Bagikan
0

Bacaan terkait

Indonesia - Ekosistem pesisir yang kaya karbon meroket ke garis terdepan aksi global tentang perubahan iklim, dan istilah yang tidak bagus seperti “lautan plastik” dan “perang air” semakin membayangi masa depan sumber daya air dunia. Namun, pertumbuhan ekonomi berbasis laut – “ekonomi biru” – tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, hanya menyisakan pilihan untuk memanfaatkan ekspansi untuk membalikkan tren berbahaya dan melindungi kesehatan dan kekayaan ekosistem laut.

Sehubungan dengan fokus pada ekonomi biru pada Global Landscapes Forum Blue Carbon Summit pada 17-18 Juli, kami berbicara dengan Dr. Victor Nikijuluw, Direktur Senior Konservasi Internasional Indonesia dan mantan Direktur Jenderal di Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia , tentang apa arti istilah ini – atau, apa arti sesungguhnya- untuk masa depan global.

Wawancara ini telah diedit untuk konten dan kejelasan.

Bagaimana Anda mendefinisikan “ekonomi biru”?

Istilah ini muncul sekitar 10 tahun yang lalu, namun masih belum ada istilah yang diterima secara umum mengenai ekonomi biru. Saya katakan ekonomi biru adalah tentang kegiatan yang menghasilkan laba yang dimiliki atau dilakukan oleh penduduk setempat. Ini berkelanjutan, dan tidak terbatas pada sumber daya alam. Misalnya, ekonomi biru tidak terbatas pada perikanan dan budidaya air tetapi juga termasuk pariwisata, pertambangan, transportasi.

Penekanannya bukan pada investasi yang besar atau eksternal. Ini seharusnya bersifat lokal, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Ini bukan berarti ekonomi itu tradisional. Mereka dapat berorientasi ekspor, berkembang dengan baik, berbasis teknologi – tetapi harus berkelanjutan dan diarahkan pada masyarakat setempat. Setiap negara memiliki arti yang berbeda, dan beberapa negara tidak berkelanjutan – berbasis kelautan tetapi tidak biru. Sekali lagi, itu tergantung pada cara Anda mendefinisikan istilah. Tetapi saya dapat mengatakan bahwa sebagian besar biasanya berhuungan dengan dua aspek yang sangat penting ini: keberlanjutan dan penghidupan.

Mengapa ekonomi biru menjadi topik hangat saat ini?

Menurut saya nomor satu adalah karena kecenderungan kapitalisasi sumber daya alam. Investor besar datang dan memiliki peluang serta aksesibilitas – atau disediakan oleh pemerintah, terutama investor eksternal – untuk mengeksploitasi sumber daya dan meninggalkan penduduk setempat. Orang-orang yang sepenuhnya bergantung pada sumber daya tidak memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan sumber daya seperti yang dilakukan oleh orang asing. Pada dasarnya itu masalahnya.

Itulah salah satu alasan mengapa seluruh dunia, terutama di negara berkembang, pemerintah, dan masyarakat merasa sekarang saatnya bagi orang-orang untuk memikirkan aksesibilitas ke sumberdaya. Itu seperti yang saya katakan – ekonomi biru harus dimiliki oleh penduduk setempat. Jika tidak, maka itu bukan ekonomi biru.

Nomor dua, semua orang menyadari sekarang bahwa ada banyak masalah dalam sumberdaya itu sendiri – masalah polusi, degradasi sumberdaya, membuang sampah sembarangan dan penggunaan banyak sumber daya laut. Karena ini, saya dapat mengatakan bahwa dalam hal pembangunan ekonomi, semua orang menyadari bahwa jika kita tidak mengubah cara kita memanfaatkan sumberdaya, maka berbeda jauh dari sekarang ini, sumberdaya akan lenyap dan kita tidak akan memiliki apa-apa. Kita perlu menciptakan pendekatan lain untuk menggunakan sumber daya, seperti ekonomi biru dimana keberlanjutan memandu proses pemanfaatan atau eksploitasi sumber daya.

Dalam ekonomi biru, apa sajakah sumber daya dan sektor yang potensial untuk dikembangkan?

Budidaya harus dikembangkan. Nomor dua adalah bioprospecting, atau bagaimana Anda dapat memperoleh bahan kimia, obat-obatan atau zat penting lainnya dari keanekaragaman hayati dan sejumlah besar organisme yang kita miliki. Nomor tiga adalah air minum. Sebotol air mineral sangat mahal, lebih dari minyak tanah atau bensin saat ini di Indonesia. Anda pergi ke mana saja, bahkan Papua, dan air minum berasal dari Jawa Timur. Bisakah kamu bayangkan itu? Itu ekonomi yang buruk.

Sejauh ini tidak ada perusahaan multinasional swasta global yang memasuki industri ini, dan sulit untuk dikembangkan. Teknologi desalinasi adalah langkah pertama. Tetapi jika tidak didorong oleh investasi swasta, kami tidak dapat bergantung pada negara untuk hal seperti ini.

Kenapa tidak? Kerangka kebijakan apa yang bisa membantu pertumbuhan ekonomi ini, dan apa yang dibutuhkan?

