Bagikan
0

Bacaan terkait

Pulau Yamdena di kepulauan Tanimbar mempunyai tiga jenis hutan penuh dengan pohon-pohon berdaun lebar bernilai tinggi, namun terjadinya kerusakan merupakan ancaman bagi kesuburan tanah dan ketersediaan air di kepulauan ini.

Kepulauan Tanimbar merupakan bagian dari provinsi Maluku, berseberangan tepat di utara Darwin, Australia, antara perbatasan laut Banda dan Arafura. Wilayah ini tidak terhubung dengan satu pulau dengan pulau lainnya, Tanimbar juga tidak memiliki pelabuhan resmi, jumlah penduduk kurang lebih 100.000 kepala tersebar di 30 kepulauan di wilayah itu.

“Sangat mahal ongkos pergi dan bekerja di sana,” ujar Robert Nasi, Direktur Jenderal Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), yang bekerja sama dengan Yves Laumonier, peneliti CIFOR dan CIRAD (Pusat Penelitian dan Agronomi dan Pembangunan Perancis) melakukan monitoring kelestarian hutan di pulau-pulau itu sejak awal tahun 2000-an. “Kami pernah terjebak di Ambon saat semua penerbangan dibatalkan.”

Tertutupnya kepulauan Tanibar merupakan perisau mempertahankan tutupan hutan selama beberapa dekade, terutama setelah masyarakat lokal melakukan gerakan penolakan terhadap perusahaan-perusahaan penebangan kayu yang masuk saat era presiden Suharto.

Sayangnya, citra satelit terbaru menunjukkan timbulnya kembali deforestasi yang dapat mengancam kehidupan alam dan social kepulauan Tanimbar.

Menghadapi perkembangan yang tak dapat dihindari ini, Laumonier dan Robert Nasi menerbitkan artikel baru tentang penelitian yang menyerukan perlindungan nasional terhadap hutan yang terancam punah ini, perlunya lebih banyak riset kerapuhan hutan, dan pendekatan pembangunan yang akan mendukung tanah juga masyarakat kepulauan Tanimbar.

Saya khawatir jika mereka (perusahaan) menggunakan teknik penebangan yang sama seperti di Sumatera atau Kalimantan, hal itu tidak akan berjalan dengan baik mengingat kondisi ekologi yang berbeda sama sekali.

Yves Laumonier, Ilmuwan CIFOR

TETAP KERING

Fokus riset (saat ini seluas 3.300 kilometer) mencakup pulau terbesar, Yamdena, dan dibagi dalam tiga jenis hutan: lembab gugur, kering gugur dan hutan basah sepanjang tahun. Dipenuhi beberapa pohon kayu paling berharga di dunia – Pterocarpus indicus, lebih dikenal sebagai angsana atau sonokembang; dan Intsia bijuga atau merbau – flora asiatik hutan di Tanimbar mengarahkan para ilmuwan untuk percaya bahwa nenek moyang masyarakat berasal dari utara dan barat, dengan saudara-saudara musiman yang sudah ada di Jawa Timur, Flores, bagian utara Timor.

“Jika Anda berpindah dari satu tipe hutan ke tipe yang lain, Anda akan tahu. Agak sulit untuk diceritakan dengan data citra satelit, tetapi jika Anda berjalan di lapangan, Anda dapat melihat, terutama di musim kemarau,” kata Nasi. “Pepohonan terkering merontokkan semua daun-daunnya.”

Di bagian dunia yang lebih terbiasa dengan iklim lembab, kondisi gersang ini membuat bentang alam menjadi unik – dan menantang. Sumber air tawar berasal dari beberapa DAS utama yang memenuhi jaringan sungai kecil, yang bila kondisinya terganggu, dapat dengan mudah menyebabkan kelangkaan air bagi 40 desa. Mengingat dasar pulau Tanimbar berada di atas batu karang, maka hutan memainkan peran penting dalam pemeliharaan air dengan menahan air di tanah dan menjaga tanah di tempat selama badai tropis.

Karena kecenderungan tanah rentan terhadap erosi, tingkat pH basa dan berbatu, sulit untuk melakukan penanaman, tanah merupakan basis yang sangat sulit untuk pertumbuhan kembali. Sehingga bila lingkungan terganggu, sangat sulit untuk memulihkan dan merehabilitasi tanah.

“Di wilayah seperti Flores, Anda dapat melihat bentang alam seperti savana sekarang,” kata Laumonier, memberi analogi kondisi Yamdena. “Wilayah Flores jelas dulunya adalah hutan, kami memiliki catatan dari Belanda tentang hal itu. Tapi kondisi wilayah amat rapuh. Jika Anda menebang pohon dan melakukan praktik pertanian secara masif dengan membakar, kondisi semula tidak akan kembali. Hutan berubah menjadi semak lebat dan savana.”

“Dan di Tanimbar, Anda dapat melihatnya sebagai bukti kesalahan asumsi, saat status hutan Indonesia dan klasifikasi fungsi dibangun: bahwa ada lebih sedikit erosi terjadi di wilayah iklim yang lebih kering,” lanjutnya. “Ketika durasi hujan pendek namun intens, semuanya tersapu ke laut.”

Kekeringan membuat pemantauan tutupan hutan lebih mudah; bayangan awan jarang menghalangi citra satelit. Hal ini mengingatkan para ilmuwan ketika perusahaan datang sekitar tahun 2014 dan mulai menebangi sisi timur pulau.

