Kolom DirJen

Perdebatan seputar pemanfaatan kayu

Pertengkaran jangka pendek tidak boleh membakar jembatan solusi bioenergi yang kita perlukan.
Bagikan
0
Direktur Jenderal CIFOR, Peter Holmgren, berpendapat bahwa pengelolaan hutan yang baik dapat berkontribusi dalam mendukung mata pencaharian jutaan orang. Foto: CIFOR
Direktur Jenderal CIFOR, Peter Holmgren, berpendapat bahwa pengelolaan hutan yang baik dapat memberikan energi penting untuk mendukung mata pencaharian jutaan orang. CIFOR

Bacaan terkait

Perdebatan panas internasional dan akademis, terutama di Eropa mengenai pemanfaatan besar-besaran kayu untuk menghasilkan energi tersulut kembali, bulan lalu. Ketika kita sepakat “Hutan dan Energi” sebagai tema Hari Hutan Internasional 21 Maret, memang belum terpikir peluang tepat untuk mengkomunikasikan bagaimana hutan dan biomassa dapat menghasilkan energi untuk menyangga kehidupan miliaran orang, dan secara bersamaan menjadi potensi masa depan cerdas-iklim.

Bioenergi adalah energi dari biomassa dan limbah. Proporsi bioenergi dalam campuran energi global dalam dekade terakhir sekitar 10% – dua kali lebih besar dibanding suplai energi nuklir dan lima kali hidroenergi, pada data dasar 2014. Mayoritas bioenergi berasal dari kayu dan tumbuhan, seringkali dalam bentuk produk sampingan pertanian atau produksi hutan. Sekitar 2,6 miliar penduduk miskin dunia (setara dengan 40% penduduk dunia) bergantung pada bentuk tradisional bioenergi untuk memasak, menghangatkan dan penghasilan, dan menjadi faktor utama penghidupan dan keamanan pangan dunia.

Sebelumnya kontroversi mengemuka soal kaitan antara biofuel dan keamanan pangan (lihat, misalnya, penelitian FAO, IFPRI, IIASA dan CFS). Biofuel cair, seperti etanol dan biodiesel hanya menyumbang sebagian kecil penggunaan bioenergi. Meski pemanfaatan biofuel cair meningkat di tahun-tahun terakhir ini, kontribusinya masih sekitar 0,5% dari seluruh konsumsi energi (lihat statistiknya di sini). Biofuel makin populer dalam kebijakan pemerintah, pertama untuk meningkatkan keamanan pangan domestik dan juga sebagai cara mengurangi dampak iklim. Biofuel cair khususnya bermanfaat dalam industri transportasi, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa biofuel memiliki manfaat iklim tak terduga. Namun, subsidi signifikan untuk produksi biofuel memicu pertanyaan terkait kompetisi yang tak setara dengan produksi pangan pada lahan yang cocok untuk pertanian. Hal ini berdampak pada harga pangan dan keamanan pangan. Argumen sosioekonomi, etik, dan  hak mengemuka pada Pertemuan Tingkat Tinggi Pangan 2008 di Roma. Kebijakan seputar biofuel cair masih dipertentangkan, meski ada harapan teknologi baru mampu mengolah stok alam non-pangan, seperti selulosa, dapat menjadi peluang baru.

Sejauh mana produksi pangan dapat menjadi faktor penghambat keamanan pangan, tentu saja dapat diperdebatkan. Melihat satu refleksi sejarah, dalam periode ketidakamanan pangan, kita menggunakan proporsi lahan dan produksi pertanian lebih tinggi daripada saat ini kita menyuplai transportasi – sebutlah, sapi dan kuda. Disebutkan bahwa, kebijakan subsidi untuk kebutuhan produksi biofuel yang tak menguntungkan agar bisa dipandang efisien, merupakan kompetisi tak adil bagi pangan.

Kontroversi baru mencuat soal penggunaan biomassa kayu untuk produksi energi skala besar, sebagai langkah mengurangi emisi gas rumah kaca. Skema kebijakan dan subsidi tingkat tinggi, misalnya oleh Uni Eropa, menjadi pusat perhatian.

Pada sebuah artikel tahun 2013 The Economist, menyatakan bahwa keputusan politik untuk meningkatkan biomassa dalam campuran energi UE menyebabkan kekacauan pasar kayu, antara lain meningkatkan kompetisi dengan industri hutan tradisional. Dikemukakan pertanyaan, apakah bijak memanfaatkan uang pajak untuk memodali pengembangan ini. Memperberat pertimbangan atas efisiensi subsidi, artikel ditutup dengan menyatakan bahwa energi kayu lebih buruk daripada batu bara terkait dampak langsung pada iklim, dan rujukannya dibuat berdasarkan landasan ilmiah. Sub-judul artikelnya adalah “Kegilaan lingkungan di Eropa.” Catatan bahwa hal ini lebih “kotor dibanding batubara” diperkenalkan dalam makalah advokasi Masyarakat Perlindungan Burung Inggris Raya, dan menjadi argumen yang digunakan media.

