Pongamia: Manfaat-Manfaat Potensial untuk Restorasi dan Bioenergi di Indonesia

Jenis pohon cepat tumbuh yang menawarkan berbagai kegunaan di berbagai sektor
, Thursday, 8 Apr 2021
Peternak lebah bekerja di lahan yang ditanami dengan sistem agroforestri – Alpinia galanga dan lebah madu di Hutan Riset FORDA Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Indonesia. Foto oleh: Yusuf Bahtimi

Jenis ini tumbuh di wilayah yang membentang luas di  Asia dan Pasifik – dari India di bagian barat hingga Fiji di bagian timur – dan dikenal dengan sejumlah nama lokal, seperti contohnya Indian Beech, pongam, pohon karum, kranji, dan malapari.

Pongamia pinnata adalah jenis pohon polong-polongan yang tumbuh cepat dan berkanopi lebar dan merupakan anggota dari famili kacang polong, yang tumbuh setinggi sekitar 15 hingga 20 meter (50 hingga 65 kaki) dan secara tradisional digunakan sebagai kayu bakar, pakan ternak, naungan, dan untuk pengayaan tanah. Bijinya yang berwarna coklat kemerahan yang tumbuh di polong coklat tua dapat menghasilkan minyak berwarna oranye saat ditekan, dan telah dimanfaatkan selama berabad-abad dalam proses-proses seperti penyamakan kulit dan pembuatan sabun; sebagai pelumas; dan secara medis sebagai salah satu bahan untuk mengobati penyakit kulit dan hati.

Sekarang, dengan dukungan dari National Institute of Forest Science (NIFoS) Republik Korea, para ilmuwan di Center for International Forestry Research (CIFOR) dan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (FORDA) mengeksplorasi potensi pohon tersebut untuk mengatasi masalah-masalah penting masa kini di seluruh kepulauan Indonesia seperti restorasi bentang alam, bioenergi, dan mata pencaharian yang berkelanjutan.

Kebutuhan energi di Indonesia semakin meningkat – dan saat ini sebagian besar dipenuhi melalui minyak bumi. Negara ini telah beralih dari negara pengekspor minyak bumi ke pengimpor minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir. Mengingat pola konsumsi pada saat ini pada tahun 2030 diperkirakan cadangan alamnya akan habis dan tidak dapat memenuhi permintaan yang ada.

Untuk mengatasi masalah ini, kebijakan energi nasional pemerintah mendukung sumber energi baru dan terbarukan seperti bioenergi, yang diharapkan dapat memenuhi hingga 23 persen dari kebutuhan energi nasional pada tahun 2025, dan 31 persen pada tahun 2050. Namun demikian, pengembangan banyak tanaman bioenergi yang potensial – seperti kelapa sawit, jagung, dan kedelai – mengalami hambatan karena ketergantungan tanaman-tanaman tersebut pada tanah subur, yang juga bisa digunakan untuk bercocok-tanam.

Terlepas dari kekhawatiran-kekhawatiran ini, pongamia dapat tumbuh subur di lahan marjinal dan tidak akan bersaing dengan produksi pangan,” menurut Himlal Baral, ilmuwan senior dalam program Hutan dan Lingkungan CIFOR.

“Ini adalah solusi yang saling menguntungkan bagi manusia dan  bumi – menanam pongamia di lahan yang terdegradasi dan kurang dimanfaatkan tentunya merupakan strategi penggunaan lahan yang lebih baik, mengingat potensinya untuk meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan produksi dan pendapatan pertanian, keanekaragaman hayati, sekaligus mendukung iklim dan tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan,” kata Baral.

Mixed agroforestry farming system with pongamia

Pongamia terlihat tumbuh di areal lahan marjinal yang ditanam dengan sistem agroforestri, campuran Alpinia galanga dan lebah madu di Hutan Riset FORDA Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Indonesia. Kredit: Yusuf Bahtimi

Namun perdebatan terus berlanjut seiring dengan upaya negara untuk memulihkan 14 juta ha lahan terdegradasi, yang mencakup 2 juta ha lahan gambut terdegradasi dan 12 juta ha bioma lainnya, sebagai bagian  mitigasi emisi dari Kontribusi yang ditetapkan secara nasional (NDC) untuk Kesepakatan Paris PBB tentang Perubahan Iklim, pertanyaan tentang spesies yang mana yang akan ditanam menjadi topik yang hangat. Pohon cepat tumbuh yang dapat tumbuh di lahan yang terdegradasi dan tidak subur, dan menawarkan banyak manfaat di berbagai rentang waktu, mungkin akan menjadi populer – jika memenuhi gambaran-gambaran tersebut.

Keunggulan bagi energi, lingkungan, masyarakat. . . dan makanan?

Para rimbawan di seluruh dunia telah belajar dari pengalaman bahwa jika fokus potensi restorasi hanya pada spesies tertentu saja akan dapat merusak dalam jangka panjang. Tanpa adanya manfaat yang nyata dalam waktu yang sesuai bagi masyarakat lokal dan petani kecil,  maka hanya akan ada sedikit insentif bagi para pemangku kepentingan penting ini untuk menanam pohon, merawatnya saat pohon tersebut tumbuh, dan memutuskan untuk membiarkannya tetap berdiri dibandingkan dengan membersihkannya untuk diubah menjadi lahan pertanian dan pembangunan. “Jadi kita harus menemukan sistem kehutanan yang memiliki manfaat yang jelas bagi orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ini – dan mereka juga dapat mengelolanya sendiri,” kata Jino Kwon, peneliti senior di NIFoS di Dinas Kehutanan Korea Selatan, yang diperbantukan kepada CIFOR untuk meningkatkan kolaborasi antara NIFoS, CIFOR, FORDA dan lembaga penelitian kehutanan Indonesia.

