semua