Analisis

Pembangunan berkelanjutan: Romansa, retorika dan realitas

Pendekatan teknis dan berorientasi-kebijakan ini diperlukan, tetapi apakah mereka cukup untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan?
Bagikan
0
Petani lokal berjalan di antara kebun sawi siap panen di dataran rendah, bersebelahan dengan taman nasional Gunung Gede Pangrango. Ricky Martin/CIFOR

Bacaan terkait

Sejalan makin dekatnya waktu mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (2015) pasca-2015, ilmuwan makin menyuarakan pada entitas pemerintahan, publik, dan swasta berfokus pada bagaimana mencapai tujuan tersebut. Seperti saya yang terpanggil untuk berkontribusi dalam debat ini, pikiran saya bergerak pada beberapa acara yang saya hadiri karena sebagian riset saya terkait dengan pembangunan ekonomi, konservasi lingkungan, dan masyarakat lokal.

Pertama di Lima, Peru—lokasi COP terbaru —  pada Mei 2010, ketika ratusan aktivis dan akademisi berkumpul untuk mendiskusikan beragam krisis—ekonomi, politik, sosial dan lingkungan—yang kita berada di dalamnya, dan membayangkan model alternatif pembangunan yang mungkin. Pertemuan dimulai dan diakhiri dengan beberapa ritual merayakan dan menghormati kekayaan alam, serta menyoroti bagaimana manusia terikat erat, bergantung dan bersinambung berkat anugerah alam. Peserta memasukkan beragam koleksi warna-warni petani miskin, perempuan desa, masyarakat asli, serta kelompok gay dan lesbian.

Dimasukkan pula diskusi panel, lokakarya, dan eksibisi masalah dan kerusakan akibat pertambangan dan deforestasi. Pada saat yang sama, mereka menyerukan perhatian bagi pembangunan seperti sekolah, reformasi lahan, pemeliharaan kesehatan, dan perumahan, serta demokrasi dalam arti kesamaan hak, akuntabilitas politik, dan partisipasi masyarakat bagi asmua orang Peru di negara yang tengah berjuang menghadapi kekerasan dan masa lalu represif.

Beberapa pekan kemudian, Juni 2010, ada selebrasi lingkungan di Bogota, Kolombia. Selebrasi ini, menghormati Tahun Internasional Keragaman Hayati, disponsori beragam entitas seperti Bank Dunia, Uni Eropa, beberapa lembaga pemerintah dan non-pemerintah Kolombia, universitas, dan perusahaan swasta. Hubungan antara bumi dan manusia juga disorot dan dirayakan pada acara ini melalui beragam aktivitas tersebar dalam tiga hari. Ada presentasi oleh intelektual nasional dan internasional, penampilan musisi terkenal dan grup musik rock populer, serta beberapa eksibisi proyek pembangunan dan konservasi.

Stan terbesar dan paling menarik adalah milik perusahaan minyak dan pertambangan. Tampilan stan menunjukkan bagaimana aktivitas mereka mengarah pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan manfaat bagi negara, dunia dan kelompok lokal termasuk komunitas etnis di wilayah operasi perusahaan. Aktivitas pertambangan digambarkan sebagai kendaraan bagi masyarakat untuk merasakan pembangunan, dalam hal ini jalan-jalan, sekolah, perumahan dan pelayanan kesehatan.

Walaupun dua acara tersebut berbeda dalam tujuan dan format, peserta kedua acara menyerukan “pembangunan berkelanjutan” sebagai solusi masalah sentral abad 21. Pada pameran di Bogota, jalan menuju pembangunan berkelanjutan dipahami secara luas dalam konteks ilmu pengetahuan, teknologi, dan modernisasi dengan penekanan pada globalisasi ekonomi melalui perdagangan dan pasar bebas. Formulasi ini dipertanyakan pada pertemuan Lima, ketika peserta menyeru pada dampak ketidakadilan pertambangan dan ekstraksi sumber daya alam lain berdasar aktivitas ekonominya.

Banyak ilmuwan dan proyek pembangunan termasuk satu yang saya terlibat dalam CIFOR (SLANTHutan, Keamanan Pangan dan NutrisiLanskap), berfokus mengintegrasikan pendekatan berbeda tersebut untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Pendekatan teknis dan berorientasi-kebijakan ini diperlukan, tetapi apakah mereka cukup untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan? Saya tidak yakin. Apa yang saya yakini menerapkan ilmu pengetahuan berarti memberi pertanyaan sulit mengenai realitas kompleks kita.

Dalam hal ini, artinya secara kritis menginterogasi romansa dan retorika terkait pembangunan berkelanjutan dan memahami mereka dalam konteks politik dan sejarah. Hanya dengan itu kita bisa menilai apakah metode dan teknik kita layak untuk tantangan utama era kita – mencapai SDGs.

Catatan editor: Tulisan ini aslinya tampil di situs-web CGIAR.

Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cifor-icraf.org