Analisis

The Giants Sucking Sound pada Impor Hasil hutan China

China menjadi vacuum cleaner hasil hutan. Selama 5 tahun terakhir, volume impor hasil hutan ke China melonjak lebih dari 2 kali lipat.
Bagikan
0

Bacaan terkait

China - Beberapa tahun lalu, Ross Perot, politisi Amerika Serikat yang eksentrik, membuat suatu istilah baru yaitu The Giants Sucking Sound. Istilah tersebut berkenaan dengan akan membanjirnya produk Mexico ke Amerika Serikat jika NAFTA (North American Free Trade Agreement) disetujui. Maksud dari istilah tersebut adalah bahwa Mexico akan bertindak seperti sebuah vacuum cleaner berukuran besar, di mana produk-produknya yang lebih murah akan memasuki Amerika Serikat dan mengisi pasar di sana.

Masalah tersebut di atas mirip dengan kasus impor hasil hutan ke China (yang dimaksud adalah pengaruh vacuum cleaner-nya). Selama 5 tahun terakhir, volume impor hasil hutan ke China melonjak lebih dari 2 kali lipat. Pada tahun 1999 impor hasil hutan meningkat hampir sebesar 2 milyar USD. Impor roundwood (kayu bulat) meningkat lebih dari 100%. Impor sawnwood (kayu papan) meningkat hampir mencapai 60%. Impor kertas dan bubur kertas meningkat melebihi 50%.

Walaupun China merupakan importir hasil hutan yang utama di tahun 1980-an, saat ini China mengimpor lebih dari 40% dari seluruh kayu komersiilnya.

4 faktor yang sangat mempengaruhi masalah di atas adalah :

1. Perekonomian China yang tumbuh sangat pesat.

2. The Chinese National Forest Protection Program (NFPP) sejak tahun 1997 membatasi produksi kayu tebang di dalam negeri sebesar 10 juta m3.

3. China menurunkan tariff impor atas hasil hutan, yang semula berkisar antara 40% s/d 50% turun menjadi 15%. Kebijakan ini dibuat dalam persiapannya memasuki WTO (tingkat tariff untuk kayu gelondongan dan kayu papan ditiadakan).

4. Industri kertas dan industri pengolahan hutan lainnya milik China yang tidak efisien tidak mampu bersaing dengan produk impor dari luar.

Pengaruh faktor-faktor di atas terhadap para pekerja dan lingkungan masih belum jelas. Pabrik-pabrik kertas yang telah beroperasi sejak lama mempekerjakan 700.000 pekerja China, yang pekerjaannya terancam seiring dengan meningkatnya import. Pada saat bersamaan, persaingan di luar negara China memaksa industri kertas dan bubur kertas di China untuk meningkatkan kualitas sistem dan peralatan sehingga dapat meminimalkan pencemaran air.

Rusia Timur Jauh merupakan importir baru dan yang utama bagi China, tetapi terlalu dini untuk menyatakan bahwa pertumbuhan eksport kayu ke Rusia akan mempengaruhi hutan-hutan di China. Telah disusun sebuah catatan hasil dari sebuah diskusi yang berjudul “WTO and Chinese Forestry : An Outline of Knowledge and Knowledge Gap”. Catatan tersebut disusun oleh Chanjin Sun dari Chinese Academy of Social Sciences. Catatan ini memberikan titik awal yang mendasari masalah ini. Changjin Sun secara khusus membahas tentang bagaimana masuknya China ke WTO dapat mempengaruhi impor hasil hutannya, tapi masalah tersebut disusun ke dalam konteks yang lebih luas.

 

(Visited 74 times, 1 visits today)
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org

Bacaan lebih lanjut

Anda dapat memperoleh salinan elektronik makalah tersebut di atas atau memberikan komentar dengan cara menghubungi Changjin Sun di : mailto:changjin@cinet.come.cn