Video T&J

Lahan gambut untuk masa kini dan masa depan

Wawancara Kabar Hutan dengan peneliti CIFOR, Dede Rohadi, Herry Purnomo dan Himlal Baral.
Bagikan
0

Bacaan terkait

Lahan gambut semakin memainkan peran penting dalam konservasi hutan berkat kemampuan luar biasa dalam penyerapan karbon.

Pada bulan November, Kabar Hutan melaporkan tentang ‘rawa-rawa’ yang akhirnya mendapat sorotan dunia. International Tropical Peatlands Center (ITPC) yang baru didirikan dan akan memulai kegiatan di tahun 2019 akan mempertemukan para peneliti, pemerintah, masyarakat sipil dan pemangku kepentingan lain-lain guna memastikan konservasi dan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan di seluruh Asia Tenggara, Lembah Kongo dan Peru.

Kabar Hutan bertemu dengan tiga ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) – mitra koordinator ITPC dan pemerhati lahan gambut senior – untuk mencari tahu “mengapa lahan gambut, dan mengapa sekarang?”.

Jawaban telah ditulis dalam sic, dan perubahan kecil telah dibuat agar mudah dibaca.

Mengapa lahan gambut penting untuk biofuel dan bioenergi?

Himlal Baral: Lahan gambut menyediakan berbagai barang dan jasa ekosistem – misalnya, pengaturan iklim dan siklus air. Lahan gambut juga merupakan sumber keanekaragaman hayati hebat,  termasuk ekosistem di dalamnya – seperti kayu dan produk non-kayu, dan tentu saja bioenergi. Lahan gambut yang diproduksi biomassa dapat dikonversi menjadi produksi energi berkelanjutan. Itu sebabnya lahan gambut mendapat perhatian sebagai penyedia bioenergi.

Apa yang sedang Anda kerjakan sekarang?

HB: Kami tengah melakukan beberapa proyek yang berbeda satu sama lain – dan salah satu dari proyek tersebut adalah tentang potensi produksi bioenergi di berbagai bentang alam, termasuk lahan gambut. Kami meneliti bagaimana lahan gambut dapat dimanfaatkan untuk produksi biomassa berkelanjutan tanpa merusak sifat dan karakteristiknya. Teknik ini disebut paludikultur. Sistem ini melibatkan penanaman pohon atau cocok tanam pada lahan kondisi basah, hal ini merupakan contoh yang sangat baik untuk memanfaatkan lahan gambut. Kami sedang mengembangkan, menguji berbagai jenis pohon yang dapat menghasilkan bioenergi di lahan gambut.

Mengapa studi lahan gambut penting?

HB: Lahan gambut sangat penting bagi ekosistem. Lahan ini adalah rumah bagi spesies terancam punah, spesies langka, seperti orangutan. Lahan gambut merupakan penampung karbon yang besar dan menyediakan peluang mata pencaharian bagi jutaan orang yang tinggal di dan di sekitar lahan gambut. Jadi, lahan gambut tidak penting hanya untuk manusia, tetapi juga bagi alam.


Apa yang tengah Anda kerjakan saat ini?

Dede Rohadi: Dalam memimpin proyek ini saya bekerja sama dengan mitra lokal, dan fokus utama riset kami adalah memahami bagaimana masyarakat menggunakan dan mengelola lahan gambut. Kami mencoba mengidentifikasi opsi-opsi apa saja yang tersedia untuk mengembangkan mata pencaharian selain kelapa sawit, karena masalahnya adalah sepertinya kebanyakan penduduk tertarik dengan bisnis kelapa sawit, dan kami memahami ada banyak dampak negatif terhadap lingkungan karena ekspansi ini. Jadi, kami mencoba mengembangkan opsi apa saja yang lebih sesuai dengan strategi konservasi lahan gambut.

Apakah ada hubungan antara manusia dan lahan gambut?

DR: Saya pikir menarik untuk memahami perilaku orang-orang, terutama para petani yang tinggal di sekitar daerah tersebut. Misalnya, kita bisa mengerti mengapa orang tertarik untuk memperluas perkebunan kelapa sawit. Padahal sebelumnya mereka menggunakan lahan gambut untuk menanam padi, silvikultur, banyak buah-buahan di tanah mereka – tetapi tampaknya karena pasar, mereka beralih ke perkebunan kelapa sawit.

Selain itu beberapa penduduk menjual tanah mereka kepada orang lain untuk ekspansi kelapa sawit. Ada banyak industri di sana dan pasarnya bagus, jadi banyak yang tertarik karena ada jaminan tersedianya kepastian pendapatan dari kelapa sawit. Namun sebenarnya, ada banyak komoditas lain yang mungkin prospektif untuk dikembangkan. Tapi, ada beberapa pertanyaan. Misalnya, kita perlu menyediakan saluran pasar dan juga kita harus memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang cara menggunakan atau mengembangkan produk-produk alternatif ini. Itulah yang sedang dilakukan proyek saya.