LSM besar lain juga mengkritisi biofuels dan bioenergi, termasuk World Resources Institute (WRI). Argumennya mencakup keamanan pangan hingga kecilnya manfaat iklim. Munculnya kecenderungan menggeneralisasi dan mempolitisasi – kekhawatiran “kompetisi global atas lahan” dan “pengalokasian lahan untuk bioenergi” menunjukkan adanya asumsi besar sebuah tujuan tunggal hingga membangun dikotomi keliru antara bioenergi dan manfaat berbasis lahan lain.

Kemudian, sebulan lalu, sebuah laporan Chatham House memicu kembali perdebatan. Seperti masukan sebelumnya, laporan menyatakan, skema subsidi UE adalah sebentuk pemanfaatan yang buruk dari uang pajak, mengabaikan manfaat iklim, dan bahwa pemanfaatan kayu untuk keluarga umumnya tidak berkelanjutan dan seharusnya tidak dikategorikan sebagai energi terbarukan. Laporan itu ditentang oleh 125 penandatangan sebagai respon dari Badan Energi Internasional. Penandatangan menyatakan bahwa analisis dan asumsi yang digunakan  salah, berdasarkan pada sedikitnya tiga pertimbangan utama. Perdebatan kemudian terus melibatkan akademisi, aktivis dan pengambil kebijakan.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari panasnya perdebatan ini? Pertama adalah kesan mengejutkan bahwa media dan institusi kredibel, mengambil posisi terpolarisasi terhadap bioenergi. Adakah jalan merekonsiliasi pandangan ini agar mendukung masa depan lestari dan cerdas iklim?

Jelas bahwa perdebatan bioenergi membutuhkan perspektif lebih luas dan berjangka panjang. Fokus hanya pada skema subsidi dan penghitungan emisi gas rumah kaca untuk mencapai target kebijakan beberapa tahun ke depan saja tidak memberi gambaran holistik masa depan yang kita citakan. Jika kita, misalnya, ingin mewujudkan masa depan bebas fosil, emisi nol-bersih lebih jauh, kita perlu melihat bagaimana sistem biologis bisa terus mensuplai pangan dan energi secara terintegrasi. Dan lebih jauh lagi, kita tidak dapat menangani emisi secara terpisah-pisah, tetapi harus membangun jalan di mana manfaat iklim berdampingan dengan peningkatan kesejahteraan dan keamanan pangan bagi masyarakat miskin dunia. Oleh karena itu kita perlu menerima bahwa bioenergi akan berperan besar di masa depan. Dan kita perlu mengakui potensi besar pengembangan teknologi dalam melayani ekonomi berbasis-bio, di mana energi akan menjadi produk sampingan penting. Aspek ini telah didiskusikan pada lokakarya internasional di CIFOR baru-baru ini.

Kita tidak dapat mengatasi emisi dengan cara mengisolasi, tetapi harus menemukan cara agar manfaat iklim berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan dan ketahanan pangan untuk kaum miskin di dunia.

Peter Holmgren, Direktur Jenderal CIFOR

Ada satu argumen umum, lebih baik membiarkan pohon tegak daripada membakarnya. Gagasan ini sangat menarik, namun hanya benar dalam horison waktu singkat, dan ini juga jika Anda tidak melihat hutan untuk pohon semata. Implikasi tata kelola hutan antara lain berarti bahwa produktivitass hutan dijaga, seiring menjaga produk pohon berkelanjutan untuk berbagai kegunaan, termasuk energi sebagai produk penting. Hal ini dapat mengarah pada hasil jangka panjang yang luar biasa. Di Swedia, tegakkan biomassa hutan berlipat dua dalam 100 tahun, dan panen berkelanjutan juga berlipat dua. Oleh karena itu, kehutanan aktif dapat menghasilkan sekuestrasi karbon lebih banyak, energi berkelanjutan lebih besar, dan nilai ekonomi lebih tinggi, secara simultan! Hal tersebut adalah jenis tujuan dan perspektif jangka panjang yang perlu kita bangun daripada meributkan dampak kebijakan jangka pendek.

Dinyatakan bahwa terdapat pula isu problematis bentuk tradisional bioenergi seperti kayu bakar dan arang. Mungkin yang tercatat adalah masalah kesehatan akibat polusi udara dalam ruangan, yang dikaitkan pada sekitar 4,3 juta kematian dini pada 2012 – tingkat bencana yang mengerdilkan konsekuensi saat ini atau prediksi masa depan keseluruhan perubahan iklim.Terlebih lagi, kondisi kerja bioenergi tradisional dalam rantai nilai, seperti arang, seringkali lemah dan berisiko. Panen tak berkelanjutan sumber daya kayu untuk bioenergi mengarah pada degradasi lahan di sebagian negara. Emisi jelaga dan polutan dapat membahayakan masyarakat. Ini semua merupakan masalah serius yang harus – dan dapat – ditangani, tetapi dalam pandangan saya, tidak boleh digunakan untuk mengutuk bioenergi dan energi kayu sebagai campuran penting dalam sistem energi lestari dan pemanfaatan lahan terintegrasi.

Kita perlu menyeimbangkan visi jangka panjang dan holistik bagaimana hutan dan pohon dapat meningkatkan penyediaan energi terbarukan, bersih, efisien dan modern, dalam mendukung penghidupan dan keberlanjutan masa depan dunia. Inilah bagian terbesar dari solusinya.

(Visited 127 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org