Jika Anda memiliki kebijakan tingkat nasional, itu adalah dasar untuk semua kegiatan yang akan dilaksanakan di tingkat lokal atau regional. Namun, sesuai pengalaman saya, ini juga sulit.

Indonesia memiliki kebijakan nasional yang sangat baik, dengan peraturan dan rencana tahunan dan lima tahun. Namun kita tidak menerapkan kebijakan ini karena masalah kita. Ada kapasitas rendah untuk manajemen tingkat lokal untuk mengubah kebijakan nasional menjadi program nyata di lapangan. Dari perspektif keuangan, tidak ada insentif yang disediakan oleh pemerintah atau sistem perbankan bagi orang untuk berinvestasi dan mengembangkan dan menjalankan bisnis.

Dan infrastruktur. Kami tidak memiliki infrastruktur yang baik. Anda dapat menangkap banyak ikan di Indonesia bagian timur, tetapi kemudian Anda tidak memiliki fasilitas pemrosesan atau penyimpanan. Bahkan jika Anda mengembangkan pabrik, Anda tidak memiliki cukup listrik dan generator untuk menjalankannya.

Butuh waktu bagi provinsi untuk bekerja sama sepenuhnya dalam kerangka kerja nasional.

Di mana Anda melihat ekonomi biru yang diimplementasikan dengan baik di Indonesia?

Di Raja Ampat, tidak ada perikanan skala besar. Provinsi ini bergantung pada pariwisata dan perikanan skala kecil dan akuakultur. Lima belas tahun yang lalu, bupati juga membuat keputusan yang sangat bagus, dengan mengatakan dia meletakkan dasar bagi ekonomi jangka panjang dengan memilih pariwisata dan melarang penambangan. Dia tahu bahwa jika Anda melakukan penambangan, Anda akan mengacaukan pariwisata dengan sangat cepat, sehingga memutuskan untuk melarangnya sepenuhnya. Sangat sulit bagi masyarakat lokal untuk menghasilkan uang pada awalnya, karena pariwisata tentu saja membutuhkan waktu lama untuk berkembang, namun pada waktunya setiap orang kemudian mendapat manfaat. Mereka dapat terlibat langsung dalam ekonomi. Mereka datang dengan jumlah wisatawan yang optimal yang dapat memasuki Raja Ampat dalam setahun – sekitar 20.000 – dan tidak akan melampaui itu.

Namun di tempat lain, pemerintah berada di persimpangan jalan, memilih antara kegiatan ekonomi yang dapat menghasilkan banyak pemasukan atau melindungi penghidupan rakyat mereka. Itu tergantung pada perspektif para pemimpin dalam memutuskan jenis ekonomi apa yang ingin mereka gunakan. Subsistensi jangka pendek akan membawa dampak langsung dalam waktu singkat tetapi masalahnya kemudian.

Siapa yang memimpin percakapan global?

Afrika Selatan adalah yang pertama. Belanda dan Jerman juga, dengan menekankan akuakultur. Negara-negara Skandinavia juga sangat bagus dalam ekonomi biru, dengan salmon, tentunya. Australia, khususnya di bagian selatan – Tasmania.

Tetapi mereka bukan negara berkembang. Negara-negara berkembang tertinggal dalam mengimplementasikan budaya ekonomi biru.

Bagaimana ekonomi biru berlaku di laut lepas?

Untuk penangkapan ikan tuna di Samudra Hindia, ada sebuah organisasi, Komisi Tuna Samudra Hindia (IOTC), yang mencakup semua negara yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Untuk mengatur cara memanfaatkan sumber daya ikan di sana, mereka membuat kuota total untuk lautan, kemudian membaginya di antara negara-negara anggota.

Namun, misalnya, Indonesia mendistribusikan kembali kuotanya kepada investor skala besar dari Korea Selatan, Taiwan dan yang lain bukan dari Indonesia. Ini bukan ekonomi biru. Itu adalah investasi asing.

Bagaimana ekonomi biru berhubungan dengan ekonomi hijau?

Saya pikir perbedaan paling penting antara biru dan hijau adalah dalam keterlibatan dan partisipasi orang. Ekonomi hijjau menekankan keberlanjutan kelompok, sehingga mengorganisir petani atau pekerja perkebunan ke dalam kelompok besar. Ini tentang memproduksi banyak komoditas dan produk yang tidak diproses. Ekonomi biru tidak harus memproduksi banyak komoditas, tetapi menekankan teknologi yang dapat menghasilkan produk bernilai tinggi. Perbedaannya adalah: volume tinggi (ekonomi hijau) versus nilai tinggi (ekonomi biru).

Bagaimana hubungan ekonomi biru terkait dengan komitmen perubahan iklim, seperti Perjanjian Paris dan Tantangan Bonn?

Jika Anda mengembangkan ekonomi biru Anda dengan melibatkan masyarakat setempat dan mereka memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, maka Anda menyentuh adaptasi iklim. Saya tidak berbicara dalam jumlah, tetapi dari sudut pandang ilmiah dan logis, setelah Anda mengembangkan ekonomi biru, Anda mempertahankan mitigasi dan meningkatkan adaptasi.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Bacaan terkait Berita-berita