Bagikan
0

Bacaan terkait

BOGOR – Tanaman pertanian, hutan, ikan, hewan dan mikro-organisme – dalam lingkup bio-ekonomi merupakan materi-materi dasar, bahan kimia dan energi – mulai dari etanol hingga suplemen omega-3.

Meningkatnya perhatian dari berbagai organisasi internasional dan pemerintah akan upaya pengalihan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan sumber daya tidak terbarukan lain-lain menuju arah berkelanjutan, peran bio-ekonomi tak luput dari kritikan. Menurut para ahli, biomassa yang dikirim oleh negara eksportir mempunyai dampak negatif terhadap ekosistem di negara importir.

“Bio-ekonomi tumpang tindih dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau dalam banyak hal, meski hal itu bertujuan “memadukan” ekonomi global melalui penciptaan produk bernilai tambah dan menerapkan prinsip-prinsip biologis di sektor-sektor yang secara tradisional bergantung pada sumber daya tidak terbarukan,” ungkap Jan Börner, ahli ekonomi pertanian dan profesor Ekonomi Pemanfaatan Lahan Berkelanjutan dan Bio-ekonomi dari Universitas Bonn Jerman dan mitra senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

EMPAT JALAN TRANSFORMASI

Penelitian Börner dan tim bertujuan melihat potensi berbagai peluang dan trade-off dari transisi berbasis bio berkelanjutan dalam skala global. Dalam publikasi kebijakan terbaru, dilaporkan usulan empat jalur transformasi bio-ekonomi bagi negara berkembang: mengganti bahan bakar fosil dengan biofuel; membuat pertanian lebih efisien dan produktif; daur ulang limbah dari produk seperti minyak sawit atau tebu; dan meningkatkan nilai sumber daya alam melalui teknologi dengan menggunakan selulosa kayu untuk produksi pakaian atau bahkan untuk memperbaiki tulang manusia yang patah.

“Negara berkembang masih cenderung menggunakan lebih banyak biomassa tradisional daripada produk industri,  dengan cara yang tidak efisien dan tidak berkelanjutan – misalnya pemakaian bahan bakar kayu atau arang untuk pemanasan dan memasak,” kata Börner. “Dalam hal ini transformasi berkelanjutan diperlukan keterlibatan penggunaan biomassa yang efisien atau beralih ke bentuk non-biomassa dari energi terbarukan.”

Di sisi lain transisi menuju pendekatan bio-ekonomi di negara industri memerlukan penggunaan biomassa lebih banyak – namun belum tentu diperlukan lebih banyak konsumsi biomassa.

“Di negara industri, peran ekspansi biomassa dilakukan bukan dalam format makanan atau produksi kayu, namun melalui pengembangan produk dan proses bernilai lebih tinggi seperti daur ulang limbah biomassa termasuk penerapan prinsip-prinsip biologis bagi penggunaan material dan produksi energi,” kata Börner.

Lantas faktor apa saja yang diperlukan untuk memanfaatkan potensi besar bio-ekonomi global bagi negara berkembang dan negara industri? Menurut riset diperlukan kebijakan yang membantu mengangkat hambatan institusional dan teknis terhadap transfer pengetahuan di negara berkembang, melalui kerja sama kemitraan antara pemerintah dan masyarakat sipil guna pelaksanaan perlindungan sosial dan lingkungan di seluruh rantai nilai internasional.

JEJAK NON-PANGAN

Kebutuhan untuk menyesuaikan sistem pemerintahan dengan realitas baru bio-ekonomi dapat dilihat dengan jelas dalam konteks ekonomi non-pangan, tambah Börner. Jan Börner merupakan bagian tim yang saat ini tengah mengembangkan pendekatan baru pengukuran “jejak lahan pertanian” di Uni Eropa khusus untuk isu biomassa non-pangan.

“Kami telah menyuarakan isu pangan selama beberapa dekade, namun penggunaan biomassa non-makanan semakin menarik dari perspektif bio-ekonomi,” katanya. “Anda dapat melakukan lebih banyak dengan biomassa daripada membakarnya.”

Biomassa yang digunakan untuk bahan atau energi – seperti kosmetik dan parfum, suplemen makanan, deterjen, produk pembersih, tekstil dan bioplastik – adalah sumber permintaan terprogresif yang berasal dari lahan pertanian di seluruh dunia, dan peminat paling banyak berasal dari Cina, Eropa dan Amerika Serikat.

“Eropa merupakan penentu penting perkembangan global sebagai salah satu konsumen terbesar biomassa non-makanan dengan ketergantungan tinggi terhadap wilayah dunia lain – lain, termasuk Asia sebagai penyedia bahan,” kata Börner.