Contoh ketersediaan alternatif?

DR: Misalnya, kita dapat mengembangkan opsi berbasis pertanian dan luar pertanian. Di berbasis pertanian, misalnya, beberapa komoditas seperti nanas. Nanas tumbuh dengan baik di lahan gambut dan lahan gambut tidak perlu dikeringkan. Bahkan sudah beberapa penduduk menanamnya, dan mereka memiliki pasar yang bagus. Tapi, pertanyaannya adalah jika lebih banyak orang bercocok tanam nanas, apakah ada ketersediaan pasar? Jika pasar jenuh dan memerlukan perkembangan – maka hal ini menjadi pertanyaan penting bagi kita. Contoh lain adalah tanaman kelapa. Di suatu desa, penduduk menanam kelapa dan sampai sekarang mereka masih menanam kelapa dan telah menjadi sumber mata pencaharian utama mereka. Dan juga pinang.

Kita juga bisa mengembangkan kegiatan di luar pertanian seperti lebah madu, karena orang-orang di daerah itu masih mengumpulkan madu liar. Ini adalah produk yang bagus, dan pasar ada di sana, tetapi mereka perlu meningkatkan akses ke pasar yang lebih luas. Mereka perlu meningkatkan, misalnya, kualitas madu dan cara juga tidak hanya mengumpulkan madu tetapi juga mengolah madu di kebun rumah. Karena ada beragam madu – dan kami dapat berbagi pengetahuan tentang hal ini dengan masyarakat.

Produk lain adalah ikan, misalnya. Banyak orang tinggal di sekitar sungai, yang memiliki potensi tinggi untuk industri ikan tawar. Sayangnya hal ini belum digunakan secara optimal – jadi kami berusaha memberi pengetahuan tentang teknologi cara mengolah ikan menjadi produk ikan sehingga dapat menambah nilai produk.

Mengapa Anda tertarik dengan kehutanan?

Herry Purnomo: Saya masuk ke bidang kehutanan terlebih dahulu, karena saya mencintai alam dan banyak hal yang berkaitan dengan alam yang ingin saya sumbangkan. Kedua, hutan dan kehutanan penting bagi kehidupan kita, bagi keberlanjutan planet bumi. Hutan berkontribusi pada perekonomian Indonesia. Misalnya, produksi kayu, serta jasa ekosistem seperti ekowisata, serta memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan penduduk setempat.

Bisakah Anda ceritakan tentang riset lahan gambut Anda?

HP: Sekarang saya sedang mengerjakan pencegahan kebakaran dan restorasi lahan gambut berbasis masyarakat di Riau. Kami menyebutnya ‘penelitian tindakan partisipatif’. Kami mencoba bekerja dengan masyarakat setempat untuk memahami perilaku lahan gambut, mengurangi bukti kebakaran, serta memulihkan lahan yang terdegradasi.

Jadi masyarakat bukan sekedar obyek dari riset, namun merupakan subyek memulihkan lahan gambut. Durasi proyek riset adalah 15 bulan dan akan sangat menarik memahami lahan gambut, serta mengetahui perubahan mata pencaharian lokal menjadi lebih ramah lahan gambut. Kami menggunakan teori perubahan untuk situasi saat ini – di mana orang cenderung menggunakan pertanian api unggun dan lahan gambut, untuk mengurangi api serta meningkatkan mata pencaharian masyarakat di sana. Kami didanai oleh Temasak dan Perusahaan Kerjasama Singapura dari Singapura.

Mengapa studi lahan gambut penting?

HP: Pertama, kebakaran pada tahun 2015 – yang merupakan suatu bencana karena menimbulkan banyak kabut asap bagi masyarakat Indonesia, Malaysia dan Singapura khususnya menderita dari pembakaran lahan gambut dan hutan.

Jadi sekarang kami mencoba melakukan penelitian dan penyelidikan sains untuk mencari tahu mata pencaharian berkelanjutan dengan tidak hanya melakukan investigasi, namun juga memberikan bukti dan suatu tindakan yang dapat dilakukan baik oleh masyarakat dan pemerintah – seperti pengelolaan lahan gambut tanpa kebakaran. Hal ini tidak mudah karena penggunaan api bagi masyarakat lokal adalah hal biasa, tetapi kami memberikan bukti bahwa masyarakat dapat memperoleh manfaat dengan tidak menggunakan api, tetapi pertanian yang lebih berkelanjutan. Kami percaya bahwa pengelolaan lahan gambut yang baik akan terjadi di Riau dengan cara ini.

Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri, yang didukung pendanaan dari donor CGIAR.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Topik :   Lahan Gambut

Lebih lanjut Lahan Gambut

Lihat semua