“Saya khawatir jika mereka (perusahaan) menggunakan teknik penebangan yang sama seperti di Sumatera atau Kalimantan, itu tidak akan berfungsi dengan baik karena kondisi ekologi yang sangat berbeda,” kata Laumonier.

“Dan sekarang kita dapat melihat di satelit bahwa mereka (perusahaan) mulai masuk merambah daratan, mendekati sumber sungai utama. Lokasi itu benar-benar tempat terburuk untuk bekerja. ”

Keterpencilan pulau Tanimnbar menarik bagi perusahaan penebangan kayu, kata para ilmuwan, karena membuat operasi penebangan lebih aman, tersembunyi dari pengawasan. Dan, karena tidak ada kawasan hutan lindung nasional, teoritisnya hutan di pulau Tanimbar secara komersial dapat ditebangi semuanya.

   The local communities of Tanimbar still use traditional 'sasi' governance systems to manage their ecosystems. CIFOR Photo/Robert Nasi, Jean-Marc Roda
   The valuable Intsia palembanica tree, also known as Borneo Teak or Merbau. CIFOR Photo/Robert Nasi, Jean-Marc Roda

KERJA SAMA MASYARAKAT

Laumonier pertama kali terpesona oleh kepulauan Tanimbar ketika membaca tentang Pulau Terlupakan di Indonesia, sebuah buku foto tentang budaya Maluku oleh antropolog Nico de Jonge dan Toos van Dijk. “Saya tidak tahu mengapa, tapi itu seperti sebuah petualangan dalam pikiran saya,” kenangnya, “dan kemudian tiba-tiba saya di sana.”

Masa lalu Tanimbar dipadati dengan suku-suku pekerja pemburu kepala sampai misionaris datang pada akhir abad ke-19, dan budaya pelaut lokal diabadikan dalam konstruksi pemerintahan desa, dengan kepemimpinan sebagai kapten, pilot dan tangan kapal lainnya saat Anda turun pangkat.

Pengelolaan lahan dan air – terutama di wilayah pesisir – sebagian besar masih diatur oleh sistem sasi tradisional Maluku dari zona dan kuota pergiliran rotasi, atau oleh ‘sasi gereja’ yang sedikit berbeda di mana “Anda tidak didenda oleh nenek moyang, Anda didenda oleh gereja,” kata Laumonier. Ini adalah hubungan yang mendalam ke tanah yang telah membuat penduduk setempat sangat menentang perusahaan-perusahaan luar yang masuk.

“Kadang-kadang saya mendapat panggilan telepon dari para pimpinan desa setempat yang mengatakan bahwa perusahaan penebangan ingin kembali. Dan mereka bertanya apakah saya dapat memanggil Uni Eropa untuk mendapatkan bantuan,” tawa Laumonier.

Gencarnya kegiatan penebangan baru-baru ini dimulai di bagian pulau terpencil dan belum berkembang, menunjukkan bahwa sulit untuk tetap kebal terhadap manfaat pembangunan – terutama di wilayah miskin dan kurang penduduk. Poin utama artikel ini yaitu upaya menghambat pulau dari pembalakan dan pembangunan, tetapi menempatkan perlindungan di sekitar kawasan hutan kritis yang perlu dilindungi oleh hukum nasional.

Secara umum, artikel ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian karena Tanimbar telah berubah dan membutuhkan dukungan. Meski hutan musim tropis adalah salah satu bentang alam paling terancam di dunia, hutan jenis ini termasuk yang paling banyak diteliti.

“Untuk mengubah cara Anda melkukan penebangan disini, dibutuhkan lebih banyak penelitian tentang silvikultur, ekologi dan regenerasi hutan musim ini” kata Laumonier.

Ia dan Robert Nasi menganggap penebangan harus dilakukan terutama melalui usaha kehutanan berbasis masyarakat, dilakukan dalam skala kecil dengan menghormati batas-batas kawasan yang seharusnya dan tidak boleh ditebang, dan diperhitungkan kondisi tertentu. Mereka juga membuat keputusan untuk perencanaan penggunaan lahan di daerah-daerah penghasil pendapatan lainnya, seperti mangrove yang dapat dipertahankan dengan budidaya udang berkelanjutan.

Laumonier mengingat satu cerita yang menjadi pertanda baik bagi Tanimbar tentang seorang pria yang bekerja di penebangan di Papua, kemudian kembali dengan gergaji. Dia membuka usaha kecil di desanya, yang sekarang disebut oleh para ilmuwan sebagai ‘desa penebang kayu’ karena telah menjadi sangat terspesialisasi. “Dan mereka tidak ada hubungannya dengan perusahaan,” kata Laumonier. “Mereka pergi ke hutan, memotong beberapa pohon, membuat papan untuk pasar lokal.” Dengan sedikit bantuan, mereka dapat dengan mudah mengatur perdagangan mereka dengan Darwin, katanya, memungkinkan mereka untuk mencapai pasar yang lebih baik dalam satu atau dua hari menggunakan perahu, daripada seminggu atau lebih dibutuhkan untuk mencapai Surabaya.

“Dan bagi mereka, itu sudah cukup.”

Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Robert Nasi di R.Nasi@cgiar.org atau Yves Laumonier di Y.Laumonier@cgiar.org.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cifor-icraf.org