Podcast

Karbon di piring anda: Hutan bakau dan akuakultur

Mendukung perlindungan bakau di tengah pertumbuhan produksi udang
Bagikan
0
Udang dari air berlumpur hutan bakau di Kubur Raya, Kalimantan Barat. Foto oleh: Kate Evans/CIFOR.

Bacaan terkait

Berbau dan penuh dengan nyamuk, hutan bakau dapat dengan mudah dilupakan dan tersisih. Merujuk hasil riset di ekosistem pesisir ini, setiap hektar bakau dapat menyimpan karbon tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan ekosistem hutan terestrial, menjadikan hutan bakau sebagai komponen utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

“Ini bukan tempat ideal untuk bekerja,” kata Daniel Murdiyarso, sambil tertawa mengingat kondisi menantang yang ia hadapi selama 30 tahun berdedikasi melakukan riset tentang hutan mangrove di 25 negara.

Menurut Murdiyarso, peneliti senior di CIFOR, fungsi ekosistem hutan bakau seringkali diremehkan sehingga membuka kesempatan pada kegiatan deforestasi seperti pembukaan lahan untuk pertanian, infrastruktur, dan akuakultur. Di Asia Tenggara misalnya, lebih dari 100.000 hektar hutan bakau telah dikonversi antara tahun 2000 dan 2012. “Sudah saatnya untuk menyerukan moratorium deforestasi hutan bakau,” kata Murdiyarso.

Dengarkan diskusi oleh Peneliti Senior CIFOR Daniel Murdiyarso dan Direktur Hubungan Investor di Planet Tracker Matt McLuckie terkait tantangan dalam upaya konservasi bakau dan industri akuakultur

Salah satu ancaman terbesar adalah perluasan tambak untuk industri akuakultur. Sekitar 30 persen dari deforestasi yang terjadi pada hutan bakau dan perubahan tata guna lahan pesisir di Asia Tenggara dikaitkan dengan akuakultur, terutama kegiatan budidaya udang. Sebagai komoditas akuakultur peringkat teratas, industri udang diperkirakan akan terus berekspansi, menurut laporan yang diterbitkan oleh Planet Tracker.

Ironisnya, deforestasi juga dapat merusak pertumbuhan industri udang, yang menurut lembaga keuangan nirlaba bernilai $45 miliar secara global. Degradasi dan deforestasi pada ekosistem pesisir dapat membuat tambak udang menjadi lebih rentan terhadap kerusakan dan serangan penyakit, sehingga biaya operasional akan lebih tinggi dan margin keuntungan menjadi lebih rendah. Tanda-tanda positif muncul dari para investor yang peduli terhadap lingkungan, diikuti dengan semakin banyaknya negara dan perusahaan di sektor budidaya udang yang mulai mengadopsi kebijakan rantai nilai bebas deforestasi. Uni Eropa, importir udang terbesar dari Asia Tenggara, merupakan pembuat tren dari kebijakan ini. Tekanan dari investor juga merupakan kunci untuk mencapai praktik akuakultur yang lebih berkelanjutan dan bebas deforestasi, kata Matthew McLuckie, direktur Hubungan Investor di Planet Tracker.

Terdapat contoh-contoh positif yang menunjukkan bahwa perlindungan hutan bakau dapat menopang mata pencaharian lokal. Hutan bakau yang masih asli di Papua misalnya, menyediakan tempat berkembang biak yang sangat baik bagi kerang dan kepiting lumpur untuk menghasilkan banyak produk makanan laut berkualitas tinggi.

“Ini bisa menjadi kombinasi yang baik dari kegiatan konservasi dan mata pencaharian, tetapi kita perlu membantu menghubungkan komunitas ini dengan pasar, karena mereka berada di daerah yang sangat terpencil,” kata Murdiyarso.

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org