Bagikan
0

Bacaan terkait

Hutan bakau berperan penting bagi kehidupan jutaan orang yang hidup di sepanjang garis pantai, yaitu dengan menjamin tersedianya suplai ikan, melindungi masyarakat dari badai dan abrasi, dan segudang manfaat lain-lain.

Sayangnya, manfaat bakau masih sering diremehkan, sehingga lahan bakau cenderung dialihfungsikan menjadi peruntukan lain-lain, yang dapat memberikan keuntungan ekonomi cepat dibandingkan menjaga ekosistem bakau. Padahal ekosistem lahan basah ini terus mengalami penurunan dengan sangat cepat, dan dampak dari hilangnya lahan bakau ini, dengan berbagai manfaat amat penting, nyatanya belum diketahui dengan baik.

Salah satu manfaat spesial bakau yaitu kemampuan menyerap emisi karbon dari atmosfer dan menyimpannya sebagai “karbon biru” di dalam batang dan tanah bakau yang selalu tergenang air. Hal ini menjadikan bakau sebagai salah satu alat dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Tapi, apa yang terjadi bila simpanan karbon dalam jumlah banyak ini ekosistemnya terganggu?

Bekerja sama dengan para mitra, tim ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Universitas Charles Darwin di Australia, dan Universitas Nasional Singapura, bergabung membentuk tim peninjau sistematis untuk mengeksplorasi dan melakukan sintesis bukti-bukti yang tersedia dari akibat perubahan penggunaan dan tutupan lahan (LULCC) pada karbon biru bakau.

Tim ilmuwan menelaah pengaruh apa yang terjadi pada simpanan karbon ketika ekosistem ini dipengaruhi oleh konversi lahan dan gangguan manusia, untuk kemudian memberikan saran-saran pengelolaan yang lebih baik terhadap lahan bakau. Hasil riset sudah dipublikasikan berupa tinjauan sistematis di jurnal ilmiah Global Change Biology. Riset ini merupakan upaya eksplisit dan bijaksana dalam memanfaatkan bukti-bukti terbaik saat ini guna pembuatan keputusan terkait barang dan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya hutan bakau.

Mengolah angka

Dengan menggunakan basis data literatur daring dan bantuan mesin pencari, tim ilmuwan menyaring informasi dari 5.000 jurnal dan sumber lain-lain. Bukti terbaik berasal dari 478 kali pengukuran dari 37 publikasi, di mana proses peninjauan sistematis dilakukan untuk meminimalisir bias. Hasil riset melaporkan data berbasis lapangan terkait dengan cadangan karbon dan studi gas rumah kaca dari sekitar 20 dari 118 negara pemilik ekosistem bakau dunia.

Jumlah publikasi riset tentang bakau dan karbon telah meningkat selama lima tahun terakhir, hal ini menandakan terjadinya peningkatan minat riset oleh komunitas ilmiah. Namun demikian, kami mengamati bahwa dari sebagian besar studi, melaporkan jumlah karbon biru dari lokasi yang tidak terganggu atau hanya terkena LULCC. Ini merupakan kabar baik karena para ilmuwan di seluruh dunia saat ini sedang mengukur karbon biru. Namun, tentu saja ada kesenjangan pengetahuan, terutama dalam hal implikasi pengelolaan karbon biru ketika ekosistem bakau terkena dampak LULCC.

Bar chart shows number of papers published between 1998 and October 2018 included in the analysis.

Jumlah publikasi dari tahun 1998 hingga Oktober 2018 termasuk analisis

 

Dari ulasan sistematis tersebut, kami memahami bahwa:

  • Hutan bakau merupakan subjek bagi deforestasi. Kami memahami tiga jenis penggunaan lahan yang dapat menggantikan area bakau di seluruh dunia, termasuk kegiatan budidaya perairan, peternakan, dan pertanian. Kami juga mencatat beberapa lahan bakau yang sebelumnya mengalami deforestasi dan terkonversi telah kembali hijau setelah dilakukan program rehabilitasi dan restorasi.
  • Tingkat kehilangan karbon tergantung pada lokasi dan kapan lahan bakau dialihfungsikan. Hutan bakau dengan tipikal tegakan yang tinggi di negara-negara tropis dataran rendah seperti Indonesia, Malaysia, Brasil, dan Afrika Tengah yang memiliki stok karbon lebih banyak juga akan mengalami kehilangan karbon akibat konversi lahan. Sehingga, semakin lama waktu sejak dilakukannya konversi lahan, maka berdampak pula pada kehilangan karbon yang lebih besar.
  • Konversi bakau menjadi budidaya perairan, merupakan faktor pendorong hilangnya karbon stok total (83 persen dari biomassa dan 54 persen dari karbon tanah), diikuti oleh lahan sawah dan peternakan. Melakukan kerusakan lahan dan melakukan konversi hutan bakau akan menghasilkan emisi hampir 450 Mg karbon atau 1,652 CO2 per hektar. Ini berarti bahwa kehilangan satu hektar mangrove sama dengan kehilangan 3-5 hektar hutan tropis.
  • Pola fluktuasi perubahan gas rumah kaca tanah setelah dilakukannya konversi bakau masih belum jelas. Kami menduga bahwa masih terdapat kesenjangan ketersediaan data yang sangat besar untuk penilaian fluktuasi gas rumah kaca tanah di hutan mangrove. Sebagai contoh, kami menemukan tidak ada penelitian yang dilaporkan dari Afrika. Sedangkan flukstuasi gas rumah kaca dari tanah sangat bervariasi berdasarkan ruang dan waktu.

Dapatkah restorasi mangrove mengembalikan kehilangan karbon?

Meskipun karbon biomassa banyak terjadi gangguan, sebagian besar dapat pulih lebih cepat dan lebih tinggi setelah dilakukannya penghutanan kembali dibandingkan dengan karbon tanah. Ketika bakau dikonversi menjadi penggunaan lahan lainnya, kondisi tanah seringkali terdegradasi dan tanah menjadi padat – suatu kondisi yang tidak mudah untuk dipulihkan. Ini merupakan tantangan besar karena sebagian besar karbon di hutan bakau disimpan di bawah tanah (80 persen dari total cadangan karbon) dan sebagian besar proyek restorasi mangrove saat ini memiliki jangka waktu kurang dari 10 tahun.

Temuan kami juga menyoroti tingkat pemulihan cadangan karbon yang sangat tergantung pada lokasi bakau dan cara pendekatan restorasi. Untuk mendapatkan hasil restorasi yang lebih efektif, pemilik modal harus mulai memikirkan melakukan investasi dalam proyek restorasi mangrove yang memiliki jangka panjang, bukan investasi jangka pendek.

Di beberapa negara, hutan bakau dan ekosistem karbon biru lainnya dapat menjadi kandidat utama dalam pengelolaan emisi karbon. Daerah bakau yang sempit dengan implikasi emisi yang lebih besar, menjadikan isu hutan bakau masuk dalam agenda pengurangan emisi nasional, di bawah sektor emisi tanah, dapat membantu banyak negara mencapai target pengurangan emisi ketika terkena dampak LULCC.

Informasi yang dihimpun dalam praktik ini sangat diperlukan, terutama mengingat upaya global untuk menggunakan karbon biru – termasuk karbon yang tersimpan di dalam hutan bakau, terlebih dalam memenuhi target nasional untuk Kesepakatan Paris tentang perubahan iklim.

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Bacaan terkait Berita-berita