Kebutuhan akan pohon yang tepat di tempat yang tepat untuk tujuan yang benar dengan manfaat ekonomi yang nyata adalah salah satu alasan mengapa pongamia menarik minat para ilmuwan dari CIFOR dan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (FORDA). Spesies ini merupakan salah satu pohon asli yang tumbuh paling cepat di kepulauan Indonesia, ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari permukaan laut hingga ketinggian sekitar 1.200 meter; ia tumbuh subur di tanah yang rusak, dan meningkatkannya dengan memperbaiki nitrogen; dan minyak yang dihasilkannya memberikan janji sebagai sumber energi nabati yang berkelanjutan – selain juga sebagai produk pangan potensial.

This image has an empty alt attribute; its file name is 20200923_093331-832x415.jpg

Pongamia terlihat tumbuh di areal lahan marjinal yang ditanam dengan sistem agroforestri, campuran Alpinia galanga dan lebah madu di Hutan Riset FORDA Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Indonesia. Kredit: Yusuf Bahtimi

Dalam upaya untuk memahami bagaimana para rimbawan dan produsen bahan bakar bisa mendapatkan hasil maksimal, para ilmuwan pertama-tama menilai kandungan minyak pohon pongamia dari tiga asal yang berbeda di Jawa. “Sekarang, kami melanjutkan penelitian untuk mendapatkan variasi kandungan minyak antar individu pohon,” kata Budi Leksono, profesor di FORDA, dan penulis utama makalah yang akan diterbitkan mengenai kerja tim CIFOR di daerah tersebut, “karena sangat berbeda dari satu pohon ke pohon yamg lain. ” Mereka juga menguji coba beberapa metode ekstraksi yang berbeda-beberapa di antaranya menghasilkan 15 hingga 20 persen lebih banyak dibandingkan proses ekstraksi mekanis tradisional.

Proyek lain saat ini adalah perkebunan pongamia di lahan gambut terdegradasi dan bekas lahan pertambangan di Kalimantan Tengah. “Kami menanamnya setahun yang lalu, dan sejauh ini pertumbuhannya lebih cepat dibanding spesies sejenis lainnya,” kata Leksono. “Ini menunjukkan bahwa mereka mungkin sangat toleran terhadap kondisi yang sulit, dan mungkin nantinya akan sangat menjanjikan untuk restorasi dan rehabilitasi lahan terdegradasi.” Tahun ini, tim tersebut akan mulai menguji coba perkebunan di wilayah Gunung Batur yang kering dan tinggi di Bali, serta di pulau-pulau Nusa Tenggara, untuk mengamati bagaimana spesies ini berkembang dalam kondisi iklim dan lingkungan yang berbeda.

This image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-04-01-at-00.20.39-832x415.jpg

Penanaman Pongamia di lokasi bekas tambang batu bara di Kalimantan Tengah, Indonesia. Foto oleh: Siti Maimunah

Mereka juga sedang mencari tanaman lain yang dapat ditanam secara simbiosis di dalam perkebunan pongamia seperti kopi, untuk lebih melengkapi ketahanan pangan dan mata pencaharian masyarakat lokal. “Kita perlu meneliti ke mana akar Pongamia melebar, dan menguji apakah spesies lain ini akan membantu atau bersaing dengan mereka,” kata Kwon.

Para ilmuwan juga telah mengeksplorasi manfaat berharga yang potensial dari pongamia itu sendiri, yaitu makanan. Secara tradisional, orang menghindari makan biji atau minyaknya, karena rasanya yang pahit, baunya yang menyengat, dan toksisitasnya yang rendah. Namun, jika bijinya telah diolah dan diproses sebelumnya, akan menghasilkan tepung yang lezat dan bergizi tinggi yang dapat digunakan dalam berbagai produk olahan. “Saya sendiri belum mencobanya,” Leksono mengakui, “tapi dalam uji coba, semua orang mengatakan enak!”

Para peneliti berharap berbagai manfaat yang ditawarkan pohon ini akan mendorong penggunaan dan perlindungannya dalam jangka panjang – dan kehadirannya akan membantu komunitas lokal untuk berkembang. “Tugas kami adalah menyeimbangkan alam dan manusia secara berdampingan,” kata Kwon; “Hal ini bukan untuk menjauhkan orang dari hutan, tetapi memastikan adanya kesempatan-kesempatan yang bagus bagi mereka untuk hidup berdampingan di dalam ekosistem tersebut.”

Riset ini didukung oleh National Institute of Forest Science (NIFoS) Republik Korea.

For more information on this topic, please contact Himlal Baral at h.baral@cgiar.org.
This research forms part of the CGIAR Research Program on Forests, Trees and Agroforestry, which is supported by CGIAR Fund Donors.
Copyright policy:
We want you to share Forests News content, which is licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). This means you are free to redistribute our material for non-commercial purposes. All we ask is that you give Forests News appropriate credit and link to the original Forests News content, indicate if changes were made, and distribute your contributions under the same Creative Commons license. You must notify Forests News if you repost, reprint or reuse our materials by contacting forestsnews@cgiar.org.