Para peneliti melakukan analisa perkembangan permintaan lahan di seluruh Eropa antara tahun 1995 dan 2010 di lihat dari perspektif penggunaan lahan (penggunaan lahan pertanian untuk tujuan non-pangan), industri (lahan pertanian dalam bentuk produk pertanian yang digunakan untuk industri manufaktur non-makanan) dan konsumsi (lahan pertanian dalam bentuk penggunaan terakhir dari produk non-makanan).

Dengan mengadaptasi model input-output multi-regional yaitu metode umum yang digunakan untuk menilai pola perdagangan global, para ilmuwan menghitung jejak tanah yang dihasilkan oleh bio-ekonomi non-pangan. Dengan memetakan permintaan lahan khusus tanaman, para peneliti mengidentifikasi hotspot konsumsi global untuk lahan pertanian yang diwujudkan dalam produk non-pangan berbasis-bio.

“Model ini memungkinkan kami mempelajari sejumlah besar produk dan permintaan sumber daya yang digunakan jangka waktu yang panjang,” kata Börner.

Hasil riset menunjukkan, meski merupakan wilayah penghasil terbesar kelima, Uni Eropa adalah kawasan konsumen nomor satu di lahan pertanian non-pangan, dan dua pertiga dari lahan pertanian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan Pertanian non-pangan di wilayah lain di dunia. Bagian terbesar dari jejaknya – hampir 29 persen pada tahun 2010 – adalah produksi biji minyak yang digunakan untuk biofuel, deterjen, polimer, dan produk lainnya. Serat tanaman (untuk tekstil) dan kulit dan kulit binatang (untuk produk kulit) juga merupakan bagian yang signifikan.

WILAYAH YANG BELUM DIPETAKAN

Para ilmuwan juga menyoroti peningkatan permintaan global akan bahan baku bio-ekonomi yang dapat menyebabkan kelangkaan air dan polusi nutrisi, peningkatan laju deforestasi di daerah tropis dan pemanasan gas rumah kaca. Tekanan membuka lebih banyak lahan pertanian di negara berkembang dapat menggusur masyarakat karena tidak jelasnya kepemilikan lahan, mengarah pada komodifikasi lahan dan tanaman pangan. Terjadinya perubahan iklim juga dapat mengancam produksi di negara berkembang, membuat ekonomi yang sangat bergantung pada impor rentan terhadap kendala pasokan.

Beradaptasi dengan tata kelola untuk mengakomodasi rantai nilai yang lebih kompleks menjadi krusial guna menghindari potensi dampak negatif menurut para peneliti. Hasil riset meraka memiliki implikasi inisiatif seperti Strategi Bio-ekonomi Komisi Eropa.

Peneliti juga menyoroti dampak pergeseran geografis terhadap produksi biomassa pertanian non-pangan dari Amerika dan Asia Tenggara ke benua Afrika dengan kapasitas tata kelola yang lebih rendah dapat membuat rumit mekanisme tata kelola rantai nilai, termasuk beberapa skema sertifikasi, yang bergantung pada pemantauan sosial dan lingkungan atau hukum nasional. mekanisme penegakan.

Tetapi dampak negatif dapat dihindari dengan mengambil sumber dari wilayah dunia dengan kondisi produksi sosial dan lingkungan yang menguntungkan.

“Penelitian ini merupakan salah satu langkah menuju membuat aliran biomassa global agar dapat dilacak sehingga pada akhitnya dapat memberi informasi nol deforestasi dan inisiatif konsumen lain-lain,” tambah Börner.

SKENARIO MASA DEPAN

Penelitian ini adalah bagian dari proyek tentang hutan dan bio-ekonomi, didanai oleh Kementerian Federal Jerman untuk Pembangunan Ekonomi dan Kerjasama. Para ilmuwan juga sedang menyelidiki dua skenario masa depan bio-ekonomi: efek potensial dari peningkatan konsumsi bioplastik terhadap perubahan penggunaan lahan skala global termasuk bagaimana peningkatan permintaan biomassa hutan di Eropa dan secara global dapat mempengaruhi hutan tropis.

“Ada dua hal penting keterlibatan hutan dalam bio-ekonomi,” kata Börner. “Salah satunya yaitu kerusakan hutan akibat peningkatan deforestasi karena tingginya permintaan pembukaan lahan pertanian; dimana hutan merupakan pendukung bio-ekonomi, misalnya bagaimana menyelamatkan hutan alam melalui efisiensi penggunaan biomassa. Melalui penelitian ini, kami berharap lebih terjadi solusi di masa mendatang. ”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Jan Börner di jborner@uni-bonn.de.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Bacaan terkait Berita-berita